Opini

Keluarga dan Moderasi Beragama dari Sepotong Puisi Natal

PERADABAN.ID Engkau menyebutnya Yesus anak Tuhan, aku menyebutnya Isa anak Mariam. Tapi iman ini wahai saudaraku bukan tembok tebal yang akan memisahkan persaudaraan, karena kita manusia yang tinggal di tanah yang sama Indonesia

Sepotong puisi yang dibacakan Gus Yaqut saat Natal Nasional 2023 di Surabaya beberapa hari yang lalu, tidak hanya menjadi penutup sambutannya. Lebih dari itu, ia menali perbedaan-perbedaan yang terus ada dalam rahmat kebhinekaan, sebagai sebuah ingatan sekaligus teladan.

Maksudnya, dia bisa saja menarik ingatan ke belakang, saat kader Banser tetiba memeluk bom di tengah tempat ibadah umat Kristiani lalu tubuhnya jatuh di ubin gereja: tak bernyawa untuk kemanusiaan.

Atau jauh sebelumnya, 1928 saat darah, bangsa dan bahasa dicetuskan sebagai simpul “Sumpah Pemuda”. Di antara lainnya, barangkali yang paling monumental bagi penerimaan ideologi negara bernama Pancasila oleh sebuah organisasi kebangkitan ulama, tepat tahun 1984.

Lalu dia juga menjadi teladan, bagi siapapun bangsa yang ingin belajar. Tentang bagaimana, agama menjadi roh konstitusi “Atas berkat Tuhan Yang Maha Kuasa”, disusul Sila Pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” hingga urusan politik pun, juga tersemat agama di dalamnya.

Baca juga:

Atas itu semua, figura perbedaan yang ada, bisa bersandingan di dinding besar Indonesia. Sesekali seteru menderu, tapi tidak meletup berkepanjangan. Dia terkikis oleh kesadaran yang cepat tumbuh, bahwa kata pendiri, pondasi Indonesia adalah keberagaman.

Lantas, kenapa moderasi beragama masih penting? Pentingnya moderasi beragama disebabkan karena kehidupan tidak stagnan. Dia berubah dengan alur yang tidak diduga. Tiba-tiba terjadi bom, tiba-tiba rumah ibadah tidak diterima warga, bahkan kita juga pernah menyaksikan mayat tidak diterima disholatkan hanya karena berbeda pilihan politik.

Karena agama, juga bisa menjadi bencana kata Charles Kimball, saat pengkultusan terhadap suatu ajaran dan nilai diimplementasikan dengan absolut. Menyingkirkan yang berbeda, termasuk menimbulkan seteru.

Apa yang dikatakan Gus Yahya soal agama dan peperangan ini menemukan titik benarnya, bahwa harus ada kejujuran dari umat beragama mengenai sumber kejahatan dan peperangan yang tak jarang bersumber dari agama dan cara-cara umat beragama.

Di sini sebenarnya letak penting moderasi beragama di tengah kehidupan yang terus bergulir. Di tengah konflik dan radang sosial yang tidak selesai. Dan cara beragama yang moderat, harus didialogkan dan membutuhkan keteladanan.

Keluarga, menjadi alternatif sekaligus alat paling vital dalam transformasi keteladanan ini. Ruang paling kecil dalam bilik sosial, yang bisa langsung mencontohkan kepada sekitar yang paling dekat, bagaimana hidup di tengah keberagaman dan menghidupi persatuan.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button