Moderasi Kopi dan Gula, di Meja Makan Keluarga

PERADABAN.ID – Dalam secangkir kopi, ada bubuh serbuk kopi dan gula di dalamnya. Tetapi, ada yang tidak menggunakan gula, hanya kopi saja.
Ada yang bilang, secangkir kopi tanpa gula tampaknya terlalu serius. Tetapi gula tanpa kopi, bisa jadi teramat legit. Maka keduanya dicampur di satu wadah. Jadilah nikmat.
Iya, kamu boleh tidak setuju dengan ilustrasi di atas, menolaknya juga dipersilahkan. Toh, itu hanya padanan yang pendek.
Tetapi dalam surat Tuhan kepada umatnya, semua diciptakan berpasang-pasangan. Mungkin kopi ditakdirkan dengan gula untuk menjadi satu pasangan sebuah hidangan bagi yang mengidamkan – kendati tidak semuanya suka.
Nyaris, ini bukan untuk mempopulerkan bahwa yang menyukai kopi belaka tampa campur tangan legit gula, selain serius, juga terampil dalam kesendirian.
Kendati belakangan, kopi juga bisa bersanding dengan koran dan berita-berita di laman digital, untuk menikmati peristiwa-peristiwa kekinian. Antara gula dan kopi pada akhirnya, hanya akan menjadi parsialitas dari zaman yang ditinggalkan.
Baca juga:
Agama dan beragama, juga sesuatu yang berbeda. Tetapi maaf, jujur saja katakan kalau keduanya bertautan.
Sebagai perspektif, moderasi beragama dibutuhkan di antara keduanya. Beragama dengan ekstrem juga tidak membuat yang lain merasa nyaman. Tapi dengan cara ekstrem untuk menaklukannya, juga salah besar.
Moderasi beragama mencoba menurunkan nilai dan ajaran agama dengan cara atau model beragama yang moderat. Cara beragama yang tidak memikul beban permusuhan, melainkan kasih sayang.
Keluarga dan cara berkeluarga juga berbeda. Dalam keluarga juga berbeda, anggaplah paling gampang dari sisi jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin ini yang ternyata menyantuni perbedaan. Saling melengkapi, mungkin terlalu klise.
Artinya, dalam keluarga ini juga kita diberitahukan bahwa moderat dalam perbedaan bisa dilakukan. Dia merangkai perbedaan dalam satu keterpaduan, sekaligus menjadi literasi keberagaman dipeluk bersamaan.
Moderasi beragama dalam keluarga, nyaris tersemat dalam kehidupan yang sehari-hari dilakukan. Kedepannya, bagaimana keluarga menjadi aset literasi moderasi beragama disebarluaskan.




2 Comments