Opini

Keluarga Sakinah, di Tengah Sejarah dan Keberpihakan

PERADABAN.ID – Ada yang bilang, sejarah dikomunikasikan melalui batu dan daun lontar. Iya benar, demikian buku-buku sejarah menceritakannya.

Tapi tidak demikian dengan pembuat sejarah. Mereka membuatnya sangat berbeda-beda. Ada yang perlu menjadi penakluk, ada yang menjadi ksatria, dan banyak lainnya.

Pembuat sejarah, membuat gesture kecenderungan yang berbeda-beda. Dengan metode, yang nyaris penuh kekerasan, darah dan keringat, lalu disusul kehilangan dan penyesalan.

Baca juga:

Sejarah boleh dibuat sedemikian rupa. Termasuk, dengan menafkahi khidmat sesuai kebutuhan. Boleh zaman dan masa depan tidak menentu, tapi segala yang membuat utuh itu keberpihakan. Lalu, utuh menjadi sejarah.

Lalu bagaimana keberpihakan itu dicontohkan? Sejarah yang baik, kisahnya selalu menampilkan keberpihakan-keberpihakan yang tujuannya, untuk kemaslahatan dan harmoni umat.

Nahdlatul Ulama (NU), hidup dan menghidupi sejarah. Dia yang mengkreasikan sejarahnya sendiri. Lalu keberpihakannya, adalah untuk kemaslahatan melalui program-program yang dilakukan.

Mutakhir, adalah Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU). Boleh kita menyemarakkan perubahan skala besar dalam konteks kewargaan NU. Tapi tampaknya, geografis pertumbuhan itu masih berpusat di desa-desa.

Bicara tentang desa, harus bicara tentang kota. Logikanya, untuk mendudukkan bagaimana akses kedua geografis itu terhadap kesejahteraan.

Data BPS, Maret 2023, menunjukkan kemisikinan di desa masih lebih tinggi ketimbang kota, kendati terus mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 25,90 juta orang, menurun 0,46 juta orang terhadap September 2022 dan menurun 0,26 juta orang terhadap Maret 2022.

Persentase penduduk miskin, menurut data BPS, perkotaan pada Maret 2023 sebesar 7,29 persen, menurun dibandingkan September 2022 yang sebesar 7,53 persen. Sementara itu, persentase penduduk miskin perdesaan pada Maret 2023 sebesar 12,22 persen, menurun dibandingkan September 2022 yang sebesar 12,36 persen.

Baca juga:

Kalkulasi sederhana, jika warga desa itu mayoritas beridentitas NU, dia terlibat dalam keterbelakangan akses mencapai kesejahteraan. Kemiskinan menjadi fakta sulit dibantah sebagai akses kesejahteraan yang belum usai.

Untuk itu, gerakan mewujudkan maslahat ini dimulai dalam bentuk yang sangat sederhana – kendati serius, seperti mewujudkan keharmonisan, bunga-bunga kasih sayang di tengah keluarga agar terus tumbuh.

NU, dengan sangat sadar meletakkan keharmonisan keluarga sebagai upaya mencapai akses kesejahteraan tadi. Dan juga secara struktural, dia membangun unit-unit kecil yang kokoh.

Melalui program ini juga, sejarah juga mulai dicatat. Bukan melalui batu dan daun lontar. Tetapi dengan kebijakan khidmah yang terus terang. Keberpihakan yang menyentuh akar dari tumbuhnya kehidupan sosial.

Keluarga harmonis, dan sakinah tentunya, menjadi capital social, infratruktur yang menunjang keadaban dan peradaban, untuk kemaslahatan.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button