SAUJANA: 2 Banser Ajaib Gus Dur, Pria Jatmika, dan Siap Insya Allah!

PERADABAN.ID – “Dari mana saja kamu?! Disuruh jaga kok malah keluyuran seenaknya,” ungkapan pedas itu keluar dari mulut seorang Banser yang, satu jam yang lalu pamit keluar dari tugas jaga di Rumah Sakit. Ia marah sejadi-jadinya kepada Banser anggotanya yang usai keluyuran, disaat ada perintah jaga.
“Siap Ndan, dari mengantar Pak Kiai berziarah!”, jawab Banser gelagapan.
Satu jam sebelum komandan itu marah, Gus Dur berbaring di RSUD Koja, Jakarta Utara, dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangannya. Adik kandung Gus Dur, Umar Wahid, saat itu menjabat sebagai direksi pimpinan di RSUD Koja tersebut.
Mashur dalam beberapa kisah bahwa, ketika Gus Dur sakit dan sedang dirawat di Rumah Sakit, beliau selalu mengartikan anjuran dokter dengan tafsir yang sangat nyleneh. Wallahu A’lam.
Baca Juga SAUJANA: Kisah Para Penjaga
Begitu pula, malam ketika RSUD Koja sudah senyap. Lorong-lorong sudah hening dari kegetiran orang-orang yang sakit. Gus Dur tiba-tiba keluar dari kamar, mengajak satu Banser yang masih siaga berjaga untuk ziarah ke Makam Habib Husein al-Haddad (Mbah Priok) di dekat pintu Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Tiba-tiba.
Banser yang seyogyanya bertugas buat menjaga mantan Presiden RI tersebut agar merasa aman di Rumah Sakit, tak bisa mengelak, mau ngga mau, pada akhirnya menemani Gus Dur berziarah.
“Jangan buat alasan yang aneh-aneh. Saya hanya pergi sebenar lalu kembali. Dari tadi saya lihat Pak Kiai tidur di dalam sementara kamu tidak ada,” kejar sang Komandan yang heran dengan laku anggotanya tersebut.
Mereka pun garuk-garuk kepala, berdebat, dan bersitegang tentang penghilatan dan pengalaman mereka masing-masing. Gus Dur? Kalian tahu lah.
Baca Juga Kiai As’ad, Santri Perantara dan Kiai Penjaga NU
Jauh sebelum kejadian tersebut, Gus Dur pernah menantang Banser untuk unjuk gigi di hadapan Presiden AS dan Perdana Menteri Jepang yang saling flexing kebolehan tentara masing-masing saat berada di sebuah kapal pesiar.
Presiden AS bilang tentaranya mampu berenang mengelilingi kapal 10 kali tanpa henti. Perdana Menteri Jepang ngga terima, nyuruh tentaranya mengelilingi kapal hingga 25 kali. Dan langsung dibuktikan.
Gus Dur hampir dipermalukan dalam perdebatan itu. “Prajurit AS dan Jepang benar-benar pemberani,” batinnya. Sejenak Gus Dur ingat, kalau di dunia ini ada Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang berdiri sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Ini bapak-bapak, dia seorang anggota Banser NU. Dia bukan tentara, dan tidak pernah mengikuti lahitan militer resmi. Dia akan saya suruh berenang 100 kali,” kata Gus Dur sembari menepuk pundak anggota Banser tersebut berkali-kali.
Baca Juga Gus Dur, Pak Aang dan David Ozzora: Membangun Afirmasi dan Literasi Kemanusiaan
Sementara Presiden AS dan Perdana Menteri Jepang melongo, Gus Dur segera memberi instruksi kepada Banser tersebut,
“Ayo sekarang kamu nyebur ke laut dan berenang keliling kapal sampai 100 kali!,”perintah Presiden.
“Saya disuruh berenang mengilingi kapal sebesar ini sebanyak seratus kali? Mana mungkin Gus, saya tidak mau!” kata anggota Banser, “Gila Apa..!”, tambahnya menggerutu sambil lalu.
“Tuh kan bapak-bapak, sekarang tentara siapa yang lebih berani, tentara siapa yang lebih jatmika? Lha wong perintah presidennya aja tidak dipatuhi?” kata Gus Dur sambil menepukkan tangan kanan ke paha.
Baca Juga Kiai Saleh Lateng yang Berumah di Tubuh Gerakan Pemuda Ansor
Gus Dur dan Banser menjalin hubungan yang penuh muhibah, melampaui sekadar relasi pemimpin dan pengikut. Interaksi yang kaya akan humor, kebijaksanaan, dan spontanitas mencerminkan kepemimpinan unik Gus Dur: “Sang Murabbi Ruh”.
Tidak berhenti di situ, kisah-kisah Gus Dur bersama Banser jauh lebih kompleks dari sekadar pertanyaan orang asing mengenai cara menaruh wijen di onde-onde.
Suatu hari Gus Dur menjadi inspektur upacara Apel Banser di Bondowoso, Jawa Timur.
“Lapor, upacara Apel Banser Pengurus Cabang Ansor Kabupaten Bondowos siap dilaksanakan!” Komandan upacara melaporkan dengan sigap.
“Laksanakan!” Gus Dur memberi komando.
Biasanya, komandan upacara menimpali dengan “Siap, laksanakan!”, tetapi Banser sang pemimpin upacara ini menjawabnya dengan, “Insya Allah..”



