Dari Penatu di Kairo sampai Podium di Yerusalem

Di Mesir, ketika bekerja di sebuah penatu dekat Tahrir Square, beliau berteman dengan seorang Yahudi yang rendah hati dan hangat.
PERADABAN.ID – Suasana keruh yang membadai di teras PBNU, tak semestinya menyapih peran PBNU dan keberpihakannya terhadap Palestina yang, telah membenih bahkan sejak Nahdlatul Ulama berdiri.
Sangat disayangkan, kalau kekeruhan ini dimanfaatkan guna mengeruk obligasi yang dengan begitu melakukan judging, memutus peran, hanya karena tumpukan headline yang menyudutkan peran organisasi Islam terbesar di dunia tersebut akan perhatiannya terhadap kemerdekaan Palestina.
Tentu, narasi tunggal semacam itu mengabaikan sejarah panjang upaya diplomatik yang sudah dilakukan sejak era Gus Dur hingga KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) per hari ini.
Pada 2018, Gus Yahya menerima undangan dari pemerintah Israel, terutama AJC (American Jewish Committee) yang saat itu tengah memperingati satu abad berdirinya organisasi tersebut. Undangan ini bukan hal yang muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari jejak panjang yang dibangun Gus Dur dalam menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Baca Juga Keluarga Global
Mengapa Gus Dur Membuka Jalur Diplomasi dengan Israel?
Pertama, karena kepentingan jaringan global yang berkaitan dengan perdagangan, sesuatu yang dipahami Gus Dur sebagai kebutuhan negara besar seperti Indonesia.
Kedua, misi perdamaian, upaya menjembatani hubungan dan mengubah cara negara Israel memandang bangsa Muslim. Diplomasi, bagi Gus Dur, bukan pengkhianatan; ia adalah usaha membuka ruang kemanusiaan, bahkan ketika ruang itu sempit.
Jika mundur lebih jauh, pandangan Gus Dur terhadap umat Yahudi telah cukup lama terancang dalam perabotan ingatan Gus Dur.
Baca Juga Menjadi NU Pasca 1984
Di Mesir, ketika bekerja di sebuah penatu dekat Tahrir Square, beliau berteman dengan seorang Yahudi yang rendah hati dan hangat. Kenangan itu menjadi salah satu fondasi cara berpikirnya bahwa manusia, apa pun agamanya, selalu lebih besar dari prasangka.
Atas ingatan perabotan tersebut, berikut peran-peran konkret yang menyertainya, Gus Dur menerima berbagai penghargaan kemanusiaan, termasuk gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Netanya, Israel pada tahun 2003.
Konsistensi yang Tak Terputus
Jejak itu kemudian diteruskan oleh Gus Yahya. Ketika diundang ke Israel, ia datang menolak menjadi perwakilan sebuah negara, tetapi sebagai representasi umat Muslim dunia, di saat negara-negara Arab tengah kukuh memusuhi Israel karena sentimen agama.
Di forum itu, ia menegaskan pentingnya menghentikan perang tanpa menyeret umat Islam pada kebencian terhadap agama tertentu, terutama mengingat mayoritas Muslim Indonesia tidak memiliki kedekatan sosial dengan komunitas Yahudi.
Selain berdialog, Gus Yahya menyampaikan keynote speech yang menekankan nilai rahmah, gagasan mengenai persamaan hak dan martabat manusia. Gagasannya adalah mengembalikan konflik ini pada akar kemanusiaannya, bukan menjebaknya dalam polarisasi agama.
Baca Juga Tech Boom di Tubuh NU!
Di samping itu, di era kepemimpinan Gus Yahya, PBNU juga konsisten memperlihatkan keberpihakannya terhadap Palestina, salah satunya melalui forum ISORA (International Summit of Religious Authority)yang menghadirkan Zuhair Al Shun, Duta Besar Palestina untuk Indonesia (21/11/2023).
Di ruang ISORA, PBNU menegaskan posisi diplomatiknya dengan secara tegas menolak kekerasan, menegakkan martabat manusia, dan memperjuangkan Palestina melalui jalur-jalur yang konstruktif.
Di lain kesempatan, saya pernah mewawancarai seorang Yahudi kelahiran Palestina yang kini tinggal di Argentina. Ia mengakui bahwa problem di Gaza tidak melulu soal agama melainkan politik, perebutan wilayah, identitas, dan dinamika regional yang rumit. Perspektif ini penting untuk memahami bahwa diplomasi tidak berjalan pada garis hitam-putih.
Baca Juga Gus Yahya, Diplomasi Rokok dan Perubahan Paradigma
Alkisah, pernah suatu ketika, Gus Yahya bahkan menelepon Benjamin Netanyahu dan memarahinya terkait konflik yang terus berulang. Tetapi, seperti yang kita tahu, pemerintah Israel telah lama menutup telinga terhadap tekanan politik global. Perang tetap berlangsung.
Komitmen NU di Panggung Global
Sementara itu, PBNU juga memperkuat hubungan diplomatik dengan Mesir. Salah satu jalurnya adalah penyaluran dana bantuan untuk Palestina melalui lembaga ZISWAF di Mesir (28/1/2024). Secara geografis, Mesir adalah tetangga terdekat Palestina, tetapi secara politik sering tampak pasif. Di titik inilah PBNU berusaha mendorong Mesir agar lebih tegas dalam sikap dan aksinya.
Upaya-upaya tersebut tentu tidak berhenti di sana. Ada banyak kerja diplomatik lain yang dilakukan PBNU dalam merespons konflik Israel–Palestina, baik di level komunikasi politik, kemanusiaan, maupun jaringan internasional sampai sekarang.
Bahkan, dari setumpuk peran-peran tersebut, dalam konteks penghormatan, Penasihat Presiden Palestina, Mahmoud Abbas saat kunjungannya ke Indonesia (8/8/2024) memberikan dua gelar simbolik yang menunjukkan apresiasi Palestina terhadap dukungan Indonesia, yaitu Gus Yahya sebagai Abu Falistin (Bapak Orang Palestina) dan Menlu Retno Marsudi sebagai Ummu Falistin (Ibu Orang Palestina).
Baca Juga Gus Yahya, Selera Musik dan Lelucon Perihal Jazz
Julukan ini menandai pengakuan atas keberpihakan yang konsisten, kerja diplomasi yang tidak selalu terlihat di permukaan, dan perjuangan panjang yang tidak bisa diukur hanya dengan satu headline yang menyesatkan.
Terkait dengan Peter Berkowitz, Gus Yahya telah melakukan tabayun dan meski persoalan itu terlalu renyah untuk direproduksi sebagai upaya menyudutkan Gus Yahya, saya kira, justru itu hal yang keliru untuk menghapus strategi conformist yang dipakai 500 Tokoh Muslim berpengaruh di dunia itu dalam mendekati pihak yang berseteru (Israel-Palestina).
Konflik Palestina–Israel selalu lebih kompleks dari apa yang tampak. Dan upaya PBNU, baik melalui Gus Dur, Gus Yahya, maupun jejaring internasionalnya, adalah bagian dari ikhtiar panjang untuk memastikan bahwa diplomasi Indonesia tetap berpihak pada kemanusiaan dan memenangkan kemanusiaan. Istaqīm kamā umirt.



