Gagasan

Ngaji Qonun Asasi NU #6: Pertolongan Allah Menyertai Jamaah

PERADABAN.ID – Sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan Nahdliyin tentang pentingnya jamaah yang tertuang dalam Hadis Nabi Saw, yadullahi ma’al jama’ati, pertolongan Allah senantiasa bersama jamaah.

Maka, lanjutan hadis tersebut, ketika seorang melepaskan diri atau tercecer dari jamaah, setan akan menerkam sebagaimana serigala menerkam kambing yang tercecer dari gerombolannya. (Imam Suyuti; Kitab Jami’ul Ahaadits)

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari memberikan uraian menarik tentang pentingnya berjamaah. Sembari mengutip sebuah syair, Hadratussyaikh membuat analogi jamaah seperti mekanisme sebuah tubuh.

Sesungguhnya satu umat bagai jasad yang satu, individu-individu ibarat anggota-anggota tubuhnya, setiap anggota punya tugas dan perannya, jangan kau anggap tubuh tidak membutuhkannya

Baca Juga Ngaji Qonun Asasi #5: Rahmah itu Aspirasi Tertinggi Seorang Mukmin

Analogi tubuh yang dengan begitu ajakan berserikat, kemudian dikemas secara lebih titis oleh KH Wahab Hasbullah melalui manifest “Syirkatul Inan Murabathah Nahdlatut Tujjar” pada akhir bulan Rajab 1336 H, yang bertujuan untuk memperbaiki ekonomi warga kecil di masa Hindia-belanda.

Pada waktu itu, Kiai Wahab melihat potensi pemekaran agenda di tengah kegundahan yang dirasakan warga Nahdlatul Ulama, yaitu; banyak kiai bersikap tajarud, para guru enggan bersentuhan dengan umat dan gelap mata pada pembaruan khazanah pengetahuan.

Mulai dari gerakan keislaman Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Tanah Air), organisasi intelektual (Tashwirul Afkar, 1918) hingga kemandirian organisasi, Nahdlatut Tujjar (1918) berlanjut komite diplomasi keagamaan, Komite Hijaz (1926) yang beriringan dengan berdirinya Nahdlatul Ulama.

Pola pemekaran agenda guna menyeru umat berserikat yang dikelola secara apik oleh Hadratussyaikh dan Kiai Wahab seratus enam tahun yang lalu itu, semacam mengamini sosiolog awal German Ferdinand Tonnies yang menyebut bahwa masyarakat modern tumpuhan kegiatannya berpijak pada lembaga (gesellschaft) dan bukan pada individu atau perorangan (gemeinschaft) tiga puluh satu tahun sebelumnya.

Baca Juga Ngaji Qonun Asasi NU #4: Kesabaran dalam Disiplin Barisan

Kiai Wahab Hasbullah, seorang ulama besar yang bersahaja, murid kesayangan Hadratussyaikh, eksekutor dari ide-ide dan gagasan Hadratussyaikh itu memperkuat dalil berjamaah dengan ungkapan; “tidak ada senjata yang lebih tajam dan lebih sempurna lagi selain persatuan”.

Maka sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap manusia pasti memiliki kebutuhan untuk berkumpul dan bergumul satu sama lain. Karena setiap individu tidak bisa mungkin menjadi mandiri dengan seluruh kebutuhannya.

Maka, individu membutuhkan dengan hukum niscaya kepada perkumpulan yang membawa kepada kelompok yang baik, dan menolak kejelekan dan kerugian. Dalam pengertian, setiap individu selalu membutuhkan perkumpulan, yang menghadirkan kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.

Rasulullah Muhammad Saw juga menumbuhkan sebuah konsep persatuan melalui jalinan persahabatan, yaitu sirkel pertemanan terdekat beliau dalam membangun perkumpulan, bermusyawarah dan merundingkan suatu perkara tertentu.

Manfaat persatuan memiliki keutamaan yang paling agung, sebab-sebab yang paling nyata kelihatan dan sarana-sarana yang paling kelihatan yaitu untuk kejayaan dan kemajuan.

Banyak kisah yang meneladani pentingnya sebuah persatuan, seperti kisah tentang Spartakus, budak gladiator yang menggalang persatuan kemudian menjadi raja.

Baca Juga Ngaji Qonun Asasi NU #3: Setara dalam Pergaulan Kemanusiaan dan Pentingnya Ilmu

Dalam Islam ada Dinasti Mamluk, mantan budak. Dinasti Abbasiyah itu ada orang keturunan Turki yang direkrut untuk menjadi tentara, setelah selesai tugas mereka yang sudah menjadi Jenderal kemudian berkoloni dan mendirikan sebuah dinasti.

Begitu pula dengan kisah Iskandar Zulkarnain yang termaktub dalam Kitabullah. Iskandar merupakan pemimpin dari Macedonia, Yunani yang dengan segala kekuatan dan usahanya mampu menguasai separuh wilayah dunia sampai India Barat.

Dari sini, Gus Yahya meyakini disetiap perkumpulan, ketika ada satu agenda semua bersatu, sepakat mengerjakan agenda tersebut, akan ada saja sebab yang memudahkan kesuksesan agenda tersebut.  

Karena di antara perantara tumbuhnya rasa bahagia salah satunya melalui persatuan. Sekali lagi, jamaah ibarat sebuah badan, ketika mengeluh salah satu anggota badan, maka keseluruhan tubuh akan sakit.  

*Naskah ini merupakan saduran dari pengajian Kitab Qonun Asasi NU yang diampu oleh Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf selama bulan Ramadan.

Afrizal QosimAlumni PP Qomaruddin Bungah Gresik, Pimred Peradaban.id

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button