Opini

Konangan

.... tentu jerih campur ngeri manakala kejelekannya konangan, diketahui secara luas oleh masyarakat umum, karena dia akan terisolasi dan dikucilkan. Dia akan jauh dan dijauhi oleh rasa tenang dan hidup tenteram sesuai dambaan. Bisa-bisa di menjadi gila sendiri. Tersiksalah dia sebelum disengsarakan oleh siksa yang sejati.

PERADABAN.ID – Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata, “Sama sekali tidak ada” artinya kebaikan yang tidak langgeng. Kejelekan yang tidak selamanya lebih baik ketimbang kebaikan yang tidak langgeng.” Hampir sama dengan konotasi itu adalah apa yang sudah lama berlaku di masyarakat pedesaan bahwa “mantan bajingan jauh lebih baik ketimbang mantan orang baik”. Sebuah hadis terkenal mempunyai arti hampir sama dengan pameo itu, yaitu, “Orang yang bertobat dari dosa seperti layaknya orang yang tidak berdosa”.

Orang boleh berbuat jelek, tapi jangan selamanya. Pada saatnya, kejelekan itu harus berhenti. Berhentilah sebelum kejelekan itu “ketahuan” orang banyak. Kejelekan itu sudah tidak “disembunyikan” lagi oleh Gusti Allah. Karena itu, lalu ada pepatah, “Sekali lacung keujian, selamanya tak kan dipercaya”. Menurut Kanjeng Nabi, kejelekan (dosa, maksiat, jahat, KKN, dan sebangsanya) itu, di hadapan Allah mempunyai varian. Pertama, ditutup dan disembunyikan (mastur) sampai pada saatnya diampuni. Kedua, ditutup dan disembunyikan (mastur) di dunia, tetapi diakhirat kelak dibuka dan diperhitungkan sebagaimana mestinya. Ketiga, dibuka ketika pelakunya masih hidup (atau sudah mati) di dunia, tetapi diampuni di akhirat nanti. Keempat, dibuka ketika masih hidup di dunia dan tidak mendapat pengampunan sama sekali.

Orang yang istiqamah tidak akan pernah takut “diketahui” orang, apa saja yang ada pada dirinya.

Yang terakhir ini, secara empiris, dialami oleh orang yang nekat yang dengan segala daya berikhtiar mencari pembenaran terhadap kejelekan yang ia dilakukan, atau sekurang-kurangnya berusaha menutup-nutupi “meskipun pada kenyataannya sudah umbras, sudah menjadi rahasia umum”.

Baca juga: Dari Penatu di Kairo sampai Podium di Yerusalem

Bagi yang kemudian sadar dan menyadari bahwa makhluk (manusia) tidak tidak bisa berkelit dari keanggotaan masyarakatnya dalam kehidupan nyata yang sawang-sinawang, tentu jerih campur ngeri manakala kejelekannya konangan, diketahui secara luas oleh masyarakat umum, karena dia akan terisolasi dan dikucilkan. Dia akan jauh dan dijauhi oleh rasa tenang dan hidup tenteram sesuai dambaan. Bisa-bisa di menjadi gila sendiri. Tersiksalah dia sebelum disengsarakan oleh siksa yang sejati.

Sebaiknya, selalu dan terus menerus dalam kebaikan akan membawa seseorang kepada ketenangan dan ketenteraman yang didambakan. Dia yang terus menerus dalam kebaikan dijanjikan oleh Gusti Allah akan memperoleh pengawalan dan penjagaan terus menerus dari malaikat di dunia dan di akhirat. Apa saja yang diinginkan tercapai, segala kebutuhan dan hajat hidupnya terpenuhi serta surga menjadi persinggahan terakhirnya.

Berterus menerus dalam kebaikan itu kemudian diistalahkan dengan istiqamah. Istiqamah itu “khairun min alfi karamah”, lebih baik ketimbang seribu keramat, ketersanjungan, dan keterhormatan. Dia adalah istilah agama, syariah, bukan istilah politik praktis untuk mempertahankan faktor legal. Orang yang istiqamah tidak akan pernah takut “diketahui” orang, apa saja yang ada pada dirinya. “Bertanyalah kepada nuranimu, lalu istiqamah,” kata Kanjeng Nabi.

Oleh: KH. M. Cholil Bisri
*disaripati dari buku Ketika Nurani Bicara

Related Articles

Back to top button