Gus Yahya: NU Harus Dijalankan Laksana Pemerintahan

PERADABAN.ID – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) selalu menekankan seruan agar NU dijalankan sebagaimana pemerintahan.
“Kita harus mengoperasionalisasikan NU sebagai imarah,” tegas Gus Yahya dalam Baiat dan Pembekalan Instruktur Nasional Kaderisasi Menengah Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU), di Gedung PBNU, Senin (17/10).
Dalam kegiatan yang bertajuk “Merawat Jagat Membangun Peradaban” itu, Gus Yahya berpesan kepada para kader PMKNU untuk memahami NU secara akurat dan menyeluruh.
Eksistensi NU, lanjut Gus Yahya, harus bisa menjadi solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat dan masyarakat.
Mungkin anda juga suka
“NU ini harus kita pahami dengan akurat, menyeluruh, fungsi, dan kedudukannya di tengah-tengah umat dan masyarakat harus bisa menjadi solusi,” jelasnya.
Pemahaman akurat dan menyeluruh itu, setidaknya menurut Gus Yahya bisa diperoleh dari tiga perkara, yakni: NU sebagai imarah, riayah, dan thariqah.
“Pertama, NU ini adalah imarah, yaitu entitas aktor yang memegang urusan orang banyak. Ini termasuk kategori ulil amri (pemerintah),” terang Gus Yahya.
“Kedua, NU sebagai riayah yang bertugas mengayomi dan memelihara umat. Riayah menegaskan bahwa kehadiran NU sebagai imarah itu memiliki peran dan tujuan yang jelas dalam mengurusi urusan umat dan masyarakat,” bebernya.
Gus Yahya menjelaskan kalau kerangka PBNU sekarang terutama adalah membangun sistem nasional laksana pemerintahan (nation system of government)
Mungkin anda juga suka
- Peringatan Hari Santri di Korsel, Menag: Jaga Citra Baik Indonesia!
- PMA Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual Terbit, Kemenag: Agar Kekerasan Seksual Tidak Terjadi Lagi
“Jika klaim kader itu urusan dakwah, maka tanggung jawab kita kepada jamaah adalah tentang dunia perdakwahan. Begitu pun dengan klaim-klaim lainnya,” tutur Gus Yahya.
“Ketiga, NU sebagai thariqah yang diwariskan dengan jaminan orang-orang yang secara estafet memegang sanad sampai Nabi Muhammad Saw. Sanad yang terhubung itu harus dipraktikkan dan dirasionalisasikan ketersambungannya,” lanjutnya.
NU sebagai thariqah ini perkara yang tidak bisa disepelekan. Karena untuk menjalankan agama Islam, “sebuah perkara yang tidak bisa ngarang sendiri,” jelasnya.
“Kita ikut NU ini karena kita hati-hati dalam soal agama sebagaimana peringatan, jangan sembarangan memilih (ajaran) agama,” tandas Gus Yahya.




One Comment