Opini

Jejak Mandat Peradaban

PERADABAN.ID – Sepintas, narasi mandat peradaban oleh Gus Yahya itu adalah bentuk kontinuitas dari apa yang dilakukan Gus Dur dan Gus Mus dalam kancah global. Hal ini sama sekali tidak salah, karena memang, pergaulan Gus Yahya dalam kancah global, tidak lepas dari peran dua tokoh besar itu.

Ada sekian banyak forum global yang diikuti oleh Gus Yahya, bermula dari ajakan Gus Mus. Lalu keinginan menghidupkan Gus Dur, menjadi titik tolak mandat peradaban itu menggelinding sebagai diskursus yang populis, baik di kalangan NU atau di luar NU.

Jejak narasi mandat peradaban itu, jika dipilah dari beberapa pernyataan dan tulisan sudah terpantau lampau eksis. Sejak perang dunia pertama, yang mendaulat kekalahan Utsmani, peradaban baru sudah mulai ditangkap oleh para kiai dan ulama NU. Peristiwa Komite Hijaz semakin menguatkan NU untuk ‘ambil alih’ peradaban itu.

Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Kiai Wahab dan rombongan para kiai yang hadir ke Saudi, sepulangnya membawa usulan didirikannya lembaga keulamaan, yang kemudian hari dikenal dengan Nahdlatul Ulama (NU). Usulan ini bukan tanpa sebab. Otoritas yang dulunya dipegang Utsmani dalam masalah sosial politik komunitas Islam, tenggelam bersama kapal kekalahan Utsmani.

Saudi juga sepertinya ragu-ragu mengambil mandat itu. Usulan didirikannya NU itu sebagai lembaga keulamaan yang melatuk analisa, bahwa mandat peradaban kini beralih ke pangkuan NU, atau setidaknya, harus dibuat satu peradaban baru yang menjadi payung bersama mewujudkan peradaban kosmopolitan Islam.

Dalam perjalanannya, NU malang-melintang dalam relasinya dengan negara. Begitu juga dengan masyarakat. Relasinya fluktuatif dengan negara, kadang akur, kadang menjaga jarak, bahkan berhadap-hadapan.

Muktamar Situbondo, yang melahirkan trilogi ukhuwah NU itu, semakin membuat terang bahwa peradaban itu memang dimandatkan kepada NU. Ukhuwah Basyariyah, atau persaudaraan dalam kemanusiaan, dilantangkan dari atas mimbar oleh Kiai Ahmad Siddiq.

Persaudaraan kemanusiaan itu melintasi batas keyakinan, etnis, dan identitas lainnya. Panggungnya adalah kemanusiaan, terlepas dari teritori atau ukuran hukum batas negara. Irama peradaban dalam tubuh NU sendiri sebenarnya mempunyai jejak yang amat panjang dan sambung-menyambung.

Mandat peradaban itu seperti perasan atau penamaan saja dari apa yang dilakukan, disifatkan, disikapkan, dinilaikan oleh para pendahulu. Beratnya sekarang adalah merekontektualisasi mandat peradaban itu ke dalam lingkungan yang jauh berbeda dengan sebelumnya.

Baca Juga Ijtihad Ketahanan Ekonomi NU

Saat saya melihat judul dan isi buku Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama, ada satu konteks yang memang difokuskan menjadi tujuan. Sub tema dalam judul itu adalah Tajdid Jam’iyyah untuk Khidmah Millenial. Kata jam’iyyah dan millenial ini tidak hanya mendudukkan representasi kalangan atau komposisi kependukan belaka. Tapi sangat kompleks.

Millenial, bukan lagi tentang teks, tetapi ia adalah konteks yang hidup dan dinamis. Bukan hanya bicara tentang manusia yang lahir tahun ini sampai tahun ini, tetapi juga menjelaskan alas kebiasaan, kontruksi berpikirnya, sikap dan lain sebagainya. Millenial di sini dalam pemahaman saya, menjelaskan tentang budaya, sosial, ekonomi, politik, agama dan lainnya yang begitu definitf berbeda.

Artinya, mandat peradaban itu memautkan dan akan terus terpaut dengan konteks zaman yang tidak stagnan, yang dinamis, dan niscaya berubah. Ini dibutuhkan kepekaan dan strategi pimpinan kita, kiai dan ulama, untuk menjelaskan dan membawa mandat peradaban itu agar selalu diterima dalam setiap zamannya. Dan dalam konteks sekarang, ada pada Gus Yahya.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button