Opini

Pilihan-Pilihan ‘Ganjil’ Gus Yahya

PERADABAN.ID – Bukan IAIN atau berlari ke Timur Tengah seperti kebanyakan santri pada umumnya untuk melanjutkan jenjang pendidikan setelah lulus dari SMA. Gus Yahya memilih Universitas Gajah Mada (UGM) sebagai karir menempa pelajaran akademiknya, Sosiologi jurusan pilihannya.

Perbedaan yang runcing antara pesantrennya di Rembang, dan Krapyak yang menurutnya kosmopolit, melatar belakangi Gus Yahya memilih Sosiologi. Sosiologi baginya, bisa menjadi jawaban atas gelisah yang sejak kelas 1 SMP sudah mengaduk-ngaduk ranjang intelektualitasnya.

Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Di UGM ini juga, Gus Yahya memilih jalan simpang. Bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebelum akhirnya, Komisariat yang dijadikannya berdiaspora itu vakum berkegiatan jelang menguatnya asas tunggal di tubuh organisasi berjargon Yakusa ini.

Semestinya, adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dijadikan ruang aktivismenya, mengingat kelinearan sejarah PMII dengan induknya, Nahdlatul Ulama (NU).

Pilihan-pilihan ‘ganjil’ ini yang membuat keluarga dekatnya merasa khawatir. Kabar ini lekas mendarat ke ayahandanya, KH Cholil Bisri. Tak kalah was-wasnya, sampai-sampai Kiai Cholil menyampaikan kabar ini ke Kiai Ali.

Kekhawatiran, dan kadang dibarengi saran ‘cerewet’ dari sanak saudaranya luntur ketika Gus Yahya membuktikan dirinya sebagai ‘miniatur’ NU di UGM. Kelugasan berpikir, subtansi gagasan yang disampaikan, sesekali dengan sikap dan penampilan ‘nyeleneh’, tak lari dari bingkai dan suasana ke-NU-an.

Baca Juga Senang Tirakat, Gus Yahya di Mata Ibundanya, Nyai Hj Muchsinah

Seorang sahabatnya berseloroh, beliau (baca: Gus Yahya) bukan sekedar tahu ‘ilmu’ NU, tapi juga ngelmu’-nya (menghayatinya) sekaligus.

Sahabatnya itu bernama Himawan Bayu Patriadi, kakak tingkat dan sekaligus beda jurusan dengan Gus Yahya. Seloroh di atas rasanya bukan tanpa alasan. Pasalnya, dalam satu kesempatan ketika ia ikut kelas yang membahas topik NU, seorang mahasiswa lainnya yang ada di dalam kelas itu justeru mengajukan Gus Yahya sebagai referensi cara pandang ketimbang menggunakan referensi “Islam and Politics ini Indonesia” karyanya Allan A. Samson.

“Kalau menjelaskan NU hanya pakai kerangka pemikian Allan Samson, ya susah!,” Himawan menirukan jawaban mahasiswa yang menyerukan Gus Yahya menjadi referensi cara pandang dan perilaku NU.

Kisah-kisah ini semakin menyempurnakan riwayat ke-NU-an Gus Yahya. Hingga akhirnya melalui Muktamar NU di Lampung, beliau dipercaya memegang mandat sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya.

Dan sebagai Ketua Umum, Gus Yahya tampaknya tidak meninggalkan sama sekali kebiasan-kebiasan ganjil yang melulu menjadi pilihannya. Bahkan, semakin menjadi-jadi. Mulai dari pandangan celana panjang ketimbang sarung untuk jajaran Tanfidziyah, larangan NU sebagai kendaraan Capres/Cawapres, hingga pendefinisian NU sebagai mandat peradaban untuk memuliakan manusia seluruh dunia.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button