Opini

Teknorat(isme) Gaya Gus Yahya

PERADABAN.ID – Jika saudara sekalian pernah mendengar dawuh-dawuh Gus Yahya, terutama terkait dengan kontruksi struktur NU, efisiensi, serta spesialisasi Badan Otonom atau Lembaga, barangkali itulah yang dimaksudkan jalan menuju teknoratisasi.

Masa transisi memang memerlukan satu kepastian, terutama terkait dengan mesin penggerak organisasi. Jika dalam Orde Baru itu bermerek GBHN atau lainnya. Tujuan teknoratisasi itu untuk mendukung dan melanggengkan pembangunan. Sayangnya, teknoratisme di batang Orde Baru itu tidak demokratis, sehingga banyak masalah di dalamnya.

Pembangunan teknokrasi itu penting, selagi ia tidak menjadi paham. Atau menjadi teknoratisme. Ia hanya berfungs sebagai cagak operasionalisasi organisasi, dengan prinsip keterbukaan, non-primordial.

Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Banyak yang menginginkan NU hanya dijadikan alat numpang nama belaka, Gus Yahya menolaknya tegas. Bagi Gus Yahya, yang mau jadi pengurus NU harus mempunyai nalar mau bekerja. Tak jauh dari itu, ini mirip-mirip dengan definisi personalia. Mempunyai kecakapan di bidangnya, sekaligus mempunyai semangat khidmah di NU.

Ibarat restoran Padang yang sebenarnya tidak sesederhana nama-namanya. Ada kepraktisan yang tersublimasi di dalamnya, ia hanya membawa unit makanan pokok, berpiring-piring di tangan dan lengannya. Sedang menjelaskan efisiensi, sekaligus corak budaya di dalamnya.

Tentang piring yang bertengger di tangan para pegawainnya, Gus Dur mengatakan, jangan-jangan diilhami “ilmu lengket” tari piring. Restoran Padang, begitu Gus Dur kembali menegaskan, sama halnya dengan makanan-makanan luar negeri yang berhasil menembus pasar Indonesia. Daya tembus lintas-sektoral restoran Padang dalam kehidupan bangsa.

Tidak bermaksud menyamakan antara teknorasi Orde Baru atau restoran Padang, tetapi NU sedang menuju ke situ. Tentang personalia yang nantinya menjadi pemegang nyala-matinya mesin organisasi, tentang fungsi dan tugas yang terspesialisi dalam Badan Otonom atau Lembaga di payung besar struktur NU, untuk efisiensi, untuk agenda-agenda besar.

Teknokrasi pada prinsipnya membutuhkan personalia yang mendekati paripurna karena “nalar mau bekerja”. Tidak hanya numpang nama, apalagi hanya untuk syahwat remeh-temeh dan kepentingan pendek.

Baca Juga Dari Mahbub sampai Gus Yahya

Pandangan Gus Yahya, saat reformasi membuka personalia untuk masuk mengisinya, membiarkan kehendak alam dan rakyat, dilalah justeru diisi oleh personalia selebritas yang dibesarkan techno-marketing. Para pemimpin selebritas muncul di berbagai bidang, kata Gus Yahya, mulai politisi, pendakwah, kalangan jurnalis sendiri, intelektual abal-abal, hingga sekadar orang iseng.

Teknoratisme digeser oleh selebritisme dan kesohorisme, Gus Yahya menegaskan.

Jawaban kita semua tentu saja tidak menginginkan masa transisi NU di isi oleh yang demikian. Jika diisi yang begini-begini, NU hanya akan menjadi pangsa sandiwara dengan segala akting-akting, bukan kesungguhan dan kecakapan. Dan pastinya, hanya akan menjadi oplosan politik belaka.

Baca Juga Gus Yahya: Kita Harus Menyangga Tanggung Jawab Pendahulu Kita

Transisi menjadi penting, setidaknya sebagai pijakan start untuk pasang kuda-kuda dengan benar dan kuat, melihat jarak ke depan untuk menyeimbangkan antara kaki, mata dan pikiran. Bukan hanya sekadar untuk lari sekencang mungkin biar sampai duluan di titik finish, tetapi menjaga keberimbangan.

Apalagi, misi peradaban menjadi platform utama kepengurusan PBNU saat ini. Untuk mewujudkan agenda itu, Gus Yahya mengatakan perlunya transformasi menyeluruh pada segenap jemaah warganya melalui strategi yang terencana yang terkelola dengan cermat.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button