Opini

Lima Resolusi Progresif 2024, yang Nomor Lima Akan Mengubah Hidup Keluarga Anda 

PERADABAN.ID – Kepunahan masyarakat berkelas tidak akan terjadi di tahun 2024. Saya percaya, ia akan terjadi. Namun, kalau Anda sekarang masih wara-wiri memburu resolusi tahun baru, jangan jadikan tahun 2024 sebagai masa depan resolusi Anda. 

Hal ini bukan seyogyanya Anda mengubur resolusi progresif dan menganggap resolusi yang realistis di tahun 2024 adalah mencicipi soto ayam di seantero kota atau menambah sekian ratus ribu follower instagram.

Ada segelintir resolusi berfaedah, yang bahkan, dapat rampung di pertengahan awal tahun 2024 nanti. Dan kebanyakan tak mensyaratkan Anda untuk menjadi pertapa kiri yang menganggap dunia hanya buaian dan hiburan belaka. 

Lantas apa saja? Saya bantu mengurutkan resolusi progresif yang dapat keluarga Anda amalkan di hari-hari pertama tahun 2024 nanti.   

Baca Juga Keluarga Sakinah, di Tengah Sejarah dan Keberpihakan

Rangkul teknologi. Jangan antiteknologi

Teknologi tak berperasaan. Saya tahu. Ia bahkan menggulung dirimu hingga tak bisa keluar dari labirin-labirinnya. Perusahaan digital rintisan mencoba mengoleksi mahadata yang didapat dari Anda untuk mengurung mati perilaku sosial dan ekonomi Anda sepanjang hayat. 

Namun, bahaya-bahaya barusan tidak sepatutnya membuat Anda alergi terhadap teknologi. Karena pada dasarnya ia hanyalah alat. Pada dasarnya, ia memungkinkan kerja yang diotomasi dan dikoordinasi secara efisien. Anda dapat menghasilkan nilai yang sama dalam waktu yang lebih irit. 

Lantas sisa waktunya buat apa? Buat berhaha-hihi bersama keluarga, menemani perkembangan dan pertumbuhan kognitif pun motorik anak-anak dengan memutar misalnya baby shark dance, atau kalau Anda tipe orangtua yang berbudaya, ya ajari mereka menggambar, dongeng, dan permainan tradisional lainnya. 

Atau menggeluti aktivitas yang Anda gemari, mewujudkan mimpi yang tertunda, bahkan membangun platform ide baru buat memudahkan masyarakat di sekitar Anda. 

Toh, para pengadopsi paling sigap dari teknologi adalah para pengepul investasi, pemodal dengan gurita-gurita bisnisnya. Namun bila Anda kolektif bersama kolega-kolega, Anda bisa saja menjadi pengadopsi teknologi yang lebih membumi. 

Jangan takut kekurangan resources, karena sebagian besar budak korporat mengeluh karena merasa useless dan belum bisa menunaikan impiannya. Ajak saja. Eksperimen-eksperimen kecil tapi meninggalkan memori baik adalah kunci di dunia serba mungkin ini. 

Jangan takut bahagia

Murung dan merasa melarat kini bukan pilihan baik. Jujur, ia mungkin sering hinggap di pikiran-pikiran keluarga baru. Tapi tak ada jalan lain kecuali terus memahami peluang-peluang kecil dari kerja kebudayaan yang membuka ruang besar kebahagiaan. 

Dalam bahasa yang lebih taktis, kerja itu sebenarnya buat mencari bekal hidup, bukan bekal ibadah. Namun, kalau hidupmu itu seutuhnya kamu niatkan buat ibadah, ia akan menjadi jariyah. 

Mungkin itu terdengar seperti klise, tapi coba kita lihat. Kita punya uang yang cukup buat beli mobil. Dalam proses memilih mobil, kita menaksir apakah mobil ini cukup menampung sekian orang, cukup menempuh sekian jarak dan cukup untuk dilihat orang?

Pilihan-pilihan kecil itu cukup memperkaya nilai barang yang berlanjut ke ranah ibadah. Sehingga bahagia bukan barang mewah bagi siapa yang sanggup memahami wadah dan isinya secara jujur. 

Anda toh, seharusnya mengerti apa yang harus dipertaruhkan sebelum memulai berjudi. 

Baca Juga NU, Akses Kesejahteraan, dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

Jangan tepis kerja reproduktif

Jangan kira apa yang bernilai dalam gerangan cuma mobilisasi massa, celoteh, diskusi, program atau tulisan. Nilai ada di mana-mana. Cara berpikir yang membatasi nilai hanya tercitrakan dalam tindakan dan aksi yang gagah, maskulin dan merombak masyarakat rawan mengabaikan kerja-kerja reproduktif yang esensial. 

Saya bocorkan saja, fakta perihal sebagian LSM yang juru bicaranya tampil mentereng membela hak-hak umat manusia. Di balik kegagahan segelintir manusianya itu, ada kerja berdarah-darah, berurai air mata, mengurusi proposal, mengotak-atik anggaran, mengelola penerima manfaat dan melakoni drama korea dengan atasan, penyantun serta organisasi lain.   

Kegagahan juru bicaranya tak akan terjadi tanpa kerja-kerja yang mengobarkan jam tidur dan kewarasannya. Maka apropriasi nilai secara telanjang terjadi akibat semesta pikiran kita yang terpaku pada kerja-kerja produktif. 

Maka dalam keluarga diberlakukan asas mubadalah atau kesalingan. Kerja tak sepantasnya dinilai dari apa yang tampak, tapi lebih ke apa yang bisa diperbuat dan dijalani dengan baik, lebih-lebih bersama-sama. 

Jangan termakan dikotomi copras-capres

Persepsi yang sering dilekatkan dengan orang NU adalah melarat atau kemelaratan. Stigma awal barang kali muncul karena orang NU jamak mendiami desa-desa, bahkan dalam nomenklatur politik mereka disebut sebagai kalangan akar rumput (grassroot).

Bahasa akar rumput ini tercium sebagai upaya deligitimasi pejabat kepada rakyat di bawah. Sehingga treatment terhadap mereka terdengar seperti dipukul rata sebagai orang-orang melarat. Karena itu, program akar rumput sering dibakar sebagai program prioritas setiap tahunnya. 

Tanpa menepis adanya kemiskinan struktural, mindset masyarakat akan pesta lima tahunan itu perlu dihilangkan dengan memberdayakan diri sebagai kalangan yang tidak suka mengemis. Rekognisi akan muncul dari sebuah kehadiran, bukan keampasan. 

Karena keluarga adalah cerminan masyarakatnya. Kalau keluarga satu bermain di keruhnya lembah, tanpa menunggu waktu lama, ia menggeret yang lain tersungkur lebih dalam di antah-berantah tersebut.

Dan terakhir,

Sekedar mengingatkan, pemberdayaan keluarga harus menyertakan rencana transformasi modus produksi yang jelas. Jangan lupa. 

Karena tanpa modus produksi yang jelas. Ia hanya sekadar gertakan alias gerak revolusioner palsu. 

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button