Opini

Gus Yahya Garis Panggung Narasi: Kramat Raya – Malang

Di sanalah, frasa yang kerap diucapkannya, “Saya kan Ketua Umum,” menemukan bentuknya yang paling konkret: bukan klaim, tapi pengamalan; bukan pembelaan, tapi penegasan.

PERADABAN.ID – Kira-kira selepas Maghrib setelah gelap merayap, Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, menjadi lebih dari sekadar tempat transit. Ia berubah menjadi sebuah panggung statement.

Di tengah gemuruh politik nasional dan desas-desus yang mengiringi perhelatan Harlah Satu Abad NU, langkah mantap Gus Yahya menyambut kedatangan Presiden bukanlah gambar biasa. Itu adalah sebuah kalimat lengkap yang diucapkan dengan seluruh tubuh dan kewibawaan.

Sebuah deklarasi visual yang melampaui semua kata. Di sanalah, frasa yang kerap diucapkannya, “Saya kan Ketua Umum,” menemukan bentuknya yang paling konkret: bukan klaim, tapi pengamalan; bukan pembelaan, tapi penegasan.

Ada yang membaca momen ini dengan kacamata transaksi, seolah-olah yang sedang terjadi adalah tawar-menawar kekuatan. Mereka lupa, atau sengaja tidak mau mengakui, atau bahkan tidak pernah baca Qonun Asasi Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari juga kontatitusi PBNU, bahwa bagi seorang Ketua Umum PBNU, memainkan peran di panggung kenegaraan adalah bagian dari khidmah-nya yang paling natural.

Ini bukan soal memenuhi undangan atau tidak diundang seperti kalimat template yang dilontarkan oleh jamaah “nyinyiriah wa bazeriyah fil medosiyah”; ini tentang memenuhi panggilan jabatan dan otoritas administratif organisasi.

Baa juga: Trans7 Membanting Adab Demi Rating

Ketika Gus Yahya berdiri gagah di ujung sebalah karpet merah, yang ia bawa bukanlah kalkulasi politik sempit, melainkan mandat satu abad Nahdlatul Ulama dari muktamirin. Ia hadir bukan karena diminta, tapi karena memang itulah tempatnya. “Saya kan Ketua Umum” yang berarti kesadaran penuh untuk berada di garda terdepan mewakili jam’iyah, dalam suka dan dalam segala dinamikanya.

Dinamika internal itu sendiri adalah warna, bukan lukisan yang tidak bergaris lurus dan linear. Ada yang menggelar Harlah NU dengan caranya, dan itu sah adanya. Keberagaman ekspresi itu adalah napas organisasi sebesar NU.

Namun, di tengah keberagaman itu, harus ada satu suara yang menjadi poros, satu titik pandang yang mewakili kelembagaan secara resmi. Gus Yahya, dengan sikapnya yang tak ragu, memilih untuk menjadi poros itu.

Kehadirannya di Malang adalah penegasan bahwa di atas semua keragaman aktivitas, ada satu otoritas yang tetap menjalankan peran konstitusionalnya: memimpin, mewakili, dan berdialog dengan siapa pun untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

Ini adalah pelajaran tentang hierarki yang sehat dan otoritas yang bekerja. Bukan menciptakan polarisasi dan apalagi membuat jurang dalam satu luka yang pernah menganga di dalamnya.

Karena itu, kegagahan yang ditampilkan adalah kegagahan seorang nahkoda yang mengenal lautnya. Ia tidak terombang-ambing oleh ombak komentar dari pinggir pantai.

Bisik-bisik “tidak diundang” atau “numpang” hanya relevan bagi mereka yang memandang kepemimpinan sebagai serangkaian izin dan restu dari luar gelanggang, bahkan warga juga bukan.

Bagi seorang Ketua Umum yang menyadari sumber otoritasnya dari mandat organisasi dan keberlangsungan sejarah, yang ada hanyalah inisiatif dan tanggung jawab. Menyambut presiden adalah bagian dari tanggung jawab itu, sebuah langkah strategis untuk memastikan suara NU tetap hadir dan didengar di ruang-ruang strategis kebangsaan. Ini bukan politik pencitraan, melainkan politik kehadiran yang esensial.

Maka, pesannya kepada kita yang berada di barisan konstitusional pun menjadi jelas: jangan pernah minder. Rasa minder hanya muncul jika kita memandang diri kita sebagai pihak yang “diminta” atau “diberi ruang”. Padahal, sejatinya, kita adalah pemilik sah dari ruang kebangsaan itu sendiri.

Ketika Gus Yahya menyambut dengan penuh wibawa, ia sedang mengingatkan kita semua tentang martabat kolektif yang kita pikul. Ini bukan babak kalah-menang dalam permainan kecil, tapi bagian dari perjalanan panjang menjaga relevansi. Kita tidak perlu meminta kursi, karena kita memang telah duduk di kursi kita sendiri.

Baca juga: Gus Yaqut dan Narasi Kolektif Manusia Modern

Akhirnya, apa yang terjadi di Malang adalah sebuah masterclass kepemimpinan paripurna. Gus Yahya mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada keyakinan akan peran dan posisi sendiri. “Saya kan Ketua Umum” adalah mantra yang mengubah keraguan menjadi kepastian, desas-desus menjadi fakta, dan dinamika menjadi kekuatan.

Esensinya bukan pada siapa yang ditemui, tetapi pada bagaimana ia, sebagai puncak piramida keorganisasian NU, memilih untuk bertindak: dengan penuh kepercayaan diri, ketenangan, dan kewibawaan yang lahir dari kesadaran sejarah yang dalam.

Inilah NU yang matang: tidak lagi sibuk membuktikan eksistensinya pada dunia luar, tetapi dengan tenang dan gagah mengaktualisasikan perannya di pentas mana pun ia berdiri, karena ia tahu persis siapa dirinya.

Ahmad TaufiqSantri Dusun

Related Articles

Back to top button