Gus Yahya Nilai Basis dan Karakteristik Warga NU Berkembang Cepat dan Beragam

PERADABAN.ID – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai fenomena basis dan karakteristik warga Nahdlatul Ulama (NU) berkembang dengan sangat cepat dan memiliki karakter beragam.
“Tahun 1955 itu adalah pertama kali NU bisa mengukur besaran basis warganya, ketika NU mendapatkan suara sekitar 18 persen,” jelasnya dalam acara Sosialisai GKMNU Provinsi Jawa Barat, Bandung, Jumat (3/11/2023).
Dengan perolehan suara tersebut, Gus Yahya menilai bahwa warga NU berjumlah 18 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Gus Yahya menjelaskan bertambahnya basis warga NU setelah era reformasi dengan mengutip data-data lembaga survei yang secara ekplisit menjelaskan porsentase kewargaan NU.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2005 menyebut sebanyak 27 persen mengaku warga NU. Pada tahun 2010, Indo Barometer menyebut warga NU menyentuh 47 persen. Sementara pada tahun 2018, Alvara menyatakan 55 persen mengaku NU, lalu pada 2022 sebanyak 59,2 persen mengaku NU.
Baca juga:
- Survei Alvara, Capres yang Paling Menguasai Algoritma Berpeluang Menang di Pilpres 2024
- Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
Fenomena pesatnya perkembangan basis warga NU dikuti oleh karakteristik kewargaan yang berlatar beragam. Yang mulanya, keanggotaan hanya diisi oleh para kiai, sejak tahun 1950-an anggota NU berlatar berbeda-beda.
“Tahun 1930-an itu adalah NU yang isinya kiai dan wali semua. Kelasnya Kiai Hasyim Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri, Kiai Ridwan Abdullah. Dan waktu itu kalau ndak kiai beneran ndak bisa jadi anggota. Saya daftar jadi anggota gak akan diterima karena tidak masuk kategori kiai beneran,” tambahnya.
Gus Yahya mencontohkan kewargaan yang berlatar baru di tubuh NU sejak tahun 1950-an, seperi Oemar Ismail, Jamaludin Malik, Asrul Sani, dan Mahbud Djunaidi. Di era 1970-an itu, juga mucul profesi kepegawaian dan jenis pendidikan beragam di kalangan warga NU.
Atas perubahan ini, Gus Yahya mendorong pelayanan PBNU yang inklusif agar bisa langsung menyentuh warga NU. Satu pola kegiatan yang berorientasi pada pelayanan basis. Pengembangan khidmah yang lebih luas sesuai hajat di akar rumput.



