Opini

Paras Demografis Baru dan “Rekayasa Ansor”

PERADABAN.ID – Anak muda selepas bangun dari tidurnya, mencari handphone pintarnya. Dia menggerakkan laman layarnya yang berisi status teman WhatsApp-nya. Seorang bayi mungil terpampang. Lekas dia membalas “semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua”.

Tak lama kemudian, jarinya mengklik akun fitur X: “Uhuy, semakin di depan”. Suara Komeng, sang comedian, melesat dalam pemilihan DPD, rampung terbanyak.

Menurut berita-berita yang tampil di beragam platform digital, selain karena komedian, hanya wajah itu yang terlukis unik di kertas suara. Waktu jam 08.00 pagi. Ia bergegas mandi dan berangkat ke tempat kerja.

Keberagaman pelan-pelan tidak hanya berangkat dari akar budaya, suku, atau agama. Seketika begitu cepat, keberagaman dilahirkan oleh teknologi: profesi dan selera bermacam-macam rupa, ideologi dan keyakinan bias. Kita memasuki wajah demografis yang baru.

Baca juga:

Wajah demografis baru ini telah melahirkan kenyataan sosial yang meyakinkan. Suatu pergeseran besar-besaran dan fundamental.

Dulu, yang kita sebut sebagai masyarakat agraris itu, telah melintasi batas, penuh ruam informasi. Gejala yang kalau didiagnosa, memang timbul akibat teknologi.

Apakah ini harus dihadapi dengan metode-metode lama? Saya rasa tidak. Ini membutuhkan skema adaptif yang menjunjung relevansi.

Dan punggung pertama yang ketiban fenomena ini, adalah kaum muda. Kelompok demografis yang konon, memilih gerak taktis ketimbang ideologis. Gen Z hingga Millenial pemain utama dalam bidak ini.

Rekayasa Ansor

Ketua umum terpilih PP GP Ansor Sahabat Addin Jauharudin, baru saja hadir di Banyumas. Di atas podium, ia masih menyungging senyum setelah sehari sebelumnya, padat dengan kegiatan silaturahim, ziarah dan temu kader di Banyumas.

Sebagai pimpinan tertinggi organisasi kepemudaan NU itu, dia bicara tentang rekayasa. Satu pemutakhiran skema organisasi untuk mengonstruksi identitas individu kader.

Perekayasaan politik, sosial dan ekonomi, tetiba menjadi imajinasi Ansor hari ini – tepat setelah acara silaturahim itu usai. Pesannya sederhana, aksioma Ansor harus memasyarakat, dan sebaliknya. Caranya, sederhana kendati tidak mudah, membangun dan menciptakan tiga rekayasa tadi – “rekayasa Ansor”.

Imajinasi ini, saya rasa berangkat dari pijakan yang kuat. Dia berangkat dari kejujuran sosial yang ditandai pergeseran demografis. Dari desa mengenyam pengalaman urban. Dan berlaku umum, tidak hanya mereka di luar kader Ansor, tetapi juga kader Ansor itu sendiri.

Satu fenomena yang mempengaruhi nalar berpikir, mengaplikasikan keyakinan dan cara berbeda dalam menjalankan ritual keagamaan, menumbuh dalam pengalaman urban.

Di sisi yang lain, fenomena sosial yang diisi mayoritas anak muda ini, dan cita-cita Indonesia di tahun 2045, tepat usia 100 tahun kemerdekaannya menjadi bingkai pijakan di titik yang berbeda.

Baca juga:

Dua simpul ini coba dirajut dengan menghadirkan rekayasa Ansor. Dari perencanaan sampai tuntas pengawalan. Menali kebatinan infrastruktur dan langgam organisasi. Menguji tesis, Ansor relevan di tengah masyarakat.

Imajinasi ini penting karena berada di tengah realitas yang tegang. Satu sisi kaum muda yang cenderung berjarak dengan baju-baju ideologis. Dan di sisi yang lain, ingin melompat dari kewargaan yang kian beragam.

Mampukah rekayasa Ansor ini berhasil membangun imajinasi kepemudaan dan kebangsaan? Secara historis, tentu saja Indonesia dan Ansor sendiri punya pengalaman.

Secara sosiologis, kita belum tahu. Tapi yang pasti, fleksibilitas sikap keseharian Ansor bisa menjadi ongkos utama, ditambah dengan ajegnya ideologi, kemapanan keyakinan.

Ke depan, saya rasa Ansor tidak hanya akan bergelut dalam internalnya sendiri, tapi dia akan selalu “mencampuri” urusan kewargaan yang baru. Menjadi bagian dari masyarakat lintas profesi, kegemaran atau hobi.

Dia tidak akan bergelut pada gerakan ideologis seperti politik kebangsaan, atau akidah keberagamaan semata. Tetapi bergerak dalam lingkar sosial yang tak menentu dan benar-benar baru.

Suatu tantangan, yang akan menjadi jembatan Ansor untuk selalu mewarnai perjalanan bangsa.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button