Opini

Akar Tradisi dan Pemberdayaan Teologis Keluarga

PERADABAN.ID – Sebuah tradisi dalam komunitas tertentu, tidak mungkin hanya menjadi ruang kreativitas, perilaku, atau keseharian yang diulang-ulang. Tradisi dalam sebuah komunitas, bisa menjadi nilai.

Tidak terkecuali bagi organisasi Nahdltul Ulama (NU). Organisasi yang berdiri sejak 1926 ini mempunyai tradisi yang sangat luas. Tahlilan, ziarah kubur, maulid Nabi dan seterusnya.

Pertama, perkumpulan warga dalam lingkungan masyarakat pada umumnya, menjadi identitas dari realitas kebangsaan. Mereka cenderung mempunyai sensitivitas untuk selalu hidup secara komunal.

Tahlil, ziarah kubur atau maulid nabi, pada akhirnya menjadi perluasan komunalitas itu tumbuh dan terjaga. Hanya saja, ada tarikan dialektis dengan nilai-nilai teologis. Dalam perkumpulan itu ada doa-doa yang dipanjatkan, ada keluhuran permintaan yang digaungkan bersama-sama kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Baca juga:

Tak luput, setelah bingkai doa itu dipanjatkan, mereka melakukan komunikasi dengan tema yang bervariasi. Tidak melulu tentang hal-hal rumit, tetapi pengalaman sehari-hari.

Kerap ini digadang sebagai akulturasi, perkawinan budaya dan agama. Pertemuan yang merekatkan antara agama dan budaya, sehingga kutub agama dan budaya tidak mengalami ketegangan nilai. Keduanya seperti duduk berbarengan dalam satu atap yang saling diinginkan.

Tidak terkecuali, ada perilaku ekonomi di dalamnya. Seperti hidangan-hidangan atau sajian setelah proses tahlil dan perayaan maulid nabi, atau saat ziarah meskipun hanya sekadar membeli es jeruk di sekitaran pusara, adalah bentuk kehidupan ekonomi tumbuh.

Tradisi ini, jika ditarik dalam lingkup yang lebih kecil, seperti keluarga, mempunyai peran pemberdayaan yang sangat luar biasa besarnya. Bagi keluarga, ini menjadi referensi membangun pemberdayaan; untuk selalu mengedepankan kebersamaan, dan tentu penarikan nilai-nilai teologis.

Baca juga: Kiai Cholil Bisri, Bicara dengan Nurani

Belakangan, yang luput adalah norma teologis dalam sebuah keluarga. Padahal ini mempunyai sejarah yang cukup panjang, sebelum semuanya berprasangka, bahwa pemberdayaan hanya berkaitan dengan ekonomi.

Artinya, dalam konteks pemberdayaan, tidak antara salah satunya dikerjakan dan lainnya ditinggalkan. Tetapi bagaimana mengintegrasikan keduanya. Sebuah pemberdayaan, kudu mengakrabkan antara nilai teologis dan ekonomi. Dan NU melalui tradisinya, sudah mencontohkannya.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button