Kongres GP AnsorOpini

Tempat yang Seharusnya

PERADABAN.ID – Seorang yang terbangun dari pingsan menanyakan kepada Dr. Enzo yang merawatnya: “Saya ada di mana?” Dr. Enzo menjawab singkat: “Tempat yang seharusnya.”

Bagi seorang yang baru sadar dari rebah panjangnya, dokter adalah tempat seharusnya. Dia bisa mengeringkan darah di kepala yang bocor akibat dipentung gagang pistol. Termasuk, agar lekas sembuh dari rasa sakitnya.

Tapi itu, nyatanya bukan soal hubungan sakit-diobati yang secara medis sudah kelar. “Tempat yang seharusnya” adalah wajah kesekian dari sel sosial yang sakit. Perantara, yang bisa ditafsirkan, bahwa penduduk yang rumahnya berjejer di tebing bukit Napoli itu membutuhkannya.

Sindikat narkotika, laku keji mafia, dan tindakan rimba lainnya menjadi “karsa” ketakutan bagi yang lainnya. Boleh jadi tempat yang indah itu, dengan kafe gaya klasiknya, melambaikan daun nyiur yang mengering dan dahannya, sebentar lagi patah.

Baca juga:

Realitas sosial yang compang-camping memang membutuhkan pandu yang pantang dan tak lekang oleh gertakan. Ketakutan-ketakutan yang dimuncratkan oleh gaya-gaya todongan dalil atau penambang kebersatuan.

Perbedaan yang diasah untuk mempertajam pertentangan. Mengarah pada eksklusivisme sekatarian yang menjemukan. Menghakimi keberagaman dengan tepi-tepi pikirannya yang sempit dan penuh keterbatasan.

Pelan-pelan, tutur atas nama ambisi. Pendapat-pendapat yang asal beda, tanpa memperhatikan ruam-ruam yang bisa menjadi dampak setelahnya, diakui atau tidak, masih timbul di sekujur tubuh.

Nahasnya, itu digelontorkan gelondongan. Telinga dan mata publik disuntik, dipengaruhi. Benih-benih disintegrasi, ditabur di ladang tanpa petani.

Baca juga: NU Kind

Gerakan Pemuda Ansor berada di tempat yang seharusnya. Keterpaduan komitmen dan langkah gerak terus merangkul Indonesia. Dua tangan yang menggambarkan keikhlasan. Rekat peluk yang memompa detak kebersamaan.

NU sebagai rahimnya, telah melahirkan luhur kepeloporan untuk selalu mengedepankan nalar siaga dari kejadian-kejadian yang bisa datang tiba-tiba. Lalu mengancam, dan menafikan kebhinekaan.

Indonesia, adalah tempat yang seharusnya bagi Ansor. Pelataran khidmah, bagi organisasi pelopor.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button