Berita

“NU Bukan Taksi” Pidato KH Ahmad Shiddiq pada Muktamar NU Ke-28 di Krapyak

PERADABAN.ID – Muktamar NU (Nahdlatul Ulama) ke-28 di Pesantren Al Munawwir Krapyak menjadi penanda penting dinamika sejarah perubahan Nahdlatul Ulama, berikut kami sajikan Pidato KH Ahmad Shiddiq, Rais Aam Nahdlatul Ulama pada saat itu yang menyihir muktamirin dan muktamirat.

Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Soeharto yang kami muliakan,

Bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat tinggi dan tertinggi negara yang kami hormati,

Yang mulia, para negara-negara sahabat,

Bapak Gubernur, kepala Daerah Istimewa Yogyakarta beserta para pejabat daerah yang kami hormati,

Bapak Sri Sultan Hamengku Buwono X yang kami hormati,

Para tamu undangan, wakil-wakil organisasi dari lembaga tinggi internasional, regional, nasional dan daerah yang terhormat,

Para alim ulama yang kami muliakan, khususnya shohibul bait Hadratussyekh Ali Maksum semoga tetap dalam perlindungan Allah,

Para Muktamirin dan Muktamirat dari kurang lebih 368 Cabang, seluruh keluarga besar NU yang kami cintai.

__

Lebih dahulu, kepada Bapak Presiden, saya mohon karena melakukan pidato ini sambil duduk, maaf karena halangan fisik.

Sebelumnya saya melanjutkan pidato, perkenankanlah saya ini membuka atau mengantar pembukaan Muktamar ini dengan bacaan al-Fatihah.

Para hadirin yang kami muliakan, perkenankanlah atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama beserta puluhan juta anggota jam’iyyah dan warga jamaah, pertama kali kita ucapkan rasa syukur alhamdulillah atas segala rahmat dan ma’unahNya khususnya dengan siap terselenggaranya Muktamar ke-28 Nahdlatul Ulama, Kongres ke-12 Muslimat NU dan Kongres ke-10 Fatayat NU, lebih khusus lagi dengan terselenggaranya upacara pembukaan yang dilakukan pada hari ini.

Selanjutnya, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada, khususnya, Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Soeharto atas kesediaan beliau meluangkan waktu untuk menghadiri pembukaan Muktamar ini dan sekaligus meresmikan pembukaannya serta memberikan amanat dan pengarahannya bagi kita sekalian.

Mungkin anda juga suka

Sebagaimana Muktamar NU yang ke-27 di Situbondo, Muktamar ke-28 ini pun diadakan tidak di gedung mewah, tidak di hotel berbintang lima tetapi pesantren berbintang sembilan: Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Ucapan terima kasih yang sama kami sampaikan kepada hadirin dan hadirat para tamu undangan yang tidak mungkin kami sebut dengan rinci, satu persatu atas kehadirannya dan perhatiannya terhadap Muktamar ini.

Kepada para Muktamirin dan Muktamirat kami ucapkan ahlan wasahlan, selamat datang.

Tidak kami lupakan, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian, bantuan, sumbangan, fasilitas, kemudahan, doa dan restu, sehingga Muktamar ini dapat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dan semoga akan terselenggara dengan sebaik-baiknya juga.

Mungkin anda juga suka

Khususnya, kepada Hadratussyekh Kiai Ali Maksum beserta seluruh keluarga besar Pesantren Al Munawwir, kami sampaikan syukron, syukron jazakumullahu ahsanal jaza’. Semoga kehadiran, perhatian dan bantuan semua pihak ini, mendapat balasan dari Allah Swt. Kami tidak mampu membalas apapun kecuali doa yang diajarkan Nabi Saw, ucapan terima kasih yang paling tertinggi adalah ucapan; jazakumullahu khoiron jaza’, mudah-mudahan Allah sendirilah yang akan membalas kebaikannya.

Para hadirin dan hadirat yang kami muliakan, bagi kami, mengadakan Muktamar adalah salah satu kewajiban organisatoris konstitusional. Kami tidak akan mendiskusikan penilaian pada Muktamar sekarang ini, sebagai muktamar yang lebih penting, apalagi paling penting. Semua muktamar adalah penting.

Kalau menjelang muktamar ini, khususnya demikian besar perhatian berbagai pihak terhadap NU dan Muktamar ini, melalui pers, seminar, diskusi dan lain sebagainya. Malahan koreksi, kritik terbuka dan sebagainya.

Karena itu semuanya, kami hanya dapat berkata terima kasih. Sekali lagi terima kasih atas perhatian semua pihak. Dan semua kritik, saran dan koreksi kami terima sebagai masukan yang sungguh sangat berharga. Dan insyaallah, mana-mana yang baik dan cocok akan kami coba menerapkannya. Sesuai dengan semboyan kami selama ini.

