Kisah

Banser Memang Soal Khidmah, Tapi Bukan untuk Diromantisasi

Kita pantas tertawa. Sebab memang Banser, sudah lahir sejak sebelum kemerdekaan. Dulunya memang berbentuk laskar-laskar yang dipimpin kiai, ikut bertempur, 22 Oktober barangkali adalah contohnya.

PERADABAN.ID – Dalam perjalanan Jakarta – Leuwiliang Bogor, mata saya sempat melihat militer berlatih. Lapangan Tembak, sebuah tulisan berdiri di depan, sebelum kendaraan yang kami naiki berbelok ke kiri.

“Ada tentara latihan Banser-Banseran,” celetuk temanku di kursi belakang. Lekas tawa menyambar. “Wkwkwkwkwkwkwk,”

Kita pantas tertawa. Sebab memang Banser, sudah lahir sejak sebelum kemerdekaan. Dulunya memang berbentuk laskar-laskar yang dipimpin kiai, ikut bertempur, 22 Oktober barangkali adalah contohnya.

Meskipun sebagian orang mengatakan, “Banser main tentara-tentaraan.” Kami memaklumi. Karena ada yang bilang, bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Selebihnya, adalah kemalasan mencari informasi yang lebih utuh lagi.

Baca juga: Beransor ala Suratno

Perjalanan kami ke tempat tujuan, masih sekitar 20-40 menitan dari titik tolak kami saat melihat tentara latihan. Bisa jadi durasi itu lebih cepat bagi mereka yang sudah paham jalan.

Kami berangkat mengendarai mobil. Livina tahun 2010. Yang apabila ban mobil menyentuh jalan berlubang, krek bunyinya. “Kaki-kakinya mbok diganti,” temanku kesal karena pantatnya harus menahan sedikit sakit.

Soal Livina, tiba-tiba saya ingat lagi cerita Bang Ketum Addin Jauharudin, Panglima Tertingga Banser. Konon, beliau dulunya jualan telur menggunakan Livina, tepat setelah demisioner menjadi Ketua Umum PB PMII.

Dilalah, telur yang dibawanya berjatuhan memenuhi jalan. Lantaran pintu mobilnya tak tertutup rapat saat melewati jalan tanjakan.

Ah, kenapa harus mengingat pesan itu. “Kader Ansor jangan pernah gengsi, selama itu baik dan bermanfaat. Lakukan,” kira-kira begitu kata Bang Ketum. Kurang lebih.

Baca juga: Membela Akal Sehat di Tengah Banjir Hoaks

Hujan tidak tumpah, kendati mendung sudah menggantung di langit.

Semakin ke atas, jalannya hanya muat satu mobil. Berkelok dan nanjak, tibalah kami di depan gerbang. Kami kelewat sedikit sebelum akhirnya kami mundur beberapa meter, lalu masuk.

Maaaak, naik pula. Nasib sial mobil ini. Untungnya, dia masih bertahan. “Masak mobil ini kalah sama motor tuanya Ndan Bambang yang sampai Banyumas dari Jawa Barat,” kutukku dalam hati.

Sisi kiri setelah pintu masuk, ada lapangan buat main bola, juga bisa dibuat main voli atau bulu tangkis. Ahhh bola voli, kembali ingatan kepada Suratno yang mati. Gegara terlalu nekat pergi menjadi TKI, lantaran utang turnamen voli yang diadakannya belum kunjung terbayar.

Sebelah kanan, tampak 3 medan hidroponik. Semuanya tumbuh. Kami tak langsung menuju ke sana. Kami perlu duduk setelah 4 jam perjalanan.

“Ini roti buatan kader, Kang,” kata Kader Ansor Leuwiliang, yang menerima kami. “Silahkan dinikmati,” tangan hitamnya yang agak tebal, masih sibuk menuangkan kopi saset dan air panas dari termos berwarna hijau ke 4 gelas. “Rupanya beliau belum bikin kopi juga,” batinku.

“Ini yang keren,” kata temanku sambil duduk bersila.

“Semalam saya dihubungi, katanya ada tim media Ansor mau ke sini, silaturahmi,” lagi-lagi kedoknya silaturahmi, padahal mau ngerepoti.

“Iya lagi pengen ngobrol aja Kang dengan para sahabat yang hidupnya dihibahkan untuk bertani. Sesuatu yang mungkin sudah tidak lagi dilirik banyak pemuda,”

“Hehe. Kami bertani sebenarnya juga merupakan warisan. Ini sudah ada, kita lanjutkan,”

“Yang lain kan juga udah pada pergi,”

“Pemuda itu butuh bukti Kang. Selama ini tidak ada pemuda kaya karena bertani,”

Tengkulak, lekas dia bicarakan. Harga anjlok dan banyak lainnya.

“Dua sahabat saya ini juga bertani. Kalau saya hidroponik, temenku ini konvensional. Tapi kita saling ngabari kalau banyak permintaan, saling silang, saling membantu,”

Sekitar 7 bulanan menjajaki hidroponik. Lokasinya berada di sekolah. “Kita manfaatkan saja lahan yang kosong,”

MTS Mazro’atussibyan nama sekolahnya, milik salah satu pengurus MWC NU infonya.

“Saya juga ngajar di sini kang, temenku Banser ini juga penyuluh,” seketika menyambung obrolan.

Mereka anggota Ansor, kader Banser tapi lulusan sarjana semua. Menjadi pendidik, juga bertani.

“Nanti jam 7 malam kami ada rapat, Kang,”

Kami pamit undur diri, sebelum magrib tiba.

Related Articles

Back to top button