Opini

Balada Bagasi Warisan 

Di tengah banjir bandang ijazah yang setengah terpengaruh oleh geliat tren informasi, Al Haqiibah, yang diterjemahkan sebagai Bagasi: Amalan Warisan Kyai Bisri merupakan kitab ijazah yang hadir sebagai pemuas dahaga di tengah disrupsi informasi.

PERADABAN.ID – Ngaji adalah persoalan primer, seperti makan. ia tak bisa dijadikan sebagai persoalan sekunder, apalagi tersier. Jatuhnya hiburan atau main-main. Yang terpenting adalah bagaimana bertahan dari sekian godaan yang menghujam dan sebisa mungkin “noto awak”, semampunya, sekuat-kuatnya.

Mengaji adalah pilihan yang mau tidak mau harus diambil bagi mereka yang tak ingin latah dalam mendekati kesalehan lahir-batin. Dalam skala yang lebih kecil, kalau pun belum pernah terpapar dengan kitab-kitab, bahasa Arab, dan segala hal menyangkut prejengan pesantren, jalan baik yang bisa dituju adalah mengidolakan guru, kiai, ulama, dan masyayikh.

Sudah jamak orang mengidolakan guru, kiai, ulama dan masyayikh yang berjarak ribuan, bahkan ratusan kilometer. Sementara dulu, mereka hanya mengalami semacam default afiliasi, mencukupkan diri engage, tabarruk dengan mereka yang terjangkau di sekitar: bidikan yang harus dituju untuk memperbaiki kehidupan.

Baca Juga Magnet Intelektual NU

Kendati persoalan jarak hari ini sama halnya dengan tak berjarak, rute yang perlu diraih setelah mengidolakan adalah menjemput “kemareman” (ke-afdhol-an) dengan partisipasi, baik mendengarkan, mengaji, maupun bertemu dan meminta doa. Karena niat baik dari mengidolakan kemudian adalah meneladani.

Sudah sering saya mendengar cerita-cerita tentang keluarga Leteh. Mulai dari kisah Imam Sibawaihi Jawa atau KH Cholil Harun, KH Bisri Mustofa, KH Cholil Bisri, KH Adib Bisri, KH Mustofa Bisri sampai KH Yahya Cholil Staquf sendiri. 

Entah apa yang menggiring saya untuk mengidolakan beliau-beliau yang “ngga ono entek e” alias “ngga ada habisnya”. Tapi masih lekat diingatan, kekaguman itu mula-mula muncul dari gairah menulis yang lekat dengan citra KH Mustofa Bisri, Gus Mus. 

Baca Juga Staquf Adalah Paras Gus Yahya Muda

Suatu ketika kekaguman itu berujung pada mimpi. Ketika masih di pesantren, bersamaan dengan hasrat menulis yang menggebu-gebu, melekat pada ingatan akan tulisan yang dikoreksi Gus Mus di ruang tengah ndalem beliau. Ya, mungkin ini hanya mimpi. Tapi sebagai santri lugu, ia membangkitkan gairah terhadap apa saja yang ingin dituangkan dalam bab kekaryaan.  

Kisah-kisah yang terukir dengan baik itu tersampaikan lewat jamak medium, dari teks, verbal, sampai pengalaman pribadi. Betapa hidup yang dipupuk dengan pengalaman ada tersimpan sekian juta keberkahan. Saya sendiri sudah membuktikan. 

Keberkahan itu terus-menerus mengembang, mulai dari bisa ikut pasanan khataman di Leteh, sowan Gus Mus, satu mobil dengan Gus Yahya, menulis apa yang ada dalam pikiran beliau, dan lain-lain yang semoga terus mengembang menjadi bidikan yang lebih beragam.

Baca Juga Gus Men The Blues Man: Sinar Cemerlang di Kementerian (Semua) Agama

Tabarruk, engage dengan orang-orang pilihan merupakan bagian penting yang juga dilakoni oleh KH Bisri Mustofa, seperti yang sudah jamak dilakoni oleh kiai-kiai terdahulu. Nyuwun dan Nyadong berkah.  

Di tengah banjir bandang ijazah yang setengah terpengaruh oleh geliat tren informasi, Al Haqiibah, yang diterjemahkan sebagai Bagasi: Amalan Warisan Kyai Bisri merupakan kitab ijazah yang hadir sebagai pemuas dahaga di tengah disrupsi informasi.

Kala pertama memegang dan membuka, saya sudah bisa mengenali watak asli Kiai Bisri. Watak seorang cantrik yang gemar mencatat dan mendengar. Tak ayal, beliau melahirkan banyak kitab-kitab, utamanya Tafsir Al-Ibriz yang sudah dijamah bahkan kalangan internasional. 

Baca Juga Masih Ada Kabayan di Sunda dan di Nahdlatul Ulama

Tersebut dalam Al-Haqiibah nama seperti Syaikhina Cholil Harun, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Nawawi Kajen, Sayyid Abdul Qodir Bafaqih Tuban, KH Mahrus Aly Lirboyo, KH Abdullah Zaini Demak, KH Abdul Hamid Pasuruan, Simbah KH Ma’shum Lasem, KH Murtadho Tuban, KH Thoha Rembang, KH Ma’ruf Kedunglo dan KH Abdul Jabar Kajen. Yang menjadi lahan tabarruk, enggage, batu sandaran berupa amalan oleh KH Bisri Mustofa sepanjang hayat. 

Buku amalan ini, sekali lagi menjadi pegangan penting untuk captivating dunia pesantren yang tak lekang oleh zaman. Pesantren terus mengalami pergulatan, tumbuh membesar dalam menghidupkan mimpi tholabul ilm.

Al-Haqiibah bukan hanya setumpuk amalan warisan Kiai Bisri, melainkan stepping stones perjuangan, kerja keras secara sungguh-sungguh, sepanjang masa di dalam memperjuangkan masa depan dari kapasitas pesantren yang dipercaya jadi lebih baik.

Ala kulli hal, kita semua adalah penonton dari kisah fifteen minutes of fame yang mengajarkan bahwa mimpi selalu bisa dikejar sampai ujung dunia. Karena itu, pesantren dengan pergulatannya tak akan berhenti memproduksi interaksi baru.

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Back to top button