23 Juli 2001

PERADABAN.ID – Seperti pekerjaan, penugasan atau padanan lain yang sifatnya sementara, ketika sudah tiba waktunya, semuanya memang harus dilepaskan seperti semula. Seperti awal dengan perangkat yang tidak lagi istimewa, penuh puja, termasuk baju dinas kerja, dan akhirnya kembali seperti orang biasa.
Italia melanjutkan putaran kedua setelah berhasil bermain imbang dengan Meksiko pada gelaran Piala Dunia 1994. Keberhasilan ini bukan saja melambungkan harapan rakyat Italia tercapai, tetapi juga mengisahkan pencarian spiritual dan kesederhanaan seorang Baggio sebagaimana terekam dalam artikel Menemukan “Nirwana Bola di Amerika”.
Di tengah ketaatan Katolik kaum Roma, Baggio dalam telusur panjang jalan spiritualitasnya memutuskan menganut Buddha. Ia mengentaskan jauh cinta, pujian dan simpati orang-orang sesamanya – termasuk ibundanya yang tiap malam meminta Tuhan mengembalikan anaknya pada Iman yang dipegangnya – dan menurutnya, sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebahagiaan yang diperolehnya dengan meditasi-meditasinya secara ajaran Buddha.
Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
“Suatu saat, saya akan kembali menjadi bukan “siapa-siapa” lagi. Pada saat itulah saya tahu, saya hanyalah seorang Baggio.” Pernyataan inilah yang tidak diamini datang terlalu pagi, bagi siapa saja penyuka sepak bola Italia.
Ia akan kembali sama dengan yang lainnya, menghabiskan waktu bersama isteri dan anak-anaknya, mengulang kehangatan yang dulu dialaminya bersama orang tuanya di Caldogno.
“Bagi saya bola bukanlah segala-galanya. Saya anggap bola sebagai pekerjaan seperti pekerjaan lainnya. Keluarga jauh lebih penting daripada bola. Dalam keluarga saya merasa sangat aman. Saya sempatkan diri saya pergi ke restoran, jalan-jalan nonton bersama anak dan isteri saya. Pada waktu macam itulah, saya dapat menikmati hidup sebagai manusia biasa, yang berasal dari keluarga sederhana,” kata Baggio.
Baca Juga
Tujuh tahun setelahnya, ribuan orang, terutama Nahdliyin, menyemuti Istana; sebagai bentuk pujian, cinta dan dukungan terhadap sang kiai. Tidak jauh berbeda dengan Baggio, Gus Dur menepis segala dukungan itu. Kecintaan dan pujian para pendukungnya, ia tempatkan pada posisi yang seharusnya; kemanusiaan, bukan mempertahankan jabatan.
23 Juli 2001 itu menjadi detik-detik getir. Dinihari KH Yahya Cholil Staquf membacakan Maklumat Presiden yang salah satunya, berisi pembekuan terhadap MPR dan DPR. Jelang beberapa jam saja, MPR menggelar Sidang Istimewa. Gus Dur lengser, Megawati menggantikannya. Ingar-bingar politik selesai, Gus Dur turun dari gelanggang tanpa menggunakan baju kehormatan apa pun.
“Saya sedih ketika Gus Dur diserang kiri-kanan. Saya pikir saya saja yang diserang, jangan kiai saya. Makanya, jika harus bicara kepada publik, saya memilih cara yang membuat kamu sebal itu. Setidaknya dengan saya seperti itu, saya berharap sasaran tembak tidak terkonsentrasi hanya kepada Gus Dur. Saya juga pantas diserang karena menyebalkan,” keterangan Ketua Umum PBNU itu kepada AS Laksana, dikutip dari buku Menghidupkan Gus Dur, Catatan Kenangan Yahya Cholil Staquf.
Keterangan di atas barangkali adalah representasi empati dan sikap sebagian banyak orang. Tetapi apa boleh dikata, Gus Dur tidak menginginkannya menjadi hal yang sia-sia. Hari kemarin akan tetap menjadi 23 Juli yang lain, seperti “hari Kamis yang lain”nya Sierra Six dalam film The Gray Man.
Keduanya, Gus Dur dan Baggio telah menjadi manusia biasa pada umumnya, tanpa istana dan kostum kebanggaan, dengan cita-cita yang akan terus menyala.




One Comment