Ketika Khidmah Diuji: Autokritik untuk Pucuk Kepemimpinan NU

PERADABAN.ID – Pada pucuk kepemimpinan Nahdlatul Ulama hari ini, kita sedang diuji oleh kedewasaan bersama: sejauh mana kita mampu menerima kenyataan bahwa NU telah tumbuh menjadi rumah besar, rumah umat, rumah peradaban. Ketika NU membesar, wajar bila banyak yang ingin berkhidmat. Namun justru di titik inilah niat dan cara diuji.
Berkhidmat adalah jalan mulia, bahkan bernilai ibadah. Tetapi kemuliaan itu dapat terciderai ketika khidmat berubah menjadi kompetisi, dan niat berjuang bergeser menjadi klaim kebenaran diri. Ketika seseorang merasa paling layak, paling benar, atau paling berjasa atas nama NU, saat itulah khidmat kehilangan ruhnya.
NU tidak dibangun oleh satu tokoh, satu generasi, atau satu kelompok. NU lahir dari ketulusan para kiai, dari kesabaran para santri, dan dari keikhlasan warga yang rela bekerja tanpa panggung dan tanpa tepuk tangan. Jika hari ini kita saling menegaskan kehebatan masing-masing, sesungguhnya kita sedang menjauh dari warisan akhlak para pendiri NU.
Baca Juga Gus Yahya Melanggar Syaraʿ?
NU adalah rumah besar. Rumah besar tidak boleh dirusak oleh suara gaduh dari dalamnya sendiri. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan, tetapi adab dalam menyikapinya adalah kewajiban. Kritik boleh, bahkan perlu, namun harus dilandasi cinta, bukan ambisi. Perjuangan boleh beragam jalan, tetapi tujuannya harus tetap satu: menjaga maslahat umat dan marwah jam’iyah.
Autokritik ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa di NU, yang lebih utama bukan siapa yang tampil paling depan, melainkan siapa yang paling ikhlas menjaga dari dalam.
Sudah saatnya kita kembali bertanya pada diri sendiri: apakah langkah kita sedang memperbesar NU, atau justru memperbesar ego kita atas nama NU. Sebab NU akan tetap hidup tanpa kita, tetapi kehormatan kita ditentukan oleh bagaimana kita berkhidmat di dalamnya.
Baca Juga Belajar dari Gus Dur: Ujian Sang Murid di Pemerintahan NU
NU adalah rumah bersama. Ia hanya akan kokoh jika dijaga dengan kedewasaan, dirawat dengan akhlak, dan disatukan oleh keikhlasan.
Lanjutkan perjuangan dalam berkhidmat dan Semoga kita tidak hanya pandai mengatasnamakan NU, tetapi juga sanggup menjaga marwahnya dengan kedewasaan dan cinta..
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Oleh: A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. | Penulis adalah Mahasiswa Program Magister FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes.



