Opini

Bendera

PERADABAN.ID – Bendera yang melambai-lambai di sepanjang Jl. Kramat, kawasan Jakarta Pusat itu, seperti menyambut tawa riang jamaah haji yang baru pulang dari Saudi.

Ia seperti menyambut arakan keterpaduan; spiritual, budaya, kerinduan dan mata pencahariannya yang menunggu.

Setelah beberapa minggu lamanya menyelam dzikir di cuaca panas Saudi, di Tanah Air kembali meneduh di bawah pohon kelapa rindang dekat ladang sawahnya, menandur benih hasil utangannya dari tengkulak.

Dan bendera berwarna Merah Putih itu, seperti tak lelahnya menyiapkan diri untuk jadi renungan dan peringatan setahun sekali lamanya. Di jahit Fatmawati, dikibarkan harga diri.

Jika pun ada yang menawarnya, ia lantang mengatakan; tak boleh ditawar, harga mati!

Baca Juga

Sudah pasti bisa ditebak, saat bendera mulai kirab-marak, di sepanjang jalan trotoar, di depan-depan kantor lurah hingga Jl. Merdeka dekat Istana ditambah dengan pondasi panggung yang sudah terpasang mewah, Agustus akan dirayakan sebagai hari kemerdekaan.

Bagi anak muda yang haus akan pamer, tanggal lahirmu di Agustus, harus minder karena kemeriahan tumpeng dan kue ulang tahun di atas mejamu tak lebih kecil dari perayaan seluruh umat manusia Indonesia.

Mungkin juga, dari media akan mengabarkan lomba kelereng diadakan di Palestina. Ucapan para pejabat melalui poster dan video pendek, berdengung di layar kaca dan sosial media.

Sementara di rumah-rumah kontrak 3 petak berdempetan, jalan umum yang sempit untuk sementara ditutup, sebab tak ada halaman dan lapangan, untuk lomba anak-anak memasukkan paku ke dalam botol. Tidak ada panjat pinang, merebut hadiah dan manggigit kerupuk. Sebab, tanah sudah padat diaspal beton.

Sambil meliuk-liuk bendera terbuat dari kertas ujian sekolah, disusun rapi dan dibentangkan benang bekas layangan, ditali dari tiang jemuran ke jemuran milik tetangga. Bendera Merah Putih berbisik-bisik lirih; merdeka!? Cemas.

Baca Juga

Saking pentingnya bendera Merah Putih, Gus Dur tak menginginkan bendera bintang kejora berkibar di atasnya sesentipun. Lebih keras lagi, TNI dan Polri akan marah besar bila itu terjadi, mau sejajar, lebih rendah apalagi lebih tinggi.

“Jika kalian menghendaki merdeka, berarti kalian bersebrangan dengan saya. Tapi jika kalian ingin meluhurkan martabat orang-orang Papua, saya akan mendukung penuh. Mengenai soal identitas, jika itu penting bagi orang-orang Papua, saya mendukung.” Kata Gus Dur.

Tentang bendera saja begitu rumitnya di Tanah Air. Hanya berbeda pendekatan saja, Gus Dur harus bersitegang dengan TNI, lalu Kapolri Bimantoro, hubungan keduanya ikut merenggang.

Tetapi, kita mengetahui sosok Gus Dur bagaimana. Sebagaimana kutipan ungkapan di atas dalam buku Menghidupkan Gus Dur itu. Soal martabat kemanusiaan ia tidak main-main keberpihakannya. Pun ketegasan soal kedaulatan negaranya, ia berani pasang badan, termasuk jabatannya, ia bisa mengalah tanpa syarat.

Ketegasan atas keluhuran martabat kemanusiaan inilah yang mendarah daging bagi santri-santrinya, termasuk kepada juru bicara yang membaca Maklumat Presiden 2021 lalu itu, KH Yahya Cholil Staquf, tepat dinihari.

Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Suatu dialog Podcast membuat terang peristiwa ini. Dirinya sempat dilempar pertimbangan dari beragam pihak untuk mengurungkan niat hadir dalam forum di Israel.

Tapi tekadnya membuat dirinya kekeh berangkat. Pertimbangan politik, hubungan internasional dan lain-lainnya, didudukkan di kursi ruang tamu. Tentu saja bukan pertimbangan karena sudah terjadwal lama, atau sudah telebih dulu sebelum mejabat Dewan Pertimbangan Presiden RI undangan itu menotif surelnya.

Tekadnya berangkat, hemat saya, dilandasi visi yang besar. Pendekatan alternatif untuk mengurai kemelut kemanusiaan, sekaligus ikhtiar luhur untuk martabat manusia.

Sisi lain yang tak terduga. Seperti Gus Dur kerap melakukannya. Selamat datang Agustus!

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button