Gus Yahya: Budaya Demokrasi Penting untuk Mengelola Ancaman Konflik

PERADABAN.ID, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan dalam mengelola konflik kita harus membangun budaya demokrasi dalam Imaji Satu Abad Indonesia yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (26/7/22).
Setelah pemahaman tentang kemanusiaan, kesetaraan dan keadilan yang sudah lama diterapkan di dalam praktik kebangsaan, tidak membuat Indonesia menutup kemungkinan adanya ancaman yang berpotensi memecah persatuan.
“Saya kira kita perlu memahami apa ancaman yang paling menyolok dari realitas di sekitar kita ini, yang bukan hanya potensial menimbulkan kerugian bagi kita, tetapi potensial mengancam integritas visi itu sendiri”, ujar Gus Yahya.
Indonesia berdiri sebagai negara-bangsa yang memegang prinsip demokrasi. Menjadi konsep modern negara-bangsa, demokrasi merupakan tulang-punggung dari bentuk negara yang plural, seperti Indonesia.
Mungkin anda juga suka
- Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
- Gus Yahya: Indonesia Berdiri di Atas Falsafah Kemanusiaan Universal
“Pertama jelas, bahwa kita tidak ingin Indonesia ini lalu dibelokkan menjadi entitas yang bukan negara bangsa yang berbhinneka”, lanjut Gus Yahya “kedua, kita tidak tahu bagaimana teknologi ini membawa dampak bagi kehidupan kita, tapi ada satu ancaman yang terus memahami dan potensial melahirkan bahaya, yaitu ancaman potensi konflik”.
Ancaman potensi konflik ini yang membuat negara demokrasi tidak bisa duduk tenang menikmati kebebasan berekspresi dan berpendapat, justru kanal-kanal itu yang menjadi asal-muasal kelahiran sebuah konflik.
“Jelas bahwa di dalam demokrasi ini semua orang punya hak untuk beraspirasi, tetapi ada saluran tatanan untuk menyalurkan aspirasi itu, nah seringkali ukuran sejauh mana orang punya kebebasan dan sejauh mana tatanan ini harus dipercaya itu sering kabur. Apalagi sekarang,” terang kiai yang pernah menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) tersebut.
Mungkin anda juga suka
- PBNU-Menkes Jalin Kerja Sama Aktifkan Posyandu Keluarga NU
- Wukuf Amirul Hajj adalah Khidmah dalam Melayani Jama’ah Haji
Dalam mengantisipasi melebarnya ancaman konflik di negara demokrasi ini, Gus Yahya sembari menyitir Gus Dur menyatakan, “Dulu gus dur sering bicara, pentingnya membangun budaya demokrasi, bukan hanya lembaga-lembaga demokrasi”, tukasnya.
Tentu sebagai negara demokrasi, Indonesia diperkuat dengan lembaga-lembaga demokrasi, tapi bagi Gus Yahya, apakah budaya demokrasi juga sudah dihidupkan?
Di era media sosial seperti sekarang ini, ancaman konflik sangat terlihat gamblang. Banyak kasus dimulai dengan pengadilan media sosial, pengadilan pers dan pengadilan yang dilakukan sebelum putusan diketok palu.
“Maka di dalam mengelola konflik ini, penting kita berpikir tentang bagaimana membangun budaya yang diperlukan, lembaga sudah ada, budaya demokrasi yang saat ini perlu kita kembangkan bersama,” tukas Gus Yahya.




2 Comments