Magnet Intelektual NU

PERADABAN.ID – Bertemu beberapa kali dengan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), saya harus mengatakan beliau adalah tokoh dengan magnet intelektual yang kuat berkat kecendekiaan, kesederhanaan, dan tentu saja kemampuannya berkomunikasi.
Gus Yahya adalah satu dari sedikit tokoh muda NU yang pemikiran dan sikapnya mirip KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, seorang kyai humanis, cerdas, dan berani melawan arus untuk membela apa diyakininya benar.
Saya menduga Gus Yahya menyerap ilmu Gus Dur cukup intensif dalam pergaulannya dengan tokoh pro demokrasi itu. Dan mungkin karena Gus Yahya paling mengerti apa yang dipikirkan oleh Gus Dur maka Sang Kyai Prodem, yang juga diyakini sebagai wali itu, memilihnya sebagai juru bicara saat beliau menjadi Presiden RI di tengah turbulensi politik di awal reformasi.
Baca Juga Staquf Adalah Paras Gus Yahya Muda
Suatu kali saya menyaksikan Gus Yahya memberikan keynote speech di acara forum agama-agama se-dunia untuk perdamaian di sebuah hotel di Jakarta sekitar 2018. Dia datang agak terlambat karena satu urusan, dan begitu hadir panitia mempersilakan kyai muda ini naik ke mimbar. Gus Yahya tampil dengan gaya yang khas, jas yang potongannya pas di badan, peci yang necis, dan tentu saja kacamata dan senyum yang teduh.
Dia menyapa para hadirin dalam bahasa Inggris yang fasih, melontar joke yang cerdas, dan mengajak hadirin mengingat kembali makna agama bagi kehidupan manusia.
Berpidato tanpa teks selama hampir satu jam, Gus Yahya tak pernah gagal membuat hadirin dari manca negara menyimak ucapannya.
Baca Juga Sosok Gus Yahya dan Narasi Nahdlatul Ulama
Dia betul-betul memberikan sebuah “keynote”, memainkan kunci nada yang membuat berbagai macam perspektif di simposium internasional itu menjadi sebuah untaian pemikiran yang solid. Hadirin berdiri dan bertepuk tangan usai pidato yang mengesankan itu.
Saya merasa tercerahkan dan kagum dengan ketenangan dan kepiawaiannya membangun argumen. Retorikanya khas, dia mengerti kapan harus mendaki, menukik, meluncur, dan mengayun argumen dengan tenang. Dia bermain lincah antara modernitas dan tradisionalisme dengan sikap yang cerdas dan tegas berpihak kepada kemanusiaan dan perdamaian.
Teman saya seorang peneliti yang tengah belajar di Australia kagum setengah mati. Dia ikut hadir di simposium dan rupanya itu adalah momen pertama sekali dia melihat Gus Yahya tampil dan menyimak pemikirannya dari dekat.
Baca Juga Gus Yahya, The Untouchables dan Robert De Niro
Saya menjelaskan kepadanya bahwa Gus Yahya adalah salah satu mutiara di NU, dan dia membuat kita makin yakin bahwa organisasi kaum nahdliyin ini senantiasa menjadi benteng bagi Islam yang sejuk dan damai dan juga tameng bagi cita-cita republik. “Kalau saja NU dipimpin oleh tokoh muda seperti Gus Yahya, NU akan makin bercahaya,” ujar rekan saya itu.
Saya membaca Gus Yahya akan maju untuk memimpin NU. Gus Dur telah berhasil membuat NU bukan hanya milik kaum nahdliyin, tapi juga milik bangsa dan aset besar bagi kebangsaan. Saya berdoa agar jalan Gus Yahya untuk memimpin NU diridhai Allah Swt. Aamiin.
Oleh: Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) RI




One Comment