Alissa Wahid: Kekerasan terhadap Perempuan Bentuk Ultrakonservatisme Agama

PERADABAN.ID – Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menegaskan bahwa konservatisme masih menjadi persoalan yang relevan dibicarakan di Indonesia.
Hal ini disampaikan dalam helatan Refleksi Kebangsaan “Spirit Guru Bangsa Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii dalam Aspek Bernegara Masa Kini” di Djakarta Theater Jakarta, Sabtu (19/3/2023).
Menurutnya, banyak persoalan yang menimpa Ahmadiyah, penutupan tempat ibadah, hingga kekerasan terhadap perempuan dilatarbelakangi oleh konservatisme agama.
Baca juga:
- Gus Yahya Tawarkan Islam Universal
- Ngaji Budaya Abad Kedua NU, Gus Yahya: Otoritas Ulama Adalah Otoritas Peradaban
“Ultrakonservatisme agama bukan hanya soal gereja yang ditutup, tapi soal kekerasan terhadap perempuan adalah persoalan ultrakonservatisme agama,” kata Putri Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid itu.
“Ketika agama didefinisikan sebagai relasi kuasa, dan saat ini Indonesia masih mempunyai tantangan itu,” lanjutnya.
Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menanggapi hasil rekomendasi yang dibacakan dalam kegiatan yang sama yaitu Talkshow Keempat mengenai Bagaimana Merawat Keadaban Publik, Belajar dari Guru Bangsa.
Tapi, seperti yang juga dilakukan oleh Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafi’i, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa.
“Cak nur, Gus dur dan buya Syafii tidak selalu sependapat, tapi setujuan. Dan, prinsip-prinsip perjuangannya selaras. Beliau bertiga tidak takut perbedaan pandangan,” imbuhnya
Di bagian konservatisme agama sebagaimana muatan rekomendasi di atas, Alissa menanggapi, saat dikatakan tidak relevan untuk dibicarakan menurutnya kurang tepat.
“Realitanya kalau kita bicara temen-temen Ahmadiyah di sini tidak demikian,” tandasnya




One Comment