Kiai Ridwan Abdullah, Tuan Rumah dan Pelukis Jagat Peradaban

PERADABAN.ID – Mulanya, Nahdlatul Ulama (NU) akan diresmikan di musala H Musa, mertua KH Wahab Hasbullah. Rencana ini terendus hidung Belanda. Lantas, digagalkan karena disinyalir membahayakan keberadaan penjajah.
Tak menyerah, para kiai mengambil inisiatif lain. Haul Syaikhona Kholil menjadi ‘panggung’ aman untuk hal tersebut. Dalam bentuk tahlilan, NU terbentuk di rumah Kiai Ridwan Abdullah.
Posisi kiai, sekaligus pemikiran-pemikirannya bertambah kuat. NU menjadi lokomotif gagasan yang terorganisir untuk mentanformasikan nilai-nilai, pemahaman keislaman sekaligus perjuangannya.
Baca juga:
- Haji Hasan Gipo, Presiden HBNO 1926
- Kiai Mas Alwi, Pemberi Nama NU, dan Kecurigaannya terhadap ‘Renaisans’ Islam
Kendati sudah terbentuk, NU belum mempunyai lambang. Lambang itu baru ada satu tahun setelahnya. Para kiai mendorong dan mempercayakan kepada Kiai Ridwan Abdullah untuk membuatnya.
Beliau, tidak hanya mahir dalam ilmu agama. Tetapi, beliau sangat piawai dalam seni lukis dan kaligrafi. Keahlian ini terpotret dalam beberapa karyanya, seperti bangunan Masjid Kemayoran Surbaya. Termasuk karyanya yang paling agung, lambang organisasi yang sebentar lagi akan merayakan kemegahan satu abadnya.
Dua bulan waktu yang dikantongi Kiai Ridwan Abdullah untuk membuat lambang Nahdlatul Ulama (NU). Tanggung jawab yang dipikulnya sempurna luhur. Beliau tidak main-main, penuh kehati-hatian menuangkan goresan.
Lebih dari separuh batas waktu berjalan, barulah sketsa terakit dengan megah. Sketsa lambangnya menyerupai jagat, yang kemudian tepat dalam Muktamar NU di Surabaya, pada tahun 1927, resmi diputuskan menjadi lambang organisasi.
Baca juga:
- Tanyalah Kepada Ansor dan Anak Singanya
- Pesan Gus Yahya ke Kader Fatayat dan Muslimat: Jangan Ikut-ikutan Feminisme
- Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
Singkatnya, setelah menunaikan salat istikharah, Kiai Ridwan Abdullah tertidur lelap. Dalam tidurnya, beliau bermimpi melihat gambar di langit biru yang jernih. Cerita ini, juga dipaparkannya di depan KH Hasyim Asy’ari dan para kiai yang hadir dalam Muktamar.
Meminjam istilah Gus Yahya, lambang NU itu berangkat dari isyarat, hasil ikhtiar. Maknanya sangat dalam, mulai dari tali yang melingkar, nama NU dengan huruf Arab, sembilan bintang, jagat dan warna wijau sebagai latarnya.
Tak heran, lambang ini memancarkan perjuangan-perjuangan yang harus dilakukan NU, nilai-nilai yang ada di dalam NU, sekaligus kiprah dan cita-cita luhur untuk kebaikan semesta.




One Comment