
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau yang akrab disapa Gus Men menegaskan bahwa penetapan Hari Santri Nasional (HSN) merupakan bentuk penghargaan sekaligus anugerah dari pemerintah kepada kalangan santri. Karena itu, menurutnya, penghormatan tersebut harus dijaga dan diperjuangkan dengan karya nyata serta prestasi, bukan sekadar seremoni tahunan.
Pesan tersebut disampaikan Gus Men saat meluncurkan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional. Ia mengingatkan bahwa pengakuan negara terhadap jasa santri lahir dari sejarah panjang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, seluruh santri diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan zaman melalui pendidikan, inovasi, dan kontribusi bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Gus Men menegaskan bahwa Hari Santri bukanlah hak yang diperoleh begitu saja. Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri merupakan bentuk penghargaan pemerintah atas jasa para santri yang turut mempertaruhkan jiwa dan raga dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.
Menurutnya, pemerintah melalui keputusan presiden telah memberikan pengakuan resmi terhadap kontribusi historis kalangan pesantren dan santri. Oleh sebab itu, momentum Hari Santri harus dimaknai sebagai amanah untuk terus memberikan manfaat bagi bangsa.
“Hari Santri adalah pemberian, anugerah, penghargaan dari pemerintah kepada para santri atas perjuangan mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujar Gus Men dalam peluncuran peringatan Hari Santri.
Ia menekankan bahwa penghargaan tersebut tidak boleh membuat santri merasa paling istimewa, melainkan menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama mengajak seluruh santri untuk menjawab berbagai bentuk prasangka maupun pandangan negatif terhadap pesantren dengan prestasi.
Menurutnya, kebencian atau sikap merendahkan tidak seharusnya dibalas dengan kebencian serupa. Jalan terbaik adalah menunjukkan kemampuan melalui pendidikan, karya, serta kontribusi nyata di berbagai bidang kehidupan.
Gus Men mengatakan bahwa santri memiliki potensi besar untuk tampil sebagai generasi unggul apabila terus belajar dengan sungguh-sungguh dan mampu membangun kompetensi sesuai perkembangan zaman.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat pembangunan sumber daya manusia yang menjadi salah satu fokus pemerintah melalui sektor pendidikan keagamaan.
Selain menekankan pentingnya prestasi akademik, Gus Men juga mengajak santri memperluas peran di bidang sosial, ekonomi, teknologi, hingga kewirausahaan.
Menurutnya, perkembangan dunia menuntut lulusan pesantren tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir juga menjalankan sejumlah program penguatan pesantren, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan hingga program kemandirian ekonomi pesantren sebagai bagian dari pengembangan ekosistem pendidikan Islam.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga melahirkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing.
Hari Santri selama ini diperingati setiap 22 Oktober sejak ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas peran ulama dan santri, termasuk melalui Resolusi Jihad yang menjadi salah satu tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Gus Men berharap peringatan Hari Santri tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Ia mengajak seluruh elemen pesantren menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat bahwa pengakuan negara harus dibalas dengan dedikasi, integritas, dan pencapaian yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Melalui semangat itu, santri diharapkan mampu terus menjaga nilai-nilai kebangsaan, memperkuat persatuan, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional.