Dialog Gus Yaqut dengan Najwa, Humor Santri yang Kurang Beruntung

PERADABAN.ID – “Itu dihitung nyantri gak ya, kalau nyantri-nya di rumah sendiri?” tanya Najwa Shihab di acara Malam Anugerah Satu Abad NU.
“Jadi saya ini golongannya santri yang kurang beruntung, karena tidak punya pengalaman nyantri di tempat lain,” jawab Gus Yaqut.
Gus Yaqut, sapaan karib Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas, tumbuh di lingkungan pesantren. Ia dibimbing langsung oleh ayahandanya, KH Cholil Bisri, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.
“Saya membayangkan kalau saya bisa berkelana seperti santri-santri lain, yang menjadi Ketua Umum PBNU saya,” seloroh Gus Yaqut disambut tawa hadirin.
“Dan kakak saya (KH Yahya Cholil Staquf) cukup Menteri Agama saja,” lanjutnya.
“Oh ternyata Menteri cukup ya,” sela Najwa.
“Beruntunglah kakak saya, yang menjadi Ketua Umum PBNU karena dia bisa manggil-manggil Menteri Agama seenaknya,” tawa bergemuruh di ruangan Teater Tanah Airku, TMII.
“Tapi Gus, kalau mengingat-ngingat dulu, Gus Yaqut itu kategori santri yang bandel, setengah bandel, atau nurut taat sama kiai?”
“Saya kira bisa dilihat dari kebijakan-kebijakan yang saya ambil di Kementerian Agama. Nah itu gambaran,”
“Berarti jawabannya jelas, bandel sekali. Bisa saya konfirmasi langsung loh sama Gus Mus di sini,”
Di sela itu, Najwa Sihab menilai bahwa pesantren merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Nahdlatul Ulama. Perannya luar biasa, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tapi juga ekonomi, dakwah, sosial, hingga perjuangan.
“Mewarnai setiap langkah jejak negeri ini dan sampai 1 Abad Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Kita tahu, Gus Yaqut menimpali, bahwa pesantren dan Nahdlatul Ulama suatu hal yang tidak bisa terpisahkan. Melihat pesantren, sama dengan melihat Nahdlatul Ulama.
“Pesantren ini NU kecil, sementara NU itu pesantren besar,” kata Gus Yaqut.




2 Comments