Opini

Gelar Humor Kehormatan

PERADABAN.ID – Tidak hanya politik yang menjadi ‘ladang humor’ bagi para tokoh Nahdlatul Ulama (NU), utamanya bagi Gus Dur. Di beberapa kesempatan, Gus Dur kerap melontarkan humor terkait pendidikan.

Salah satunya, adalah ketika namanya direncanakan akan disematkan menjadi sebuah lembaga pendidikan, sekolah atau universitas.

“Ah, nama saya paling untuk TK saja,” kata Gus Dur sambil tertawa.

Jawaban ini tentu saja membuat pertanyaan-pertanyaan lain mendesak untuk dilontarkan, mengingat kebesaran nama Gus Dur yang sudah kadung tenar dan penuh teladan.

Ghofar Rahman, ketua Ma’arif NU di masa itu, rupanya mengetahui kenapa demikian Gus Dur menjawabnya, namanya cukup disandangkan untuk tingkat pendidikan TK.

“Kata Gus Dur, kalau nama Universitas, itu sudah jadi milik Mbah Hasyim, makanya ada UNHAS. Kalau untuk SMA dan Aliyah sudah jadi milik Kiai Wahid Hasyim,” kata Pak Ghofar.

Untuk SMP dan Tsanawiyah, lanjutnya, menggunakan nama Mbah Bisri atau Mbah Wahab, untuk SD ada nama KH Yusuf Hasyim.

“Nah, kan Gus Dur nanti hanya kebagian TK, TK Abdurrahman Wahid,” Gus Dur dan semua orang serentak ngakak.

Bagi Gus Dur, intitusi pendidikan kudu seiring dengan kualitas dan mutu pendidikan, tidak sekedar penyematan nama tokoh-tokoh besar NU. Kendati dengan humor, begitulah tampaknya Gus Dur menunjukkan keberpihakannya terhadap pendidikan di lingkungan NU.

Humor Gus Dur, termasuk tokoh-tokoh di lingkungan NU, adalah bagian dari kehidupan. Tidak sedikit, dan jamak, humor terlontar di acara-acara NU. Bahkan di luar acara NU pun, apabila yang mengisi adalah orang NU, nyaris melontarkan humor.

Hal ini dapat disaksikan saat Gus Yahya, Ketum PBNU, melontarkan humor di tengah para pakar, akademisi dan tokoh masyarakat hingga jajaran Menteri sekalipun. Yakni, saat dirinya didapuk Gelar Doktor Kehormatan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Ada dua orang yang baru bisa lulus kalau kampusnya dibakar. Yang pertama Yahya Staquf dan Saifullah Yusuf,” humor yang membuat tawa pecah ini berasal dari Gus Dur, ditirukan Gus Yahya.

Tidak hanya itu, humor demi humor terlontar spontan. Semisal terkait dengan ukuran toga Gus Yahya, yang mulanya pas, ternyata saat dikenakan di atas podium menjadi kecil.

“Mungkin karena setelah sampai sini saya tambah gede ndase. Topinya jadi terasa sesak,” kata Gus Yahya.

Dari dua tokoh NU di atas, humor menjadi hidup, menyentuh sendi pergumulan kemanusian yang melulu dibicarakan dengan urat yang kaku dan menyebabkan kening mengkerut.

Gus Yahya, sebagaimana dia selalu mengatakan akan ‘menghidupkan Gus Dur’, rasanya bukan saja pemikiran Gus Dur saja, akan tetapi juga humornya.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button