Al-muhafadhatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah

“Tetap memelihara barang kuno yang masih positif yang baik dan siap untuk menerima yang baru yang lebih baik.”

Mungkin anda juga suka

Khittah NU

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi transparan atau tembus pandang. Orang luar dengan bebas leluasa dapat melihat segala yang ada di dalamnya. Bahkan kadang-kadang mereka lebih tahu daripada kami sendiri.

Muktamar ke 27 Nahdlatul Ulama pada tahun 1984, telah berhasil merumuskan, yang sekarang populer disebut; Khittah NU. Khittah 1926 yang pada hakikatnya, Khittah itu sendiri sudah menjadi Khittah NU sejak didirikannya pada tahun 1926.

Sekalipun baru secara tertulis perumusannya dirintis dalam sebuah desa kecil pada tahun 1979 sebelum Muktamar NU ke-26 di Semarang dengan judul: “Khittah Nahdliyah”

Dan NU, Insyaallah akan selalu setia kepada khittah. Karena khittah itu merupakan suatu amanah, amanah kelahiran NU itu sendiri. Untuk apa? Membawa misi apa NU hadir di tengah-tengah perjuangan bangsa ini?

Mungkin anda juga suka

Oleh karena itu, keputusan itu sering disebut kembali kepada “Khittah 1926”. Keputusan tersebut menjadi sangat penting, karena untuk pertama kalinya, sejak lebih 60 tahun usianya, NU merumuskan khittahnya secara konkret sesudah menjadi putusan Muktamar yang lalu dengan tujuan supaya sepanjang zaman NU tidak menyimpang dari Khittah kelahirannya itu.

Trayek NU

Nahdlatul Ulama adalah ibarat kendaran kereta api yang tidak semua tugas (rekaman terputus) trayeknya, bahkan relnya dan persyaratan untuk menjadi petugas-petugasnya,

NU bukan taksi yang dapat dibawa kemana saja oleh penyewanya. NU bukan koper yang dapat diisi dengan apa saja yang dapat diisi oleh pembawanya.

Orang-orang yang mengurus dan memimpin NU, boleh saja berganti, berganti-ganti setiap muktamar. Tetapi kebijaksanaan mengemudikannya, memimpinnya boleh berubah dan disempurnakan. Tetapi trayek, sekali lagi, trayek tidak boleh berubah.

Mungkin anda juga suka

Khittah NU menegaskan kedudukan NU sebagai jam’iyyah diniyah ijtima’iyyah atau organisasi sosial keagamaan, bukan partai politik. Sama sekali tidak berarti, Nahdlatul Ulama dengan demikian mengharamkan politik atau melarang warganya berpolitik atau dengan kata lain politik hobi, tidak, tidak.

Bagi NU, politik adalah sangat penting dalam batas kehidupan bernegara dan bermasyarakat, sebagaimana ekonomi, perniagaan, pertanian dan perdagangan dalam syarat NU menghargai warganya yang berpolitik atau berniaga dalam arti melakukannya di dalam bidangnya dan organisasi yang khusus.

Berpolitik atau berniaga dengan baik, kami persilakan warga-waga NU. Saya, mereka, dipersilakan melakukannya di dalam organisasi politik yang sudah ada atau berniaga dan lain sebagainya yang mana pun, tidak melakukannya di dalam NU.

Karena NU bukan organisasi politik dan juga bukan organisasi niaga. Banyak garapan yang harus ditangani langsung oleh NU. Padahal konsolidasi Khittah dan mengenai isi Khittah jelas, konkret, sehingga tidak timbul lagi persepsi yang berbeda-beda, baik dari warga NU sendiri, maupun dari orang luar.

Mungkin anda juga suka

Diharapkan, adanya kongres ini bisa merumuskan berbagai penjabaran khittah tentang beberapa alasan, penyempurnaan metode sosialisasi khittah, operasionalisasinya secara terarah. Sehingga berpandangan NU mengenai berbagai masalah esensial dan aktual serta hal-hal lain yang secara rutin menjadi tugas utama kita.

Demikian kami ucapkan kembali, sekali lagi ucapan terima kasih kami kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian, bantuan, nasihat, kritik, dan doa untuk berhasilnya muktamar ini.

Terima kasih, teriring doa; semoga semuanya dibalas oleh Allah Swt. Selanjutnya kami memohon doa, semoga Muktamar ini mendapat hidaya dari Allah sehingga menghasilkan keputusan yang bermanfaat, bukan saja bagi Nahdlatul Ulama dan seluruh warganya tetapi juga bagi negara, nusa, bangsa, agama dan bahkan untuk rahmatan lil ‘alamin: menjadi rahmat untuk alam semesta. Amin Ya Rabbal Alaamin. 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button