Opini

Di Balik Maslahat, Ada Kerja Mama-Mama yang Tak Kelihatan

PERADABAN.ID – Betapa mudahnya kita luput melihat kerja-kerja para mama ketika melihat respons-respons yang muncul terhadap hadirnya satuan tugas (satgas) Gerakan Keluarga Masalahat Nahdlatul Ulama (GKMNU).

Saya semakin meyakini validitas teori reproduksi sosial yang sering diadvokasi oleh penganut feminis-Marxis. Tugas-tugas seperti menjaga hubungan sosial dan merawat individu manusia sering dianggap remeh dan kurang diperhatikan. Yang umumnya dihargai oleh masyarakat adalah pekerjaan yang dianggap produktif, yang banyak dilakukan oleh kaum bapak.

Sewaktu di rumah, saya sering melihat para mama melakukan perjalanan mengunjungi kerabat yang sakit, menikah atau meninggal di lokasi jauh dengan angkot mini maupun rombongan bis.

Baca Juga

Sahih, melihat GKMNU membangkitkan nostaligia menyenangkan, yang mengingatkan saya pada perjalanan-perjalanan panjang penuh cipratan air asin, guncangan-guncangan pengaduk isi perut, dan tentunya obrolan-obrolan ngalor-ngidul pembunuh kesunyian yang kikuk.

Masih lekat di ingatan tentang film “Tilik”, ketika mencuat Bu Tejo sebagai tokoh karikatural dari kaum mama-mama yang secara tabiat cukup merepresentasikan kebiasaan dari bagaimana mereka menjaga hubungan sosial.

Lucunya, terlepas dari kelazimannya, aktivitas tilik sangat jarang dibicarakan. Bahkan muncul persepsi bahwa perjalanan truk bak terbuka seperti yang ditunjukkan Tilik hanya fiktif, dan seolah-olah ia sebatas rekaan sineas jahat untuk menyudutkan kaum mama-amam dengan menyimbolkan mereka sebagai hewan.

Ayolah. Tak bisakah kita memaklumi haha-hihi-nya para mama-mama itu sebagai selingan sehari-hari untuk sedikit meringankan kegiatan mereka yang meletihkan?

Baca Juga Keluarga, tentang Permberdayaan

Dunia tak akan hancur karena haha-hihi mereka. Justru semesta sosial akan rontok bila para ibu berhenti melakoni kerja-kerja yang enggan atau tak bisa dilakukan para bapak.

Mandeknya imajinasi kita tentang praktik kaum ibu dan semacamnya sudah dapat diduga. Kerja reproduksi sosial umumnya tak terlihat.

Sial, kerja-kerja tak terlihat itu hanya terlihat sebagai bentuk kegalatan bersama. Ia dinilai sebagai sekadar ruang ibu-ibu mengoceh dan ghibah yang cukup genuine untuk dijadikan narasi letoy di media sosial.

Pun demikian yang terjadi pada para peneliti, mereka tak pernah memperlakukan tilik sebagai tradisi, sebagai kegiatan bermakna meskipun ialah yang sesungguhnya mereproduksi kolektivitas sosial.

Baca Juga

Apa yang lebih banyak diangkat sebagai tradisi di desa-desa ialah perayaan seremonial atau ritual megah. Semisal dalam hajatan tersebut, kepala desa beserta aparatnya terlihat mentereng, sementara apa yang tak kelihatan? Para ibu-ibu yang tak pernah keluar dari dapur sepanjang acara.

Di dapur, ada jejaring para mama-mama yang saling menolong untuk memastikan hajatan desa berlangsung sesuai harapan. Karena itu, wajah keluarga maslahat paling mudah dikenali dari romansa di dapur.

Tilik, sebagai sinema maupun tradisi, pada akhirnya mengulurkan kita kesempatan untuk menandaskan lagi kritik bernas teori reproduksi sosial yang disemai sepanjang beberapa dekade terakhir.

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button