Car Free Day: Imajinasi Perjalanan “Musa” dalam Ansor Gowes

PERADABAN.ID – Lazim dalam sebuah perjalanan, apa pun itu, sesuatu yang berbeda dan baru bukan sebuah kenyamanan. Sesuatu yang baru adalah ruang-ruang yang juga mendatangkan cobaan, ujian, dan tantangan.
Semisal Musa bersama umatnya saat meninggalkan Mesir dan menenggelamkan Firaun bersama prajurit pilihannya, Musa juga menemui tantangan yang baru. Musa tidak lantas bebas dari ujian setelah meninggalkan Mesir atau setelah Firaun tenggelem, bersama umatnya, Musa menempa jalan gersang di belantara gurun yang terik.
Tidak sekadar kekurangan makan dan minum, sehingga umatnya merasa lebih baik berada di hadapan Firaun yang kejam dengan menyantap daging dan gandum, tetapi juga ketidakpercayaan – yang mulanya berasal dari keraguan.
Di sinilah tantangan Musa paling nyata, meyakinkan umatnya bahwa Tuhan yang dipercayainya akan memberikan jalan lapang yang mengobati rasa sakit dan keraguan para umatnya. Laiknya manusia, juga sebagai utusan Tuhan, pun Musa kerap diselimuti rasa putus asa.
Harun dan juga isteri Musa, pun kakak perempuannya, bisa dikatakan sebagai penguat yang mendampingi Musa. Bahwa jika tidak lagi Tuhan hadir berbicara padanya, Musa harus menggunakan pikirannya.
Testament: The Story of Moses adalah sebuah film dokumentasi yang menjejalkan kisah di atas. Film berdimesi sejarah ini, banyak memberikan gambaran bagaimana dalam sebuah perjalanan – ketiadaan (baca: gurun) – menghadikan pelembagaan aktivitas sosial.
Tentu saja dalam film tersebut, tak semuanya harus diiyakan. Kendati dalam beberapa hal, kisah-kisah sejarah agama samawi, tak sedikit yang mempunyai kemiripan.
Sedikitnya jika diserap nilai-nilai universal di dalamnya: bahwa setiap perjalanan, akan melahirkan pelembagaan aktivitas sosial yang turun secara dialektis – antara agama dengan kebudayaan, ekonomis dengan sosial, dan entitas kepentingan lainnya, atau hanya melalui simbol-simbol penggambaran.
Baca juga:
Ansor Gowes
Melompat lebih jauh, tentang sebuah perjalanan. Ada kisah yang mungkin ini menjadi imajinasi suatu kelompok yang berguling dalam lipatan sejarah bangsa Indonesia. Bahwa kelompok tersebut akan menjadi irisan tak terpisahkan dalam pembangunan nasional sebuah bangsa.
Nyatanya, dalam kurun waktu 90 tahun, aktivitas kelompok atau organisasi ini tak lekang dari riuh dialektis. 90 tahun yang mengisahkan tentang perjumpaan antara agama dengan kebudayaan, agama dengan kebangsaan, serta agama dengan kemanusiaan.
Saya dengan terpaksa mengisahkan perjalanan 90 tahun dalam ayuhan roda, dengan skup perjalanan yang tidak biasa. Mereka tidak hanya akan merayakan genap usianya, tetapi juga akan meretas sebuah jalan, di mana di dalamnya bertumpu banyak kultur.
Hari Ahad jika tidak ada aral melintang, akan menembus jala kultur masyarakat kota. Hari yang lengang dengan aktivitas profesi, bahkan menjeda lalu lalang tranportasi, atau akrab dikenal dengan Car Free Day – suatu hari yang dikenal dengan perayaan kegembiraan melalui aktivitas olahraga, ekonomi, termasuk juga keluarga.
Jalur ini akan dilalui oleh kelompok yang hendak merayakan 90 tahun usia organisasi itu. Organisasi yang mempunyai imajinasi unik nan jenius. Bahwa, dengan melintasi jalur Car Free Day, mereka akan menembus ruang kultur masyarakat kota untuk bersama-sama menggapai kedigdayaan Indonesia di usia kemerdekaannya yang ke 100.
Kembali kepada spirit Musa, sekelompok pengayuh sepeda ini akan diuji optimisme, keyakinannya, sekaligus menepis keraguaan demi mencapai Indonesia Emas. Mereka akan dibersamai dan membersamai setiap elemen masyarakat yang berbeda kultur dan identitas, sejalan dengan semangat dan optimisme demi cita-cita yang lebih luas.
Demikialah, Ansor Gowes dalam tafsir pendek saya saat rute perjalanannya akan melewati jalan lengang Sudirman, gedung-gedung yang berhenti beraktivitas, dan kerumuman beragam aktivitas masyarakat kota dipanggungkan.




One Comment