Opini

Nahdlatul Ulama dan Perubahannya (II)

Rasanya orang NU harus lebih mencerna kembali pameo Taqdimul Aqdam, mendahulukan yang harus didahulukan untuk kemudian mengumandangkan segala jenis ukhuwwah.

PERADABAN.ID – Mungkin catatan Saya tentang ikhtiar sungguh-sungguh dan tidak henti-hentinya dari KH. Bisri Mustofa dan KH. Abdullah Hafidh mengishlahkan (mendamaikan) Hasan Bisri dan Masykur Diojo Sasmito, masing-masing sebagai sekretaris dan Ketua Tanfidziyah PCNU Rembang, yang bertikai masalah BPH dan kemudian pinan DPRD II, bukan lagi merupakan kisah menarik di kekinian. Cara beliau-beliau itu sederhana saja. Kiai Bisri dan Kiai Hafidh mengundang yang sedang bertikai (bersama dengan pengurus lain dan para kiai) berkumpul di rumah kiai Bisri untuk menyantap “liwetan” santri yang di-“keduk” di atas tabsi (dulang) secara “kembulan” sambil bercanda dan berbincang tanpa juntrung. Sesekali Kiai Hafidh dan Kiai Bisri memindah pelukan Masykur ke bagian pelukan Hasan dan sebaliknya.

Baca juga: Nahdlatul Ulama dan Perubahannya (I)

Masih tentang ikhtiar KH. Bisri yang kali ini dengan KH. Abdul Jalil Kudus terhadap saling-silangnya emosi antara Masyhud dan Imam Sofwan di PWNU, dengan cara yang kurang lebih sama dengan penyelesaian di PCNU Rembang. Demikian pula yang dilakukan pada kiai mendapat kehormatan berada pada jajaran struktural PBNU, bekerja sama dengan kiai lain dalam meredam “kemelut” antara Idham Chalid dan Subhan ZE kala itu.

“Orang” NU sekarang boleh bengong keheranan membaca catatan Saya atau catatan pak Kiai Achmad Sjaichu (Almagfur lahu) atas mudahnya “orang” NU dahulu merambah jalan damai dan melupakan “ketidaksesuaian) antar mereka. Tetapi yang demikian itu tentu akan gampang dimengerti oleh mereka yang menghargai “Ukhuwwah Nahdliyyah”, persaudaraan berdasarkan sesama NU. Menghargai dan menjunjung tinggi, menghargai dan mengamalkan dalam penghayatan sebenarnya. Menghargai dan menghayati dalam pengamalan yang ikhlas menghargai dan menikmati.

Baca juga: Konangan

Orang NU yang telah mampu dan mereguk puas-puas kenikmatan manisnya dalam “Ukhuwwah Nahdliyyah”, akan merindukan kenikmatan Ukhuwwah Wathaniyyah  dan Ukhuwwah Basyariyah. Rasanya orang NU harus lebih mencerna kembali pameo Taqdimul Aqdam, mendahulukan yang harus didahulukan untuk kemudian mengumandangkan segala jenis ukhuwwah. Dan al-aqdam, yang harus didahulukan itu adalah Ukhuwwah Nahdliyyah sebagai landasan berkibarnya segala jenis ukhuwwah tersebut.

Tidak harus disalahkan manakala ada orang yang merasa kikuk dan bahkan jengan untuk mempelopori perdamaian atarumat, sedangkan di dalam “keluarga”-nya sendiri pertengkaran “perang” tidak kunjung mengendap.

Barangkali menurut Saya yang bernalar cekak-cetek pergeseran letak awal pamcat dari ukhuwwah nandliyyah kepada ukhuwwah yang lain, itulah perubahan mendasar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Hal itu tidak boleh dianggap enteng oleh siapa pun yang merasa dirinya berada dalam figura Ahli Ahlussunnah wal Jamah. Apalagi para petingginya yang telah dengan “berani” tidak menolak beban amanah ke-NU-an diletakkan di pundaknya. Bukankah amanah identik dengan Ahdillah? Dengar sekali lagi firman Allah ini: “….. wa ma yudillu bihi illal fasiqin. Alladzina yangudluna ahdallahi min ba’di mitsaqihi wa yaqthauna mid amarallahu bihi an yushala fil ardli ulaika humul khasirun”. Dan Allah tidak menyesatkan dengan tamsil kebenaran tersebut kecuali terhadap orang yang fasik, yaitu mereka yang melanggar komitmen (kesepakatan) sesudah dikukuhkan Allah, dan mereka memutus ikatan yang diperintahkan oleh Allah untuk dibuhulkan dan mereka merusak (tatanan) di atas bumi. Mereka itu adalah orang-orang yang merugi. Mari. Wallahu a’lam bisawab.

Oleh: KH. M. Cholil Bisri
*disaripati dari buku Ketika Nurani Bicara

Related Articles

Back to top button