Cuplikan

PERADABAN.ID – Cuplikan atau dalam bahasa yang lain biasa disebut quote (terdengar lebih Jakselian). Rasanya tiada hari tanpa kehadiran tulisan-tulisan pendek berisi pesan.
Akun-akun itu kadang kelewat batas menyebarkan dan berkeyakinan bahwa informasi dalam bentuk itu sudah benar sekaligus tepat. Caption-nya pun tak kalah menterengnya.
Kurang sempurna apabila kita-kita yang modern ini melewatkannya. Bahkan, kerap dijadikan ‘jimat’ saat terpojok kalah berdebat, atau sebatas penguat diri dan afirmasi terhadap rentetan peristiwa yang menimpa, syukur-syukur peristiwa yang sedih dan penuh derap derita. Cuplikan adalah ‘rukun iman’ masyarakat modern.
Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
Cuplikan kemudian menjelma menjadi selubung irasionalitas tindakan, pun kepincangan. Bagaimana mungkin, dipadankan kerugian seorang putri konglomerat media dengan kerugian usaha yang menimpa kelompok jajanan gorengan. Seolah-olah keduanya bisa bangkit dengan alas modal yang sudah kita tau jompang.
Tak habis pikir juga, tetiba hanya berdasar gambar yang terfragmen jadi dua bagian, satunya sarung satunya celana cingkrang, kemudian seorang kawan yakin berkata; ‘kan, sarung tidak ada di jaman nabi’.
Lalu marah saya bergumam, sumber yang kamu jadikan referensi untuk mengatakan kalimat di atas, tidak ada di jaman nabi.
Baca Juga Gus Yahya, Sarung dan Citayam Fashion Week
Lama-lama cuplikan bisa sangat jahat adanya. Sebab sebagian banyak dari kita merasa terwakili akan keberadaanya, padahal yang berkewajiban mewakili dari semua hak yang kita punya adalah politisi senayan. Eh sebentar, nyatanya juga mereka gandrung menyampaikan cuplikan.
Juga ada yang merasa lebih hebat karenanya. Mungkin akan tampak lebih keren lagi kalau cuplikan-cuplikan yang ia kumpulkan dalam saku dan pikiran, ia lontarkan ulang kepada yang lain. Jadi bagaimana?
Suatu ketika tepat di hari Jumat, seorang khotib maju dan menyampaikan pesan keagamaan tanpa teks. Penampilan ini membuat seorang ustadz yang kebetulan akan mengisi di pekan berikutnya tak ingin kalah.
Betul-betul disiapkannya dalil-dalil dan materi saat dirinya akan mengisi khotbah. Sungguh, materi dan dalil yang jarang terdengar itu membuat pengkhotbah tanpa teks menjadi lesu.
Tiba pada doa khotbah kedua dibacakan, tampak si ustadz bersikap aneh. Ia seperti mencari-cari sesuatu yang sudah disiapkannya sedemikian rupa. Tapi ketika saat hari itu dibutuhkan, barangnya tidak terwujud.
Sikap aneh ini ditangkap pada jamaah yang lain. Mereka bertanya-tanya dan geli. Kendati ditahannya sedemikian rupa, agar ibadahnya berjalan lancar tidak runyam.
Baca Juga:
Singkat cerita, kertas itu akhirnya ketemu diselipan saku bajunya. Mimiknya kentara jengkel. Kejengkelan itu kemudian terwakili dari kosakata mulut yang tak pantas dalam ibadah jumat untuk diucapkan.
“Asssuuu …..” terdengar di telinga jamaah; sang ustadz lupa mematikan mikropon yang tepat menadah di bawa mulutnya. Mungkin kalimat yang akan dibacanya itu adalah ‘ibaadallaah, innallaaha ya’muru bil’adli wal ihsan … dan seterusnya’.
Dan nukilan di atas, saya ambil dari artikel berjudul Nahas Mulut. Tepat 2010 KH Yahya Cholil Staquf mempublikasikannya. Saya pun, ternyata tidak bisa luput dari hal cuplik-mencuplik ini. Pendek kata, saya pun sama dengan yang lainnya; tentang cuplikan dan segala irasionalitasnya.




2 Comments