Nahdlatul Ulama dan Perubahannya (I)

Boleh jadi (pengurus) NU pernah “mengipas” terjadinya kemelut atas ormas lain, atau (pengurus) NU pernah mengambil keputusan “membias” dari yang diputuskan muktamarnya. Banyak “atau” yang bisa dikemukakan.
PERADABAN.ID – Kalau mau dicari penyebab dan biang kerok kesalahan sehingga terjadi apa yang disebut “kemelut” dalam Nahdlatul Ulama (NU), apalagi penyebab itu dari “sesuatu” yang tidak kasat mata, bisa banyak sekali.
Boleh jadi (pengurus) NU pernah “mengipas” terjadinya kemelut atas ormas lain, atau (pengurus) NU pernah mengambil keputusan “membias” dari yang diputuskan muktamarnya. Banyak “atau” yang bisa dikemukakan.
Atau (pengurus) NU ada yang dengan sengaja “mempersetankan” sampai dengan melecehkan perilaku dan sikap yang seharusnya bagi penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah, atau (muktamar) NU dalam hal mendudukkan personil dalam struktur (tausidal tertentu) tidak proporsional (dalam artinya yang luas). Atau keberadaan (pengurus) NU sudah meninggalkan tugas pokok “amar ma’ruf nahi munkar”.
Baca juga: Berkah Tambang yang Menjadi Laknat di Rumah Besar NU
Atau (pengurus) NU terkesima oleh gebyar (entah apa?) sehingga mengesampingkan dan melupakan sabda Nabi: “Addinun mashihah, lillahi wa li rasulihi wa li a’immatil muslimina wa ammatihin (Agama adalah kesetiaan kepada Allah, utusan-Nya, pemimpin-pemimpin, dan orang muslim).
Sabda beliau Saw masih dan akan terus berlaku sepanjang masih ada yang mengaku “umat Muhammad”. Atau (pengurus) NU telah menjadikan “wadah”-nya sebagai lahan mendapatkan malan au jahan au syuhratan (harta jabatan atau popularitas). Atau barangkali Nahdlatul Ulama mulai melupakan kepribadian dan kediriannya.
Masih banyak penyebab tidak kasat mata itu. Dan bagi kultur NU, justru yang tidak kasat mata itulah, yang utama yang harus mendapatkan perhatian.
Pasalnya, karena NU tidak terlanjur dilahirkan “putih”, jika terkena sedikit noda hitam seupil saja, akan kelihatan “ternoda”.
Baca juga: Konangan
Sementara rekan kiai ada yang bilang barangkali NU (baca: pengurus NU) ikut terkena dan kemasukan visu “asyaratis sa’ah”, tanda-tanda kiamata yaitu antara lain:
- Menyikapi “sesuatu” tidak selayaknya. Menyikapi sesuatu tidak seperti seharusnya sesuatu itu disikapi. Misalnya menyikapi tetangga seperti selayaknya musuh. Menyikapi saudara seperti seperti orang asing. Menyikapi gurunya seperti kalau berhadapan dengan kawan becanda. Menyikapi kiai seperti menyikapi santri. Menyikapi rakyat seperti menyikap kuli, menghadapi kacang seperti menghadapi batukoral. Menyikapi nahdliyin seperti menyikapi orang yang bukan warga NU. Dan seterusnya.
- Hanya melihat dirinya. Tanpa adanya kilas yang sebenarnya, “saudara” yang satu “wedal” dengannya itu adalah pantulan cermin dirinya. Ai-muslimu miratu akhihi, penampilan, orang Muslim itu adalah cerminan saudaranya. Bahwa sesuatu yang dilempar itu akan memantul kepadanya. Man ‘ayyara akhahu, lam yamut hatta yaf’alah (Barangsiapa mencela perbuatan saudaranya, dia tidak akan mati sebelum melakukan atau mendapatkan yang sama).
- Kecenderungan mencari pembenaran atas sikap dan tindakannya sendiri tanpa ada upaya untuk “mendunungkan” saudaranya yang memang belum memahami sikap dan tindakannya itu. Dengan kata lain, yang penting “Aku jalan terus”. Biarkan anjing menggonggong, kafilah terus berlalu. Padahal yang ditinggal itu bukan anjing: dia adalah juga bersama-sama menumpang dalam perahu yang sama.
- Wahan. Yaitu: Hubbud dun-ya wa karahiyatul maut, mencintai dunia dan takut mati, yang oleh Kanjeng Rasul digambarkan sebagai yang menyebabkan “kebesaran” kuantitas bukan jaminan bisa selamat dari kelemahan mendasar. Sehingga, membuat “pihak lain” gamang untuk (berusaha) mempermainkannya. Atau balikan menjungjungnya. Kebesaran yang rentan dan rapuh. Sampai-sampai yang dianggap paragonnya NU pun kehilangan keberanian untuk menyapa ikhtiar perukunan. Lantas, ketegaran KH. Abdul Wahab Hasbulloh, KH. Bisri Sansuri, KH Ashnawi, KH. Ali Ma’shum, dan sebagainya hanyalah kenangan yang mati dan impoten.
Oleh: KH. M. Cholil Bisri
*disaripati dari buku Ketika Nurani Bicara



