Opini

Merawat Natal dan Riyanto

PERADABAN.ID – Senang sekali menyaksikan setiap orang mendapat kesempatan menjumpai Natal hingga tahun ini. Natal berarti suka-cita memperingati Yesus yang mengorbankan dirinya demi sesuatu yang sangat penting bagi manusia.

Jika berbicara tentang pengorbanan, saya teringat almarhum Riyanto, anggota Banser Kota Mojokerto yang meninggal dengan sangat heroik saat menyelamatkan gereja Eben Heizer tahun 2000 lalu. Ia mengorbankan dirinya mengevakuasi bom agar tidak meledak di gereja tersebut.

Pria ini adalah satu dari ratusan ribu anggota Banser yang kala itu sedang menjalankan perintah Gus Dur, tokoh paling berpengaruh di kalangan Nahdliyin yang juga Presiden RI ke-4.

Baca Juga Requiem Sahabat Riyanto, Sang Gigantik Kemanusiaan

Riyanto adalah monumen abadi relasi Banser dan Natal yang tidak akan pernah bisa dianulir oleh sejarah. Monumen ini harus terus kita rawat karena saat ini terdapat kekuatan besar yang mengancam hubungan baik Kristen-Islam di Indonesia.

Bagi saya, Riyanto adalah pahlawan. Ia menderita agar orang lain yang tidak seagama dengannya bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk, tidak terganggu bom. Epos keberaniannya masih terus kita nikmati hingga sekarang.

Baca Juga SAUJANA: 2 Banser Ajaib Gus Dur, Pria Jatmika, dan Siap Insya Allah!

Riyanto adalah cerminan teologi tertinggi dari semua agama, yakni “sejauhmana seseorang bersedia menderita bagi orang lain,” Dalam bahasa al-Quran, menurut saya, teologi ini berbunyi “lan tanalu al-birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun”

Itu sebabnya, saya mengajak dengan hormat kepada teman-teman Kristiani dan siapapun juga untuk berkenan mendoakan almarhum dalam ibadah Natal yang diselenggarakan. Bukan demi dia, namun demi masa depan relasi Kristen-Islam yang kini terus mengalami rongrongan.

Oleh: Aan Anshori, Pengajar di UNHASY Jombang, Pengurus PW Ansor Jatim

Related Articles

Back to top button