Opini

Siap Saji

PERADABAN.ID – Geliat perilaku sosial masyarakat di ruang digital menimbulkan pergaulan yang onar. Ruang digital yang digadang-gadang akan mendewasakan cara pandang, nyatanya digonggongi laku kontradiktif.

Pandangan dangkal, ditambah ketergesa-gesaan menyimpulkan dan mendistribusikan cuplikan video adalah hal biasa yang menggejala di ruang sosial media kita.

Belakangan, segelintir orang – yang dikenal dengan pegiat – menanggapi secara subversif video tafsir surat Al Imran ayat 14. Tidak tanggung, irama cuitannya lepas dari kepatutan.

Bukan saja karena kepakaran yang nihil, akan tetapi metode penyampaian argumentasinya absen etika. Tafsir ‘bidadari’, ditanggapi secara idiom ‘nafsu selangkangan’.

Bagi pegiat itu, bidadari yang dijanjikan direduksi sebatas cuil ketiak nafsu. Parahnya, dengan ketololan yang menyeloroh menyempurnakan keabsahan, ada yang hilang di sosial media; kemauan validasi secara menyeluruh.

Betapapun pegiat mengaku mendukung NU dan semacamnya, hal semacam itu tidak bisa dibenarkan dan terkesan usang. Uluran tangan memohon maaf, mungkin menjadi jalan akhir kendati tidak mampu menutupi lubang hitam pergaulan sosial media kita yang rapuh – yang menghantui keseharian kita, akan kebiasan di ruang digital.

Baca Juga

Fenomena ini, mungkin banyak yang mengatakan sebagai akibat disrupsi. Tidak hanya melahirkan bayi-bayi mungil platform digital, perkembangan teknologi dan informasi mampu mengubah secara radikal tata nilai.

Konsekuensinya, budaya instan dan pragmatis menjadi belantara yang sayup-sayup, tapi nyata. Maka, menanggapi dengan legitimasi literasi yang pas-pasan, termasuk agama, absah dilakukan.

Disrupsi, menyediakan banyak tempat bagi cara pandang siap saji, termasuk pandangan mengenai agama. Gejala yang demikian – Meminjam bahasanya Ritzer – dikenal dengan McDonaldisasi.

Mirip makanan siap saji ala restoran modern. Pendapat dan pandangan bekerja dengan mengendepankan kecepatan, mendorong konsumen pasif. Dia menjadi mesin dari organ sosial yang payah.

Anda Juga Bisa Menonton NU dan Cita-Cita Peradaban (IV): Basis Perjuangan Nahdlatul Ulama

Padahal di sisi yang lain, ada syarat mutlak yang musti dimiliki. Katakanlah pakar pegiat itu, yang membaca penjelasan teks dan konteks tidak karuan. Sementara di satu sisi, penjelasan atas tafsir ayat di atas sudah didasari literatur referensi yang komprhensif.

Pada akhirnya, saya melihat bahwa disrupsi dan siap saji pandangan mempunyai hubungan intim diam-diam. Perselingkuhan keduanya, bersembunyi di balik kenyamanan berpendapat yang diberi ruang seluas-luasnya.

Dia bisa mengoyak tata nilai yang disepakati, bukan bersifat argumentatif untuk memperbarui, tapi sekadar hadir untuk mengaburkan subtansi. Ke depan, ini akan membuat getir jika tidak ditanggapi dengan berani.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button