Opini

Pendekar Chicago dan Warisan Kepulangannya

PERADABAN.ID – Dialog Gus Dur dengan Buya Maarif salah satunya bisa dilihat dalam tulisan bertajuk Tiga Pendekar dari Chicago. Gus Dur menempatkan Buya Maarif sebagai angkatan pertama bersama Nurcholis Madjid dan Amien Rais.

Jika Gus Dur menempatkan Nurcholis Madjid sebagai figur dengan keterbukaan pemikiran, pendekatan kultural dan inklusivisme Islam, beda halnya dengan Amien Rais yang menurutnya, mengetengahkan orientasi “cara hidup Islami”.

Buya Maarif, berpandangan Islam sebagai “budaya Bangsa”, satu pandangan yang mendorong keterlibatan Islam dalam lembaga-lembaga kekuasaan, kendati tidak mengindahkan pentingnya gerakan Islam kultural.

Dialog yang sudah terjadi puluhan tahun silam itu, tampaknya berlanjut sampai sekarang, bahkan setelah keduanya berpulang. Beberapa forum resmi dan mungkin silaturahim biasa, kedua tokoh tersebut kerap melakukan dialog tentang Islam dan pergulatannya.

Gus Dur dalam hemat penulis, tidak hanya berani mengelompokkan tiga pemikiran yang berbeda dari masing-masing tokoh. Gus Dur seperti mengingatkan tokoh-tokoh tersebut, di tengah cengkraman tangan-tangan kekuasaan Orde Baru yang mulai melirik kelompok Islam modernis, yang diwakili oleh ICMI.

Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Hubungan cendikiawan Muslim di masa itu berada di posisi yang sangat vital. Penyebaran sekaligus pengaruh kekuasaan ke organ-organ cendikiawan Muslim modernis, menunjukkan adanya keinginan intervensi terhadap pemikiran sebagai upaya menopang roda kekuasaan yang mulai kempes.

Gus Dur dengan prinsip dan pendiriannya, justeru membatasi dan menggelar jarak dengan memotori kelompok cendikiawan bernama Forum Demokrasi (Fordem). Satu kelompok cendikiawan dengan latar anggota yang beragam, sekaligus pemikiran dan wacana inklusivisme, keberpihakan terhadap kaum lemah dan minoritas, sekaligus vis a vis dengan negara.

Kendati demikian, Gus Dur dan Buya Maarif selalu mempunyai nasab keseragaman dalam melihat Islam dan Keindonesiaan. Sehingga tak heran, keduanya menjadi akrab dalam perjuangan-perjuangan keislaman, keumatan dan kemasyarakatan secara luas.

Dua tokoh yang mewakili representasi organisasi besar di Indonesia itu – NU dan Muhammadiyah – akan dikenang sebagai figur sentral penggerak Islam di Indonesia; hikayat-hikayat perjuangannya akan melulu menempel dalam diskursus wacana keberagaman, kesahajaan dan pendiriannya akan menjadi kiblat dari setiap kelapangan dan kerendahan budi pekertinya.

Antara Gus Dur dan Muhammadiyah, atau Buya Maarif dengan Nahdlatul Ulama kerap bertukar kabar pemikiran. Ketersinggungan keduanya dipererat dengan tanggung jawab yang sama untuk Indonesia. Mulai dari keutuhan dan kesatuan bangsa, pemberdayaan umat, pendidikan, ekonomi, sampai akhirnya pada politik kebangsaan.

Paling mutakhir, tepatnya pada tahun 2021, Buya Maarif mengirimkan sinyal perlunya NU dan Muhammadiyah untuk terus tetap menjaga iklim persatuan. Kedua organisasi ini musti bergandengan tangan sebagai penggerak arus utama Islam di Indonesia. Melakukan kontra-narasi terhadap ideologi transnasional yang merusak, kehilangan perspektif masa depan untuk Islam, keindonesiaan dan keislaman.

Baca Juga Pesan untuk Muhammadiyah dan NU

Bertajuk Pesan untuk Muhammadiyah dan NU, tulisan yang diterbitkan oleh Kompas ini mengirim banyak pesan untuk kedua organisasi itu selain hal yang sudah disampaikan di atas. Dalam hal memandang kekuasaan, organisasi ini diharapkan menjadi tenda besar bangsa dan negara, keluar dari paradigma sempit “berebut lahan” kekuasaan, capaian jangka pendek dan pramatisme politik musti disingkarkan jauh agar tidak menjadi penghalang cita-cita yang lebih besar.

Pesan komplentatif dan reflektif, tampaknya perlu diketengahkan dalam tulisan ini. Setidaknya menjadi alarm pengingat bagi kita semua sebagai penerus perjuangan, terlebih untuk Muhammadiyah dan NU.

Menurutnya, NU-Muhammadiyah yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudera Nusantara sedalam-dalamnya. Generasi baru dari kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang terasa masih goyah.

Pesan ini harus ditangkap secara utuh dan dikerjakan dengan maksimal, dengan energi dan pembacaan serta perjuangan yang paripurna. Maksud dari “generasi baru” tidak lain tidak bukan adalah untuk Muhammadiyah dan NU, untuk kita dan mereka yang saat ini dinilai beliau mempunyai kepedulian terhadap problem Islam, keumatan, dan Indonesia sebagai negara-bangsa.

Baca Juga Ketua PBNU; Buya Tokoh yang Sangat Dihormati Gus Dur

Prof, Haedar dengan ungkapan yang sangat mendalam telah mengungkapkan kepahitan yang dalam atas kehilangan tokoh bangsa itu. Gus Yahya dengan raut sedihnya, ikut mengungkapkan belasungkawa dan terseret menanggung tanggung jawab yang luar biasa beratnya untuk meneruskan visi, misi dan perjuangan beliau.

Kepulangan beliau adalah derai sekaligus wujud kesedihan mendalam. Tidak ada lagi atribut dan fisik kehadiran beliau untuk Indonesia. Tapi, semangat perjuangan beliau, akan menjadi nyala yang akan dibawa ke mana-mana oleh Prof. Haedar dan Gus Yahya untuk menerangi gelap permasalahan bangsa Indonesia, mungkin juga, oleh dan untuk kita semua.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button