Ijtihad Ketahanan Ekonomi NU

PERADABAN.ID – Ketika momentum sejarah membawanya menjadi ketua umum PBNU, dia menggunakan keluasan pergaulannya untuk memicu perubahan besar di tubuh NU. Dia jelas menyimpan cita-cita agar NU berubah. Maka, posisi ketua umum PBNU adalah kesempatan baginya untuk mendorong terjadinya perubahan itu. Dia menjadi punya kekuatan lebih besar untuk menyeret NU ke tengah, ke pergaulan di tengah masyarakat luas, dan dia melakukannya dengan risiko tidak dipahami dan dicerca kalangan NU sendiri.
Paragraf di atas bukan rasan-rasan saya terhadap Gus Yahya ketua umum PBNU sekarang. Bagi yang membaca sudah barang tentu tahu, tulisan itu terbaris dalam buku Menghidupkan Gus Dur; Catatan Kenangan Yahya Cholil Staquf, penulinya AS Laksana.
Paragraf pertama itu narasinya membicarakan Gus Dur, yang mungkin saja – atau ini hanya keyakinan penulis semata – juga dialami Gus Yahya sekarang. Agenda-agenda NU dalam benaknya, dengan tujuan yang sangat luhur, tentu saja akan merubah banyak pola dan model serta dampak, sebagaimana Gus Dur melakukannya dahulu.
Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
Kaderisasi berubah. Sudah diluncurkan kemarin. Operasionalisasi badan otonom sekaligus lembaga berubah. Transformasi perubahan mental dan pola pikir kerap sudah ditujukan kepada pengurus dan kader. ‘Mandat peradaban’ sudah di depan mata.
Ada satu hal yang semoga ini tidak terlewat; kewirausahaan. Kewirausahaan dalam pandangan Gus Yahya menjadi sektor penting untuk menunjang kebangkitan Nahdlatul Ulama, akslerasi kapasitas peran. Dua sebelumnya adalah, kebangkitan intelektualisme dan kebangkitan teknokrasi.
Dalam kacamata ini, Gus Yahya tidak membuang definisi dan konsep kewirausahaan pada umumnya secara serampangan dan sembarangan. Kewirausahaan adalah mindset usaha dan ketahanan ekonomi, itu diakui Gus Yahya, karena secara demografis dan budaya, postur jemaah masih dominan petani dan sektor informal.
Menurutnya, kewirausahaan merupakan wahana yang tepat untuk memupuk keuletan, tangkas, dan luwes sekaligus untuk menghadapi dunia yang serba VUCA – volatile (rentan), uncertain (tidak menentu), complex, dan ambiguous (abu-abu).
Baca Juga Ikhtiar
Gus Yahya menambahkan sisi lain dalam konsep wirausaha yang tidak melulu soal ekonomi. Ada kewirausahaan sosial, ketika orang mengganggas, merintis, dan mengembangkan suatu lembaga yang menyediakan layanan masyarakat secara “rela”, tidak mengambil keuntungan ekonomi.
Definisi-definisi ini menambah kerangka kewirausahaan menjadi sangat luas. Selain berkepentingan memarjinalkan kemunduran dan ketertinggalan kelompok usaha kita di bidang ekonomi, anggaplah petani contohnya, yang melulu dihantui kekhawatiran-kehawatiran akibat tidak menentunya pasar dan musim, tetapi juga membangun pola pikir seperti tata kelola pertanian yang lebih luas lagi.
Tata kelola itu bisa meliputi tata manajerial, tata pemasaran, tata distribusi hingga lainnya. Dan yang terpenting adalah tata hubungan yang tidak bergantung pada siapapun, tetapi lebih pada membangun hubungan kolaboratif yang seimbang dengan kelompok atau lembaga lainnya.
Di tengah kebangkitan ekonomi karena faktor wirausaha yang dilakukan oleh banyak komunitas, tentu saja pengalaman ini menjadi berharga – tidak sedikit pun mengebiri bahwa jemaah NU yang sudah melakukan giat kewirausahaan – untuk terus dikembangkan dan menjadikan NU sebagai subjek untuk terlibat.
Digitalisasi membuka ruang sebesar-besarnya. Kita hanya perlu mempersiapkan dukungan struktur, penguatan relasi, serta peningkatan pengetahuan SDM.
Sebagai pengingat dan tragedi negara-negara berimbun konflik seperti Afganistan, bahwa kekacauan juga salah satunya disebabkan oleh matinya kewirausahaan; saat bangun di pagi hari, bukan untuk bekerja (tiadanya lapangan kerjar), tetapi mengangkat senjata, kurang lebih demikian keterangan Jim Clifton ketua dan CEO Gallup.




2 Comments