Opini

Sejenis Pernikahan Kelas Menengah Kamseupay

PERADABAN.ID – Mengapa pernikahan sejenis hari ini bisa terjadi? Karena zaman sudah kian sulit diprediksi. Ia melahirkan ruas yang mudah disusupi, alih-alih dikendalikan, ruas tersebut berpeluang mengendalikan exposure kebudayaan tertentu.

Semoga jawaban saya keliru, sehingga diskursus itu bisa terus berkembang seiring untuk memperkaya konteks dan perspektif yang dibutuhkan.

Pernikahan yang langgeng adalah pernikahan yang diidam-idamkan. Sedangkan untuk mencapai tahap tersebut, pasangan membutuhkan banyak sekali perkamen yang bisa menunjang kelanggengan tersebut.

Baca Juga

Salah satu guru saya dulu pernah berkata dengan sangat liris, “kalau kamu hanya mempelajari apa yang kamu sukai, sedangkan mengabaikan keilmuan lain yang justru sedang berkembang, yang kamu lakukan itu, maaf, hanyalah perilaku homo”.

Dalam pengertian kelas, perebutan akses menjadi tabu jika hanya mengandalkan satu modal kapital belaka. Perlu adanya pernikahan, baik sejenis maupun lawan jenis, better lawan jenis guna mencari titik paling runcing dari sebuah alat yang bisa menebas segalanya, bak Wadou Ichimonjinya Zoro.   

Maka, kita sadar, kelas menengah baru yang baru juga mengalami mobilitas vertikal tidak cukup hanya bergelut dengan ruas yang ia hadiri bahkan sejak sebelum ia merangkak menduduki posisi kelas menengah.

Baca Juga GKMNU: Kota Kecil, Sosrobahu dan Impian-impiannya

Akan percuma apabila mobilitas vertikal itu sekadar disikapi sebagai friend zone yang, cukup merasa nyaman di wilayahnya sendiri sehingga menjadikannya “kelas menengah kamseupay” (kelas menengah kampungan). Tapi bagaimana sebagai figur baru bisa mewarnai corak kebudayaan secara mangkus.

Aiko Kurosawa (2015) dalam Consuming Indonesia menemukan bahwa mobilitas dan perubahan sosial di Indonesia cenderung melahirkan kelas menengah semu (pseudo middle class), saya lebih suka memakai bahasa “kelas menengah kamseupay” karena selain konsumtif, mereka juga ekslusif, dan benci terhadap keragaman.

Pengalaman keragaman bagi mereka tidak disemai dengan baik karena secara lanskap rumah, pola relasi hanya utuh dan jujur dilihat dari kelas belaka. Bahkan mereka mencurigai yang berada di bawah kelas mereka.

Baca Juga

Sehingga apa yang terjadi kemudian adalah kelas menengah kamseupay itu akan beranak-pinak sebagai kelas menengah yang tidak lagi mengerti bagaimana getir-pahit dalam menarasikan Indonesia. Sementara asyik-masyuk mengeruk segala yang perlu dan harus dihabiskan.

Dalam konteks yang lebih dekat, masyarakat komunal yang belakangan mulai menanjak di struktur tersebut, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, memiliki nilai lebih dari hanya sekedar satu modal kapital.

Sebagai agensi yang berorientasi dampak sosial (socially consequnces) sebenarnya warga NU cukup mampu untuk menggilas mereka yang independensi, rasional, dan pragmatis dari bagaimana mereka mawas terhadap lingkungan sekitar dan melahirkan sunah-sunah lokal baru.

Sehingga narasi “kelas menengah kamseupay” tidak lagi terpatri pada mereka yang sedang beranjak, melainkan mereka yang tidak mampu menjaga keragaman, dan inkusif terhadap perbedaan. Bukan lagi berorientasi wilayah, seperti perdesaan dan perkotaan.

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button