Berita

Gawagis Magetan Serukan Islah PBNU, Tegaskan NU Rumah Besar Kami

PERADABAN.ID – Dinamika internal yang memicu kekhawatiran terkait keretakan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menggerakkan para gawagis (putra kiai) dan kiai kampung di Kabupaten Magetan untuk berkumpul dan menyerukan perdamaian.

Dalam pertemuan Komunitas K-Mebul (Marek Bareng Ulama) yang berlangsung penuh keheningan pada Jumat, 28 November 2025, mereka menyampaikan satu pesan tunggal: NU jangan retak, Kami ingin islah.

Pertemuan ini diselenggarakan sebagai respons atas kabar keretakan yang terjadi di PBNU, di mana konflik antara kubu yang mewakili Rais Aam dan kubu Ketua Umum telah memicu dinamika keras.

Baca Juga Rotasi PBNU, Saifullah Yusuf Tidak Lagi Menjabat Sekjen!

Koordinator gawagis Magetan, Gus Toev, yang juga merupakan Pengasuh Pesantren Unggulan An Najah Darul Ulum Poncol, menyampaikan keprihatinan mendalam.

“Kami para pengasuh di pelosok, sungguh sangat prihatin,” ujar Gus Toev. Ia menegaskan keyakinannya bahwa para masyayikh di PBNU akan mengedepankan islah, karena “NU bukan milik kursi dan jabatan, NU adalah rumah kami. Tempat kami berteduh dari dulu hingga mati”.

Kekhawatiran Kehilangan “Rumah Besar”

K-Mebul menyadari bahwa mereka bukanlah tokoh besar, melainkan kiai kampung yang kesehariannya mengajar mengaji anak-anak dan menyalakan lampu pesantren. Namun, dari tempat yang sederhana inilah lahir suara paling jujur yang menuntut soliditas organisasi.

Baca Juga Desakan Islah PWNU untuk Meredakan Konflik Internal PBNU

Para gawagis dan kiai kampung Magetan tidak meminta jabatan atau mencari sorotan kamera, tetapi mereka menuntut satu hal: NU tetap satu. Mereka khawatir jika NU retak, dampaknya akan terasa hingga ke mimbar kecil mushola desa, suara ngaji subuh yang membangunkan kampung, dan masa depan ribuan santri kecil.

PBNU Adalah Pesantren Besar

Gus Toev menyebut PBNU adalah pesantren besar. Harapan kuat tumbuh dalam pertemuan tersebut agar para masyayikh lebih ingin merangkul daripada menjauh.

“Kami menunggu kabar islah, dan kami siap patuh,” tegas Gus Toev, menambahkan bahwa mereka ingin pulang membawa berita baik untuk para santri.

Baca Juga Dari Penatu di Kairo sampai Podium di Yerusalem

Seruan untuk islah ini sejalan dengan desakan yang sebelumnya juga disampaikan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai daerah, termasuk DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah, yang meminta penyelesaian perbedaan pandangan melalui mekanisme organisasi, musyawarah, tabayyun, dan upaya islah untuk menjaga marwah Nahdlatul Ulama. PWNU Magetan sendiri memiliki kepengurusan masa khidmat 2023–2028 yang disahkan berdasarkan SK PBNU.

Di tengah dinamika yang dipenuhi perselisihan internal—yang seharusnya diselesaikan secara internal—semangat islah dari kader di tingkat akar rumput ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk menjaga keutuhan organisasi. Para kiai kampung ini mengirimkan pesan senyap bahwa “Jika langit gelap, mari kita tetap menyalakan lilin”.

Related Articles

Back to top button