Bagikan 3 Pesan kepada Sahabat Stokis, Bang Ketum Addin: Saya Dulu Jualan Telor, Jangan Gengsi

PERADABAN.ID – Nasib nahas pernah menimpa Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Bang Ketum Addin Jauharudin saat melakoni bisnis. Sebagai mantan Ketua Umum PB PMII, ia sempat berjualan telor menggunakan mobil pribadinya.
“Kurang gagah apa saya dulu, mantan Ketua Umum PB PMII. Jualan telor Saya,” selorohnya di depan peserta Pelatihan Sahabat Stokis di Asta Cita Center Jakarta, Sabtu (8/2).
“Sampai suatu ketika, dulu saya punya mobil grand livina. Saya tiap hari bolak-balik itu ngangkut telor pakai grand livina. Muatlah kira-kira 12 peti sampai 20 peti, tergantung,” lanjutnya.
Pernah di suatu hari, Bang Ketum melanjutkan, mobil yang membawa puluhan peti telur melewati suatu jalanan yang menanjak. Sayangnya, saat melewati tanjakan, peti telur di dalam mobilnya tidak tertata full dan pintu belakang tidak tertutup rapat.
“Telornya bergelinding semuanya. Habis itu jalan sama telor Saya. Datanglah ibu-ibu bawa kresek macem-macem ngambil-ngambilin telor. Untung gak ada yang kenal waktu itu,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Baca juga:
- Implementasikan Asta Cita Bidang Ekonomi, Pelaku Ansor Stokis Bandung-Jabodetabek Bakal Dapat Pelatihan
- Kejahatan Keuangan Hambat Kemajuan Ekonomi, GP Ansor: Perlu Kerja Elaboratif
3 Pesan Bang Ketum
Cerita di atas tidak hanya berisi kenahasan bagi Bang Ketum Addin. Akan tetapi, mengajarkan kita agar meninggalkan ego dan mengesampingkan gaya hidup saat menjalankan bisnis.
“Kuncinya adalah satu, buang gaya hidup yang neko-neko. Pebisnis tidak butuh dihormati berlebihan. Orang yang membenci dan yang menghormati itu sama. Kita jalankan aja hubungan baik segala macam,” pesan Bang Ketum.
Pria kelahiran Cirebon tersebut juga mencontohkan, sahabat-sahabat Ansor yang menjabat di kepengurusan GP Ansor untuk membuang semua atribusi yang menempel pada dirinya. Tidak diperbolehkan, sekalipun ia adalah seorang pimpinan, ketua, menjadi narasumber di mana-mana, merasa gengsi saat menjadi para Stokis.
“Jadi buang gengsi seperti itu ya,” imbuhnya.
Pesan yang kedua, adalah menjaga penampilan sehingga para konsumen merasa tertarik dan nyaman. Salah satunya adalah dengan ramah, murah senyum, sopan, dan santun,
Bang Ketum menamsilkan kejadian masa lampau yang membuatnya kehilangan dompet saat menaiki transportasi publik.
“Tau gak dulu waktu musim kopaja, metro mini. Dulu saya ingat betul, ada empat orang perlente, ada yang bawa map dan segala macam. Duduk di depan belakang segala macam, tiba-tiba dompet sudah hilang semua. Rupanya yang rapi-rapi ini pencopet semua. Kita pun terpukau. Begitu turun dompet mana ya?” kisah Bang Ketum.
“Jadi tampilan pertama harus meyakinkan, sopan santun, salam senyum sapa, resik, bersih. Itu menentukan,” lanjutnya.
Sementara yang terakhir, Bang Ketum Addin meminta agar pelaku Stokis bisa detail dan hemat. Setiap pengelolaan, mulai dari pengeluaran hingga pendapatan, harus dihitung dengan betul-betul. Maka menurutnya, perlu dibedakan dengan berbuat kedermawanan saat menjalankan bisnis.
“Yang ketiga harus detail, kemudian harus hemat. Soal keluar mau nyumbang masjid itu pisahkan. Mudah-mudahan,” pungkasnya.



