Dari Mahbub sampai Gus Yahya

PERADABAN.ID – Mahbub Djunaedi, Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), salah satu kepiawaiannya adalah menulis, sekaligus pejuang dan pemikir. Gus Dur mengafirmasi ini.
Gus Dur salah satu sahabatnya, kendati Mahbub kerap dipanggilnya kakak oleh Gus Dur – Kak Abu. Keduanya tidak sekadar terlibat dalam ruang yang melulu berbarengan, tetapi kadang bertolak belakang. Saya ke kanan, dia ke kiri, suatu ketika Gus Dur mengatakan demikian saat tulisannya tentang Islam Filipina, ditanggapi Mahbub.
Tidak hanya itu, Khittah 1926 NU oleh keduanya ditafsiri berbeda. Jika Gus Dur tidak ada embel-embel, Mahbub menambahi plus. Banyak peristiwa lainyang menyiratkan keduanya terlibat dalam perdebatan yang berujung berbeda, tidak terkecuali saat Mahbub mengatakan bahwa tidak cocok pesantren disebut sebagai subkultur karena lebih mirip kalangan hippies di Barat.
Pemikiran Mahbub, kesaksian Gus Dur, mempunyai orientasi masa depan. Saat Orde Lama, Mahbub sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan sistem politik kelak yang akan terjadi, dan jadilah Orde Baru. Dan tak heran apabila, ada kehendak mau Mahbub Mahbub baru.
Hakikatnya, Mahbub Mahbub baru itu akan bersemayam di batang-batang kampus; di taman, pojok kantin, ruang seminar dan lainnya. Di situ PMII ada, mustinya Mahbub juga hidup di situ. Dia bersemayam dan menyelinap dalam nilai-nilai, serta bergerak dalam pemikiran-pemikiran penerusnya. Apabila tak menyelinap di atara keduanya, minimal ada di kaos-kaos mahasiswa – selemah-lemahnya mengenang sosok pemikir seperti Mahbub.
Baca Juga Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru
Bicara soal kampus, saya teringat kutipan Mahbub yang itu diabadikan oleh sahabat saya Ferhadz; ada satu sebutan yang dijauhi rektor seperti penduduk kampung menjauhi muntaber: politikus. Tak ada itu politik-politikan karena yang tersedia cuma ilmiah-ilmiahan. Jika politik itu jalan besar, universitas akan bikin jembatan penyebarangan melintasi kepalanya, kaum kampus berpikir ilmiah, kaum politik berpikir entah cara apa, itu pun kalau boleh disebut berpikir. Pencemaran harus dicegah mulai dini, karena itu sebaiknya kampus hanya diberi air susu ibu.
Dari tulisan berjudul 57 Tahun Intelektualisme PMII, Ferhadz menjembatani saya ke tiga pemikir kondang sekaligus, mulai Kiai Wahid Hasyim, Kiai As’ad sampai ke Antonio Gramsci.
Dalam bingkai koherensi tiga pemikir di atas, PMII sebenarnya tidak boleh pasif dalam situasi masyarakat yang terkapar. Jika aktivismenya hanya berorientasi pragmatis, atau sekadar romantisme belaka, maka nalarnya memang sudah tumpul atau sama sekali tak bernalar.
Ilustrasi di atas, setidaknya sudah tergambar bagaimana aktivisme PMII itu di kampus, mulai dari realitas dan yang seharusnya. Mulai dari sosok yang musti diprasastikan pemikiran-pemikirannya. Diperas peluh juangnya. Minimal untuk merenungi apa yang mustinya dilakukan hari ini, terlebih juga bisa membangun rencana-rencana ke depan.
Baca Juga Menjauh dari Polemik Pra-Modern
Dan sebenarnya, inilah juga yang kemudian membuat saya teringat saat Ketum PBNU yang sekarang, Gus Yahya, mendefinisikan PMII sebagai wahana dan instrumen membangkitkan listrik intelektualisme NU. Tidak hanya menjadi penumpang kapal akademis, melainkan juga menjadi nahkodanya. Tidak hanya menjadi pakar kesarjanaan, tapi juga menjadi ahli solusi permasalahan.
Tidak melulu menginginkan atau halu terlibat sebagai kaum politik yang menurut Mahbub, berpikir entah cara apa, itu pun kalau boleh disebut berpikir. Tetapi, terlibat dalam berbagai jaringan kepemimpinan masyarakat yang strategis, kata Gus Yahya.




2 Comments