Gagasan

Humanitarian Islam: Sebuah Tawaran untuk Kemanusiaan Global – Bukan Moderasi Islam (Bagian 2)

PERADABAN.ID – Di tengah antusiasme internasional ini, ada tantangan lain yang tak kalah penting, yaitu penerimaannya di kalangan domestik. Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh ISEAS baru-baru ini menyimpulkan bahwa Humanitarian Islam masih dianggap sebagai wacana elitis. Banyak aktivis NU di Indonesia yang bahkan belum memahami sepenuhnya konsep ini. Penelitian tersebut, meskipun tampaknya pahit, memberikan gambaran yang akurat. Salah satu alasannya adalah strategi kami yang sengaja tidak mempublikasikan dokumen Humanitarian Islam secara luas dalam bahasa Indonesia.

Deklarasi Humanitarian Islam pertama kali dibuat pada tahun 2017 dalam bahasa Inggris, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan baru pada paruh akhir 2024 versi bahasa Indonesianya tersedia. Alasannya, isi deklarasi ini terlalu sensitif dan kontroversial untuk diterjemahkan dan disebarluaskan di kalangan domestik sejak awal. Kontroversi ini terutama muncul karena gagasan Humanitarian Islam secara frontal menantang wacana “moderasi agama,” yang selama ini menjadi paradigma dominan dalam diskusi keislaman global.

Kami merasa bahwa konsep “Islam moderat” mengandung asumsi yang problematis. Dalam pandangan kami, wacana ini cenderung menjadikan Islam sebagai tertuduh utama dalam kekacauan peradaban dunia. Ketika negara-negara seperti Amerika Serikat melancarkan perang di Afghanistan atau Irak dengan alasan memerangi terorisme (War on Terror), Islam sering kali disudutkan sebagai sumber masalah. Padahal, kekacauan dunia tidak hanya disebabkan oleh Islam.

Humanitarian Islam: Sebuah Tawaran untuk Kemanusiaan Global (Bagian 1)

Sebagai contoh, invasi Amerika ke Irak atas tuduhan keberadaan Weapons of Mass Destruction (WMD) menyebabkan kematian lebih dari satu juta warga Irak. Belakangan diketahui bahwa tuduhan WMD tersebut adalah kebohongan besar. Namun, tidak ada diskursus tentang “moderasi Amerika” yang muncul dari tragedi ini. Demikian pula, tindakan Rusia atau Cina tidak pernah diiringi dengan wacana “moderasi” yang setara. Mengapa hanya Islam yang terus-menerus menjadi tertuduh?

Kritik kami terhadap “Islam moderat” bukan berarti menyangkal adanya elemen dalam Islam yang turut berkontribusi pada kekacauan global. Kami mengakui bahwa ada aspek-aspek tertentu dalam tradisi Islam yang perlu diurai dan direformasi. Namun, kami menolak gagasan bahwa Islam adalah satu-satunya penyebab masalah dunia. Justru, Humanitarian Islam berangkat dari keyakinan bahwa Islam memiliki jawaban untuk krisis peradaban ini.

Islam yang sejati adalah Islam yang mampu menjawab tantangan global, sebagaimana yang sering disampaikan oleh para pemikir besar dalam sejarah Islam. Jika Islam disebut sebagai rahmatan lil alamin—rahmat bagi seluruh alam—maka keberadaannya harus memberikan solusi konkret bagi dunia yang sedang kacau. Jika tidak, klaim itu hanya menjadi hiasan retorika yang kehilangan relevansi.

Gagasan ini adalah langkah pertama dari perjalanan panjang. Kami menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan, baik dalam menjembatani pemahaman di tingkat domestik maupun memperkuat posisi Humanitarian Islam di panggung global. Namun, kami yakin bahwa dengan terus memperluas diskusi ini, Islam dapat kembali menjadi kekuatan yang tidak hanya menyumbang pada peradaban, tetapi juga menjadi jawaban bagi masalah dunia modern.

KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU

Related Articles

Back to top button