AISNU Berharap PBNU Kembali ke Agenda Keumatan, Bukan Ajang Berebut Kekuasaan

PERADABAN.ID — Koordinator Nasional AISNU, Ulinuha Lazulfa, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dinamika internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menurutnya mulai bergeser dari ruang keumatan menuju kepentingan kekuasaan.
“Melihat penyambung wahyu dan ilmu (ulama) mengubah perenungan jadi kalkulasi kekuasaan, memoles diskusi jadi soal kursi dan posisi,” kata Ulinnuha Lazulfa di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa AISNU memilih menepi dan menundukkan kepala karena suasana intelektual yang biasanya hangat justru berubah menjadi arena perebutan pengaruh yang tidak mencerminkan nilai keulamaan.
Ruang-ruang yang seharusnya menjadi tempat merawat kemaslahatan publik, menurutnya, kini terjebak dalam tarik-menarik politik sehingga mengaburkan orientasi besar organisasi terhadap kepentingan umat.
“Kapal yang biasanya menebar benih kebaikan, harus disibukkan oleh agenda ‘pemakzulan’,” ujar Ulin.
Ulin menuturkan bahwa warga Nahdliyin sangat merindukan sosok ulama yang teduh, berakar kuat pada keilmuan, dan menghadirkan ketenangan, bukan justru memperkeruh situasi internal organisasi.
Baca juga:
- Gawagis Magetan Serukan Islah PBNU, Tegaskan NU Rumah Besar Kami
- Berkah Tambang yang Menjadi Laknat di Rumah Besar NU
Ia menegaskan bahwa konflik seperti ini bukan hal baru bagi NU yang telah berusia satu abad, namun seharusnya dapat menjadi pelajaran penting memperkuat kemandirian organisasi.
“Doa baiknya semoga angin ribut ini hadir untuk memulai babak tertentu, menjemput abad kedua Nahdlatul Ulama dengan lebih kuat dan bermartabat,” kata Ulin.
Ulin berharap dinamika ini dapat menjadi momentum untuk menyambung kembali tali silaturahmi antarelemen organisasi dan memperkuat mekanisme kerja yang selama ini menjadi fondasi NU.
Ia menekankan perlunya mengembalikan arah gerak organisasi kepada agenda keumatan dengan menata kembali ruang dialog, memperluas partisipasi, dan memastikan proses pengambilan keputusan berjalan transparan.
“Layarnya menangkap energi baik untuk membuka ruang temu dan diskusi, tentu saja agar kemudi organisasi kembali pada agenda keumatan bukan kekuasaan,” ucapnya.
Ia kemudian menyerukan pentingnya menjaga persatuan internal serta memperkuat kohesi warga Nahdliyin dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan kebangsaan ke depan.
“NU adalah rumah besar kita bersama. Mari kita jaga, mari kita perkuat ukhuwah an-Nahdliyyah,” tutupnya.



