Kerak Peradaban

PERADABAN.ID – Nampan berisi sisa satu gelas ia letakkan di atas meja bundar kaca. Kaos kerahnya tampak longgar, tergores rintikan hujan yang sejak sore tumpah di Sidoarjo. Topi yang dikenakan, kusut.
“Boleh saya nyanyi, Mas,” pintanya sopan.
Seingatku, demikian suara itu terdengar. Pengasong itu membawakan dua lagu milik Iwan Fals. Dia memang mengaku bahwa suaranya memang tidak laik didengar.
Tampak dari petikan dan getir suaranya, ia sudah lama tak menyentuh alat musik yang biasa dimainkannya, mungkin. Suaranya pun, tak terasah sebab keseringan teriak menawarkan gelas es teh yang berjejer di nampan kayunya, pikirku.
“Saya hanya suka sama Iwan Fals,”
Sumringah wajahnya kelihatan setelah kami yang duduk di stand Nahdlatut Tujjar Fest bertepuk tangan.
“Saya pergi dulu Mas, terima kasih, es tehnya di sini aja,” katanya.
Salam itu, mengakhiri lagunya, juga tentang makna kecintaan seseorang terhadap idolanya.
Keesokan harinya, tepat setelah rombongan Presiden dan jemaah meninggalkan lorong pintu stadion, saya menilik saja berjalan-jalan. Sesekali melihat kaos, atau buku-buku, hingga membeli pentol di tepi jalan.
Sebelumnya, dari laman streaming, saya menikmati koreografi 12.000 Banser NU, Addie MS, penampilan sholawat, hingga tulisan dan bendera Indonesia dan NU yang membentang di tribun, menatap peradaban.
Sesekali menyelami kedalaman samudera makna pidato yang disampaikan para tokoh di dalamnya. Suara teduh, gelegar dan harapan, seiring menjulang menembus jalan-jalan yang macet, tempat para jamaah duduk atau berdiri, hingga mobil-mobil tamu undangan yang berasal dari ragam kalangan, mulai dari para tokoh hingga masyayikh.
Baca juga
Sejak itu pula, celotehan di sosmed bergelantung mencibir. Diarahkan kepada sang panitia, dan banyak lainnya.
Yang jelas, dalam seksama saya menyimak, mereka tidak menyukai tokoh-tokoh yang berada di dalamnya Mungkin, karena ketidaksukaannya kepada salah satu tokoh yang berdiri di depan barisan pulahan ribu Banser yang tak sepmpurna melafalkan salam, atau skenario yang digunakan panitia. Entah.
Yang menyesakkan, mereka kelewat membubuhi dengan dalil-dalil yang lama mengakar di dalam tradisi NU. Nahasnya, mereka begitu yakin, bahwa yang disampaikannya adalah kebenaran yang harus disampaikan. Laku dan adabnya, sudah ketiban tersingkir karena kadung digandrungi ketidaksukaan.
Dari penjuru mana mereka menggerakkan jemarinya, saya tidak memahami betul. Yang tampak dan jelas, adalah kebencian yang digelorakan, alih-alih melakukan kritik.
Bagi mereka, mungkin, ‘NU yang benar’ adalah yang diyakininya dalam hati dan pikirannya, kendati norak. Bisa jadi karena patronase terhadap atasannya, atau alasan lain yang mendorongnya.
Klaim kebenaran ini teramat berbahaya, saya rasa, mengotori peradaban. Bahwa perasaan paling berhak memiliki, hanya menampakkan ekslusivisitas semata, bukan apa-apa, nihil nilai. Mengatasnamakan diri sebagai pencinta NU, tapi membabi buta mengkritik orang-orang yang ada di dalam struktur NU.
Baca juga:
Lalu saya menghidupkan kamera HP. Saya rekam ribuan siswa membawa kantong plastik, memungut sampah demi sampah. Sapu lidi dan serok menempel di tangannya, tali berwana hijau terikat di bagian tangannya.
Sudah sering kami melakukan ini, Mas. Setiap harlah kami kerahkan siswa dan guru untuk berpartisipasi. Biar nyaman para jamaah, kami mendapatkan pahala. Berkhidmah untuk NU. Ringkasan ucapan ini masih basah dalam ingatan saya.
Saya meyakininya, bahwa ribuan siswa dan guru itu yang memungut sampah, juga seorang ibu yang melelapkan anandanya sambil lalu menunggu sang suami membersihkan sampah, sama halnya dengan saya, tidak bisa masuk ke dalam GOR.
Hanya tergerak untuk ikut-ikutan menghadiri, lebih-lebih untuk berpartisipasi, berharap mendapat berkah – meminjam bahasanya Gus Yahya – dari tirakat riyadhoh para muassis dan jamaah selama 100 tahun, dalam rentan peradaban yang diidamkan.
Tetiba, saat saya mulai kembali duduk, sambil mencicipi kopi gratis berbalut gelas platik, terlintas cerita KH Hasyim Asy’ari dan KH Faqih Maskumambang. Kentongan yang membuat kedua muassis terebut berbeda pendapat, dan bagaimana mereka saling menghormati perbedaan tersebut, dalam pikir dan lakunya.
Apa yang dilakukan Mbah Hasyim dan Kiai Faqih begitu indah, penuh teladan. Dan sekarang, perbedaan itu, nyaris tak dilengkapi oleh sikap saling menghormati. Mengendap, menjadi kerak, dari peradaban.




3 Comments