Figur Ideal Kiai dalam Pandangan Gus Mus

PERADABAN.ID – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) mengungkapkan bahwa para kiai pendiri NU (Nahdlatul Ulama) yang merupakan para pengasuh pesantren adalah sandaran masyarakat dalam berbagai hal.
Dari pendidikan agama sampai dengan hal-hal lain yang terkait dengan kehidupan seperti mencari kesembuhan dan kesuksesan usaha dengan minta didoakan kiai. Hal ini disampaiakan Gus Mus saat Silaturahim PBNU dengan PWNU dan PCNU se-Jawa Tengah di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah pada Kamis (29/9/2022).
Para kiai menurut Gus Mus telah benar-benar menjadi sosok panutan dan mengurus umat dengan kasih sayang. Inilah yang sering ia sebutkan bahwa yang dinamakan ulama/kiai adalah mereka yang memiliki belas kasihan dan melihat umat dengan kasih sayang.
Mungkin anda juga suka
- Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
- Bukan Kritik, Gus Yahya Menilai Pujian dan Harapan Miliki Potensi Bahaya
Dengan fakta penting dan strategisnya posisi kiai di tengah-tengah masyarakat, maka para pendiri Nahdlatul Ulama berinisiatif untuk menyatukannya dalam sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama.
Upaya penyatuan ini dalam rangka menguatkan kebaikan dan selaras dengan maqalah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Al-haqqu bila nidhamin yaghlibuhul bathilu bi nidhamin. Kebenaran yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.
“Sekarang ini, (para kiai) di-tandhim (diorganisir) menjadi organisasi. Maka organisasi Nahdlatul Ulama harus selalu mengembangkan perhatiannya kepada umat dan tuntutan-tuntunan umat apa saja yang harus dipenuhi oleh organisasi ulama ini,” pintanya.
Mungkin anda juga suka
- PBNU Respon Kritik dengan Kerja Habis-habisan
- PBNU Silaturahim dengan PWNU dan PCNU Se-Jawa Tengah Sosialisasikan Perkum
Upaya para kiai untuk menyatukan ini menurut Gus Mus tidak berjalan mulus begitu saja. Bukan hanya pujian saja yang didapatkan dari niat luhur mendirikan Nahdlatul Ulama. Berbagai kritikan juga datang sebagai sebuah hakikat yang telah digariskan oleh Allah swt.
Menurut Gus Mus, realitas zaman dan dinamikanya merupakan hal yang sudah ditakdirkan oleh Allah swt, dan hal ini terus terjadi di setiap periode kepengurusan Nahdlatul Ulama dari awal berdirinya hingga hari ini.
“Itu semua (kehendak) Gusti Allah Ta’ala. Jadi terima saja apa yang ditetapkan oleh Allah swt. Apa-apa yang kita lakukan ini karena Allah yang menentukan. Kita cuma pasrah. Kita diperintahkan untuk berikhtiar, kita ikhtiar,” terang Gus Mus. (IB)



