Opini

Karakter Kewargaan dan Distraksi Sosial Lainnya yang Harus Dijawab

PERADABAN.ID – Apa pergeseran kewargaan Nahdlatul Ulama? Tentunya jawabannya sepakat, bahwa bukan hanya soal angka. Maksudnya, bukan perubahan-perubahan yang mulanya sedikit, lalu menjadi lebih besar.

Jika hanya angka, barangkali tidak perlu menempatkan hal tersebut sebagai sesuatu yang krusial. Iya tidak perlu. Karena angka tanpa perubahan karakter di dalamnya, sama saja dengan yang sebelum-sebelumnya.

Gus Yahya, berulang kali, mengatakan pergeseran skala besar ini beriring dengan perubahan karakter kewargaan. Dua variabel itu, merangkak integral dan menjadi satu fenomena baru yang harus dijawab. Dengan seksama, dan tepat sasaran serta berkelanjutan.

Baca juga: GKMNU: Kota Kecil, Sosrobahu dan Impian-impiannya

Karakter, bisa juga berupa profesi. Karakter, bisa juga lingkungan sosial yang mempengaruhinya. Karakter, bisa juga berkenaan dengan temuan-temuan alat canggih bernama teknologi. Dan karakter, adalah intervensi-intervensi luar yang bersinggungan langsung dengan diri yang tak pernah lekang untuk menghindarinya; mengonstruksi.

Atau demografis, yang melulu menjulurkan perbedaan mental dan kultur dengan generasi-generasi sebelumnya. Suatu ketika yang sudah tiba itu, telah menjadi gurat sosial, membuat drama sendiri dengan panggung kreatif yang diciptakannya.

Detak-detak perubahan ini, sebab jika tidak lekas dijawab, kemunculan-kemunculan distraksi yang dibiarkan lama, akan merugikan. Dehumanisasi, sesekali terujar dari pidato-pidato Gus Yahya. Dehumanisasi, dampak jamak yang kerap menyelip dan tersemat dengan kemajuan-kemajuan mutakhir.

Di sinilah, pergeseran karakter itu menjelma dalam lari panjang society 4.0. Terbilik-bilik dalam ruang digital. Keduanya terkait, terkonstruksi, berubah, lelap dan bangkit. Menang dan kalah. Atau sekadar ikut arus saja.

Tapi, bukanlah demikian Nahdlatul Ulama dilahirkan. Tujuan-tujuan mulia yang dipahatkan para kiai dan pendiri, adalah untuk figura kehidupan dengan kesejahteraan yang berkesinambungan. Capaian atas hajat, dari pendidikan, ekonomi, keagamaan dan kesemuanya bisa dikulum senyum oleh seluruh warganya.

Baca juga: Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Kader-kader NU, kata Gus Yahya, supaya sejak dari bawah biasa berpikir tentang khidmah NU untuk manusia-manusia, bukan cuma angka-angka. Dan ini fundamental sekali. Maka saya tidak peduli, lanjutnya, dengan cara apa pun, ingin ini segera menjadi kemapaman di dalam model aktivisme NU.

Program Gerakan Keluarga Maslahat Nahdalatul Ulama (GKMNU) menjadi aktivisme yang gaungnya bisa dipertanggungjawabkan utuh. Bukan untuk menjawab angka, tetapi menjawab distraksi-distraksi akibat gejala perubahan yang terus menderu. Tak henti-hentinya. Sebuah pesan, masa depan yang datang begitu sangat cepat.

Alhasil, dari pintu yang berisi dua sampai lima orang atau lebih itu, yang mulanya akrab dengan radio, koran dan televisi, lalu menjadi layar sentuh sekali klik, menjelaskan tipologi yang perlu dilalui dalam jenjang peradaban.

Sedang dan lagi dibangun menuju hajat-hajat besar yang menjadi orientasi keberadan NU. Tetap dalam khidmah, NU menjadi nafas keluarga dengan segala persoalan-persoalan kekinian yang datang dari luar, datang dari masa depan.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button