Berita

Isi Kuliah Umum Kebangsaan di Unmul, Ketum Ansor Singgung Keberanian dan Efek Kesejahteraan IKN

PERADABAN.ID – Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Addin Jauharuddin mengisi Kuliah Umum Kebangsaan di Universitas Mulawarman. Dalam paparannya, Bang Addin menyinggung keberanian, kesinambungan dan efek keadilan dalam pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur.

“Kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah transisi besar terjadi di Indonesia yakni pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Ini tentu bukan pekerjaan ringan, ini hanya mampu diputuskan pemimpin pemberani,” kata Bang Addin di Aula Rektorat Unmul, Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (26/9).

“Karena kita juga yakin bahwa untuk memindahkan Ibu Kota yang besar dan strategis ini beberapa kali gagal baru di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi berhasil. Dan mudah-mudahan ke depan pemindahan Ibu Kota ini memberikan efek yang dahsyat bagi kewibawaan, kekuatan, kemakmuran, untuk kesejahteran bangsa dan negara ini,” lanjutnya.

Baca juga:

Bang Addin mengingat bahwa Kalimanta Timur mempunyai sejarah panjang dalam kaitannya dengan peradaban Nusantara. Ia menyebut leluhur bangsa lahir dari Kalimantan Timur yang ditandai dengan Kerajaan tertua Kutai Kertanegara.

Keteladanan kepemimpinan inilah yang menyemai dalam setiap proses transisi kepemimpinan Indonesia. proses yang tidak hanya berkaitan dengan pergantian orang, tapi estafet kesinambungan sebelum dan sesudahnya.

“Jadi bicara soal kepemimpinan di Indonesia bukan bicara orang per orang tapi bicara soal sebuah estafet yang saling berkesinambungan antar satu pemimpin dengan pemimpin yang lain,” ujarnya.

Maka menjelang pada pergantian pemimpin negara, Bang Addin, menganalogikan masing-masing pemimpin dengan batang tubuh yang mempunyai peran strtegis masing-masing.

“Semua saling menyambung antara kepala dengan kaki. Apa yang dibangun presiden kita pertama, bapak Ir. Soekarno yang dibangun adalah isi kepala, penguatan ideologi, nasionalisme, penguatan alam pikir tentang ke Indonesiaan dan kebangsaan. Lahirlah kemudian nasionalisme Indonesia,” ulas Bang Addin.

Lalu setelah isi kepala dibangun, lanjutnya, yang dibangun presiden selanjutnya, bapak Soeharto membangun paham pembangunan, yang mengandalkan pada stabilitas sosial ekonomi. Maka yang dibangun adalah isi perut.

“Setelah pak Harto membangun ekonomi, lalu kita masuk pada transisi reformasi, yaitu Presiden alm. Gus Dur, alm. BJ. Habibie, Ibu Megawati, dan pak SBY itulah satu siklus kepemimpinan nasional yang dibangun adalah hati, yakni demokrasi di Indonesia. Setelah itu era pak Jokowi membangun alas kaki, yakni infrastruktur. Maka dibangunlah jalan tol, pelabuhan, bandara sehingga tersambung kita dari satu tempat ke tempat lain. Itulah yang dibangun presiden Jokowi,” imbuhnya

“Maka kemudian kalau isi kepala udah dibangun, perut dibangun, hati diperkuat, alas kaki diperkuat tinggal lari untuk menjadi sumber daya unggul pada periode presiden Prabowo,” lanjut Addin.

Kesinambungan di atas menurut Bang Addin, merupakan anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia. Bang Addin menegaskan bahwa pemuda adalah pemegang setafet selanjutnya.

“Itulah anugerah yang diberikan bangsa Indonesia karena kepemimpinan estafet yang tersambung. Maka kita sebagai anak-anak bangsa yang akan menjadi estafet kepemimpinan selanjutnya harus percaya diri, kita mampu dan bisa menjadi pemimpin di kemudian hari,” pungkasnya.

Related Articles

Back to top button