Harum Tangan Kyai Maimoen

Peradaban.id – Tidak hanya di Indonesia, dunia pun mengamini dan merasa butuh dengan pemikiran-pemikiran Gus Yahya. Pemikiran yang luas, bernas dan terbuka serta kosmopolit mendudukkan Gus Yahya sebagai figur sentral, baik tentang manifestasi Islam dalam konteks kehidupan yang riuh ragam, juga tentang kemanusian universal.
Kemanusiaan dan problematikanya, serta intervensi budaya modernitas dan hubungannya dengan agama, melatuk munculnya banyak teori. Hipotesa-hipotesa muncul untuk mengakhirinya. Banyak yang mengamini, kendati menyisakan satu kelemahan krusial.
Teori-teori sosial klasik hingga modern, menyundul agama ke luar lapangan kehidupan. Diskursus sosial menjaga gawang mereka dari agama.
Di tengah ketergesa-gesaan kaum positivis menarik agama dari problematika manusia modern, kegagalan teori ini kian mengelupas. Kegagalan modernisme menciptakan tatanan baru, memancing kembali kail agama. Bukan hanya pelengkap, atau panggilan kerinduan, akan tetapi juga lokus solusi atas problematika kemanusiaan.
Di sini keterikatannya, sekaligus juga menggali masalah baru. Kesadaran dan ekspresi keagamaan jauh panggang dari api. Agama tidak hanya dijadikan solusi problematika kehidupan manusia, tetapi juga diseret melegitimasi kerusuhan dan benturan peradaban dunia.
Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
Atas kesalahkaprahan ini, Gus Yahya mengembara dengan suluh pemikiran. Mengantongi wasilah-wasilah sesepuh Kyai dan Ulama NU untuk disebarkan ke masyarakat luas. Membawa agama sebagai instrumen peradaban yang mengayomi, mempersatukan, dan merekat kembali kerenggangan sosial.
Kyai Maimoen adalah tempat saya datang setiap mengalami kegelisahan hidup yang memuncak, tulis Gus Yahya. Satu pengakuan yang menasbihkan Gus Yahya sebagai santri, tetapi juga menjelaskan napak tilas konstruksi pemikiran beliau yang ditentengnya ke mana-mana; dari domestik sampai dunia global.
Tentang sejarah perkembangan Islam semisal, Gus Yahya juga menuturkan tidak bisa dilepaskan dari dawuh Kyai Maimoen. Kyai Maimoen, menguraikan tafsir ayat ke – 29, ayat terakhir dari surah Al Fath.
Konstruksi pemikiran ini jamak kita temui. Jamak diutarakan Kyai dan tokoh NU untuk mengurai problem sosial kemasyarakatan dan banyak hal lainnya.
Menariknya, ajaran yang bersumber dari Al-Quran, wejangan Kyai, diramu dengan kearifan-kearifan budaya dan realitas mutakhir. Sehingga pemikiran yang disampaikan Gus Yahya tidak sempit dan kaku, relevan atas kebutuhan zaman.
Wacana tentang Islam Nusantara, ujar Gus Yahya, Deklarasi Nahdlatul Ulama pada International Summit of Moderate Islamic Leaders (ISOMIL) dan Deklarasi Global Unity Forum, Deklarasi Humanitarian Islam, Manifesto Nusantara, juga pernyataan dan pidatonya di Yarussalem, tidak lepas dari wejangan-wejangan Kyai Maimoen.
Baca Juga Gus Yahya dan Cordoba
Beberapa pekan yang lalu, Gus Yahya hadir dalam forum dunia dengan ide yang ciamik; tranformasi pola pikir umat beragama. Mencoba mencairkan kebekuan pola pikir umat tentang agama yang melulu dianggap sebagai pertarungan politik. Agama dibenturkan, dijadikan sniper harmoni sosial.
Transformasi pola pikir menjadi kata kunci. Perubahan fundamental dari kontraksi keagamaan. Memperbaiki cara melihat, berpikir dan bersikap terhadap agama, serta fungsionalnya untuk kebaikan sosial.
Tak heran, jika media manariknya menjadi tema bahasan dalam pemberitaan, hingga mendapatkan tanggapan akademik melalui opini di media-media.
Gus Yahya memang lihai menarik respon publik. Pemikiran-pemikirannya dibiarkan menggelinding begitu saja, tanpa mebatasi sesenti tanggapan, mulai dari yang menolak atau mengamini.
Pun sama halnya saat melempar ide Islam Nusantara dalam Muktamar NU di Jombang, tahun 2015 yang lalu. Sebagai salah satu pencetus, Ulil Abshar menuturkan, Islam Nusantara tidak perlu didefinisikan. Biarkan ia menjadi istilah atau konsep terbuka dan terserah saja orang memahaminya seperti apa.
Pendapat Gus Yahya ini bukan tanpa sebab. Tanpa proses menggelinding dulu secara pelan-pelan, melalui diskusi, perdebatan, dan sebagainya, dikhawatirkan istilah ini hanya akan dijadikan alat untuk pengkaliman (claim), atau hanya akan menjadi alat untuk menegasikan orang yang yang tidak masuk dalam definisi itu.
Pemikiran-pemikiran Gus Yahya tentang bagaimana NU ke depan, bagaimana Islam ke depan adalah hal yang menarik kita nantikan. Ada ribuan hingga ratusan juta yang menunggu.
Menjelang satu abad NU, tampaknya Gus Yahya mempersiapkan altar pembaruan, untuk menselebrasi kedalaman dan kekayaan pemikiran NU, kepada kita, Indonesia, juga kepada dunia. Tanpa melepas wejangan-wejangan Kyai dan Ulama NU, kearifan dan kekayaan nusantara. Tanpa menyekat adanya kemungkinan ketidaksepemahaman terhadap pemikirannya, bahkan menolaknya.




2 Comments